Kota Bogor Belum Siap Mencegah Kebakaran

KORANBOGOR.com,BOGOR-Tragedi kebakaran Kampung Gudang pada 25 Desember 2017 kemarin menyisakan trauma yang mendalam bagi masyarakat Kota Bogor.

Kejadian yang menghabiskan 33 rumah ini menyebabkan 62 KK atau sekitar 219 jiwa kehilangan harta benda dan tempat tinggal. Tak pelak, dalam sejarah operasional pemadam kebakaran di Kota Bogor dari 1975 hingga kini, peristiwa kebakaran ini adalah yang terbesar.

Kebakaran di Kampung Gudang yang menjelang akhir 2017 ini tentu menyisakan berbagai evaluasi dan pelajaran bagi pemerintah Kota Bogor tentang penanganan kebakaran di Kota Bogor.

Pada tahun 2017 ini, tercatat 95 kasus kebakaran terjadi di Kota Bogor. Dengan kasus terbanyak di terjadi di pemukiman padat penduduk. Mayoritas penyebab kebakaran disebabkan oleh konsleting listrik.

Ditemui di kantor pemadam kebakaran, Sukasari, Kabid Pemadam Kebakaran, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Marse saat ditemui koranbogor.com (4/1/18) menuturkan bahwa potensi kebakaran di Kota Bogor berkategori sedang – berat.

” Kalo di hitung berdasarkan luas daerah, kepadatan penduduk hingga frekuensi kejadian, Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Kota Bogor berkategori sedang – berat”, terang Marse.

Terkait lemahnya kinerja pemadam kebakaran tahun 2017, Marse mengakui hal ini disebabkan keterbatasan sumber daya (peralatan dan anggaran), personil (jumlah maupun training) hingga urusan kewenangan (manajemen dan regulasi).

” Kami berupaya memaksimalkan yang ada, tetap prinsipnya pelayanan kita kedepankan meski tidak dipungkiri ada banyak kekurangan dan keterbatasan”, ungkap Marse.

Di tahun 2018 sendiri bidang pemadam kebakaran mengupayakan beberapa kegiatan berdasarkan hasil evaluasi 2017 dalam rangka meningkatkan kinerja penanggulangan kebakaran.

“Tahun 2018 kita mengupayakan sosialisasi kepada masyarakat terutama di wilayah yang rawan kebakaran dengan konsep kerjasama dengan stakeholder setempat.

Selain itu kita ada program SKKL yang rencananya akan kami lakukan di 6 titik. Kami pun tengah mengkaji opsi pemanfaatan CSR dari perusahaan untuk portabel apar hingga hibah peralatan pemadam dari dua provinsi dan satu kementerian”, terang Marse.

Pasca kebakaran besar di Kampung Gudang, tidak sedikit masyarakat yang berkomentar soal kinerja pemadam kebakaran.

Ridwan (28) menilai, seharusnya kerja-kerja yang dilakukan damkar lebih kepada fungsi pencegahan bukan lagi penanganan. ” Kalo penanganan, hitungannya tetap terjadi kebakaran. Seharusnya selangkah lebih maju, harus sudah pencegahan “, pungkas Ridwan saat di hubungi koranbogor.com (7/1/18).

Ridwan menambahkan bahwa setiap orang pastinya tidak ingin terjadi musibah kebakaran. “Resiko pasti ada, tapi harus di minimalisir dan di antisipasi. Caranya ya harus di cegah sejak dini “, harap Ridwan. (jr)

Share this Post :