“PUTHUL BACEM” MENU EKSTRIM ALA GUNUNGKIDUL

KORANBOGOR.com, Yogyakarta – Gunungkidul merupakan salah satu daerah yang berada di D. I. Yogyakarta. Daerah yang terkenal memiliki panorama alam dengan sejuta pesona. Eksotisme objek wisata yang membuat kita ingin kembali untuk menyapa dan menapakkan kaki ke sana lagi. Bukan hanya objek wisatanya saja yang memiliki daya tarik tinggi, namun dari sisi kuliner, Gunungkidul juga menyajikan menu-menu ekstrim yang siap menggoyangkan lidah dengan petualangan rasa yang lezat dan nancap.

Puthul bacem yakni salah satu menu ekstrim khas Gunungkidul yang tak kalah hits pada musimnya. Mungkin sebagian dari anda ada yang sudah mengenal, tetapi kemungkinan ada juga yang belum. Puthul atau Phillophaga hellery adalah salah satu jenis serangga yang merupakan famili Scarabaeidae sub famili Melolonthinae dari ordo Coleoptera. Penyuluh Pertanian Gunungkidul Budi Kuncoro mengatakan, Puthul mempunyai metamorphosis yang sempurna, yaitu dari telur, larva (uret), kepompong, dan serangga dewasa atau Puthul.

Sumber :

http://petir-rongkop.desa.id/assets/files/artikel/sedang_1508991270puthul.jpg

Di awal musim penghujan, hewan yang memiliki panjang 1.2 – 1.4 cm ini akan keluar sore hari menjelang maghrib antara pukul 17.30 – 20.00 WIB. Hanya dengan berbekal kantong plastik atau bekas botol air mineral dan penenrangan seperti senter atau obor, gerilya pemburuan (menyuluh) puthul pun siap dilaksanakan. Pada saat sore menjelang maghrib, puthul-puthul tersebut akan keluar, terbang dan menempel pada dedaunan dan ranting-ranting tanaman sembari mencari pasangan untuk kawin. Budi Kuncoro mengatakan bahwa pada musim penghujan pertama, merupakan saat pesta pora bagi puthul untuk melakukan musim kawin, setelah itu meletakkan telurnya pada tanah-tanah yang gembur. Umumnya umur puthul kurang lebih 30 hari.

Puthul si hewan malam yang satu ini  merupakan salah satu kuliner ekstrim di Gunungkidul. Kandungan protein pada hewan ini tergolong tinggi. Tak heran jika banyak orang yang memburunya, baik dijadikan makanan maupun dijadikan pundi-pundi rupiah. Tidak tanggung-tanggung ¼ kg puthul mentah bisa dipatok dengan harga Rp 25.000, karena memang hewan ini tidak bisa ditemukan tiap hari dan hanya bersifat musiman.

Untuk cara memasaknya pun terbilang mudah. Setelah hewan ini terkumpul maka sudah siaplah untuk dijadikan makanan. Sebelum proses pemasakan dilaksanakan, puthul-puthul tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih supaya mati dan bulu yang ada di tubuhnya terlepas. Setelah proses tersebut puthul siap diolah sesuai selera penikmatnya, bisa digoreng ataupun dibacem.   Dengan rasanya yang renyah-renyah mak nyus, menu ekstrim yang satu ini sering dijadikan sebagai lauk alternatif, bahkan ada juga yang hanya dijadikan sebagai cemilan. Namun apabila alergi dan sensitif dengan puthul, karena memang belum pernah atau belum terbiasa mengonsumsi, tentunya akan mengalami gatal-gatal pada kulit (Bidhuren). Bagi sebagian masyarakat di Saptosari puthul goreng akan terasa lebih nikmat bila disantap dengan thiwul dan sambal bawang yang merupakan makanan khas dan ikon Kabupaten Gunungkidul. (red / Penulis : Rusyana Endah Meilani )

Share this Post :