Kepala Mekanik Valentino Rossi Ungkap Masalah Motor Yamaha

KORANBOGOR.COM, HAMAMATSU – Yamaha terus mengatasi masalah demi masalah yang membuat mereka terpuruk di MotoGP musim lalu. Terbaru, muncul dari kepala mekanik Valentino Rossi, Silvano Galbussera. Perihal kegagalan memaksimalkan potensi elektronik, terutama ECU dari Magneti Marelli adalah yang terbesar.

Sejak dimulainya era baru regulasi teknis MotoGP, yakni pergantian ban dari Bridgestone ke Michelin, serta penyeragaman ECU sejak 2016, tahun lalu adalah musim terburuk bagi Yamaha. Jumlah kemenangannya dalam satu musim anjlok sampai 50 persen. Tahun lalu, hanya empat kemenangan diraih. Tiga kemenangan dari tangan Maverick Vinales dan satu lainnya disumbang Rossi.

Bukan berarti Yamaha YZR-M1 menjadi motor yang buruk. Tapi lebih kepada kesulitan beradaptasi dengan sistem kontrol elektronik (ECU) yang diproduksi pabrikan Italia Magneti Marelli. Tahun lalu, M1 begitu menderita saat memasuki tikungan dan tengah tikungan. Mereka juga kehilangan cengkeraman mekanik dan elektronik saat berakselerasi.

Meski salah satu fokus Yamaha adalah berupaya menemukan spesifikasi rangka yang pas demi bisa tampil stabil di trek basah, Galbussera percaya pekerjaan terbesar pabrikan berlogo garpu tala itu adalah sisi elektronik. Menurutnya, para insinyur di pabrikan Yamaha harus segera memecahkan rahasia di dalam peranti lunak ECU Magneti Marelli, seperti halnya Ducati dan Honda.

”Ducati sudah bekerja bersama Magneti Marelli bertahun-tahun. Sementara HRC (Honda Racing Corporation) merekrut seorang ahli elektronik yang pernah bekerja di Ducati dan juga Magneti Marelli tahun lalu. Orang-orang inilah yang mengerti semua hal tentang sistem elektronik ini. Jadi mereka lebih mudah menemukan setingan motor yang pas,” ungkap Galbussera.

Menurutnya, Yamaha tidak melakukan hal yang sama dengan Honda, karena sudah tidak tersedia lagi insinyur ahli elektronik yang memiliki pengalaman dan kemampuan yang sama. Dengan begitu, Yamaha harus bekerja mandiri dan lebih keras untuk menemukan potensi di dalam ECU baru tersebut.

Akar masalah yang ditimbulkan dari ECU baru tersebut sejatinya sudah ditemukan Yamaha pada 2016. Yakni ketika M1 terlalu membebani ban belakang saat berakselerasi. Akibatnya setelah 5-6 lap balapan, ban belakang sudah mulai tandas.

Berbagai perombakan rangka sudah dilakukan agar ban belakang tidak cepat habis. Hasilnya tetap tidak memuaskan. ”Yamaha harus menemukan itu, karena kami butuh akselerasi tanpa menggerus permukaan ban belakang,” tandasnya. (red)

Share this Post :