Penampungan Tidak Resmi Digrebek , Ditpolairud Polda Riau Amankan 17 TKI Ilegal

Foto: Direktur Polair Polda Kepri, Kombes Teddy Jhon Sahala Marbun (kiri) dan Kabid Humas Polda Kepri Kombes Erlangga dalam ekspos di Mapolda Kepri Senin (8/1) .

KORANBOGOR.com,BATAM-Tim Lidik Subditgakum Ditpolairud Polda Kepri berhasil mengamankan 17 calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal yang akan diberangkatkan ke Malaysia.

Dalam ekspos yang dilakukan di Mapolda Kepri, Nongsa, Batam pada Senin (8/1)diungkapkan, ke-17 TKI ilegal ini ditangkap secara terpisah.

Direktur Polair Polda Kepri, Kombes Teddy Jhon Sahala Marbun mengatakan, lima TKI berhasil diamankan ketika akan berangkat ke Malaysia dengan jalur laut melalui Pelabuhan Internasional Batam Centre.

Sementara 12 TKI lain ditangkap ketika tim Ditpolairud melakukan penggeledahan ruko Glory View, Batam Centre, Batam, sebagai tempat penampungan sebelum mereka diamankan. Satu orang tersangka atas nama Jefrianto bin Busalman berhasil ditangkap dalam operasi ini. Dari keterangan yang dihimpun, diketahui bahwa, masih ada dua tersangka lain yang mengatur alur pengiriman TKI secara tidak resmi ini.

“Kita masih kembangkan, saudara Jefrianto ini hanya sebagai sopir. Dia mengangkut dari penampungan untuk diantar ke Malaysia. Di atasnya masih ada Amat dan Agus yang masih buron,” kata Teddy.

Dari pengakuan tersangaka, TKI ilegal ini diterbangkan dari Surabaya menuju Batam. Sebelum dikirim ke Malaysia melalui Batam, mereka ditempatkan di penampungan.

Di Batam sendiri, segala kelengkapan mereka telah disiapkan oleh jaringan penyalur TKI ilegal ini.

Adapun modus yang dilakukan, calon TKI ilegal ini menggunakan paspor pelancong, akan tetapi di Malaysia mereka malah bekerja. “Mereka berasal dari daerah di NTB, Madura, dan Surabaya.

Jadi segala kelengkapan mereka telah disiapkan, bahkan di Malaysia sudah ada jaringan yang akan mempekerjakan mereka secara ilegal” kata Teddy lagi.

Mengenai penampungan itu sendiri, Teddy mengaku masih terus melakukan pendalaman. Informasi yang ia dapat dari warga di kawasan penampungan tidak resmi ini, memang sudah lama aktivitas ini berlangsung.

Namun warga tidak menyadari kalau lokasi tersebut merupakan tempat penampungan TKI ilegal.

“Informasi dari ketua RT di sana memang sudah lama beroperasi, tapi tidak tahu itu penampungan ilegal” ungkap Teddy.

Selanjutnya Teddy menjelaskan, bahwa TKI ilegal yang berhasil diamankan saat ini telah diserahkan kepada BP3TKI di Tanjung Pinang. Dari mereka, diketahui bahwa selama bekerja di Malaysia, mereka dibayar dengan gaji sebesar RM1000 atau setara dengan Rp3 juta.

Jumlah ini diakui lebih besar jika mereka bekerja sebagai pembantu atau buruh kasar di Indonesia. “Mereka mengaku gaji bekerja di Malaysia lebih tinggi, jadi mereka tertarik, apalagi semua kelengkapan mereka sudah disiapkan” katanya lagi.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Kepri Kombes Erlangga mengungkapkan bahwa permasalahan TKI ilegal bukan kasus baru di Batam.

Perlu kerja sama banyak pihak agar masalah ini dapat teratasi dan tidak kembali terulang. Bukan hanya tugas Polri semata, perlu kerja sama Imigrasi, dan BNP2TKI yg memang mengurus masalah ini.

Berkaca dari kasus yang ada sebelumnya, yang paling dirugikan adalah masyarakat yang terkena rayuan untuk menjadi TKI ilegal itu sendiri.

“Bersama-sama kita bisa lakukan tindakan preventif untuk saudara-saudara kita sebelum mereka dikirim ke Malaysia” kata Erlangga.(Red)

Share this Post :