Kue Adrem (Tol Pit)

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Bantul,Kabupaten paling ujung selatan Daerah Istimewa Yogyakarta atau orang biasa menyebutnya Jogja ini menyimpan sejuta gudang makanan yang enak dan tentu saja harganya pun merakyat.

Daya tarik destinasi wisatanya yang kian ngehits dan kekayaan kulinernya selalu bikin hati para penikmatnya kepincut, dan membuat Jogja semakin dikenal luas oleh masyarakat nusantara bahkan dunia.

Tidak hanya wisatawan local, turis dari seluruh penjuru dunia pun tak pernah ada bosannya untuk mengunjungi Jogja khususnya di kabupaten yang berjuluk ‘Bantul Projotamansari’ ini.

Salah satu makanan tradisional dari daerah Bantul yang mungkin sampai saat ini masih belum tereksplor oleh para penikmat kuliner yaitu kue adrem .

Kue adrem adalah merupakan salah satu makanan tradisional yang berasal dari kecamatan Sanden, kabupaten Bantul. Kue ini dibuat dengan bahan  baku utama tepung beras, kelapa parut, vanili dan gula jawa atau gula pasir.

Cara membuatnya yaitu Gula jawa atau gula pasir direbus bersama dengan kelapa parut kemudian tuangkan air putih kira-kiara 1 cangkir.

Campurkan bahan diatas, kemudian dipanaskan/dimasak sampai mengental dan warnanya berwarna cokelat agak kehitaman ( sampai juruhnya berbunyi cepluk-cepluk), lalu turunkan ditunggu sampai dingin.

Tepung beras diletakkan dalam baskom lalu campurkan dengan larutan gula dan kelapa (juruh) tadi, lalu di aduk sampai tercampur rata kira-kira sekitar 2 jam , kemudian campurkan vanili. Jika sudah menjadi adonan, panaskan minyak goreng.

Siapkan daun pisang diolesi dengan minyak goreng untuk membuat bulatan-bulatan adrem (bisa besar/kecil).  Adonan yang sudah menjadi bundar, digoreng lalu dijepit pakai bambu yang dibuat memanjang seperti lidi.

3 buah bambu yang berbentuk lidi digunakan untuk menjepit adrem supaya bagian atasnya berbentuk seperti cubitan.

Kemudian angkat adrem jika sudah kecoklatan (matang). Usahakan adrem agar tidak pecah saat digoreng.

Apabila digoreng masih pecah, adonan selanjutnya yang akan dibuat adrem mungkin bisa diaduk/diuleni kembali.

Ciri-ciri adrem yang jadi tidak pecah, didalamnya berisi adonan dan mengapung diatas minyak goreng lalu dijapit

Seiring dengan berjalannya waktu dan kian bertambahnya keberagaman jenis makanan, kue adrem ini semakin tenggelam kepopulerannya di generasi saat ini. Keberadaan kue ini pun semakin jarang dijumpai.

Saat ini kue adrem hanya bisa dijumpai di beberapa pasar tradisional di kabupaten bantul. Yaitu seperti di kecamatan Sanden, Srandakan, Pandak, dan Kretek.

Citarasa dari kue ini juga mengalami perubahan karena adanya perubahan bahan baku gula jawa yang diganti dengan gula pasir sehingga  mengurangi kelegitan rasanya.

Seakan tak mau kehilangan salah satu makanan tradisional yang ada sejak zaman penjajahan ini, para pembuat kue adrem pun mulai berinovasi untuk membuat kue ini semakin menarik dengan menambahkan pewarna makanan dan perasa makanan seperti hijau untuk rasa pandan, kuning untuk rasa nangka, agar tetap mempertahankan rasa asli kue tersebut pembuat kue adrem ini tetap membuat rasa gula jawa dengan warna yang khas kecoklatan tersebut.

Dan dalam pengemasannya pun mulai mengalami perubahan. Yang dahulu hanya dijajakan dengan anyaman daun pisang yang berbentuk bulat atau orang jawa biasa menyebutnya ‘tampah’ kemudian ditutupi dengan plastik lembaran, sekarang beralih dengan lebih  praktis yaitu dengan menggunakan mika dan sudah dibungkus dengan rapi dan lebih terjamin lagi kebersihannya.

Namun ketahanan kue adrem yang tidak tahan lama karena dalam pembuatannya tidak menggunakan bahan pengawet apapun, dan juga terbuat dari campuran kelapa parut, sampai saat ini adrem hanya bisa termasuk kedalam jajanan tradisional dan belum bisa dimasukkan kedalam daftar oleh-oleh khas dari Kabupaten Bantul seperti peyek tumpuk dan geplak yang sudah lebih dahulu menjadi oleh-oleh khas dari Kabupaten Bantul.

(Red/Penulis:Melan Sri Wulandari/Pendidikan Guru Sekolah Dasar/Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa,Yogyakarta.)

Share this Post :