Danau Toba Sebagai Destinasi Wisata Unggulan

KORANBOGOR.com,MEDAN-Pada era kepemimpinan Bapak Presiden Jokowi, Danau Toba menjadi salah satu perhatian khusus yang akan dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan.

Selain karena keindahhan yang dimiliki Danau Toba, kebudayaan dan predikat sebagai Danau terbesar di Indonesia dapat menjadi daya tarik bagi Wisatawan domesitik maupun Wisatawan mancanegara.

Namun ketertarikan Wisatawan sering sekali terhambat karena Danau Toba masih terlihat kotor selain karena sampah, salah satu yang dapat merusak keindahan Danau Toba adalah banyaknya eceng gondok yang bertebaran.

Eceng gondok merupakan tumbuhan liar yang dapat tumbuh dengan cepat pada air yang memiliki kandungan nutrien yang tinggi, seperti protein dan karbohidrat.

Banyaknya eceng gondok pada Danau Toba dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem Danau, karena eceng gondok dapat menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam Danau, yang mengganggu kehidupan biota lainnya.

Para masyarakat pinggiran Danau Toba sebenarnya sudah berusaha untuk mengurangi keberadaan eceng gondok di Danau Toba dengan cara menggangkutnya dan memindahkan nya ke daratan, namun semua itu seperti hal yang sia-sia, karena tumbuhan eceng gondok akan tumbuh lagi dan akan mengotori Danau Toba.

Masyarakat sekitar pinggiran Danau Toba tidak sadar bahwa limbah domestik yang langsung mereka buang ke Danau Toba, dapat menyebabkan eutrifikasi.

Eutrifikasi adalah sebuah keadaan dimana sebuah lingkungan memiliki keberadaan nutrisi yang berlebihan, maka dengan berlebihnya nutrisi pada Danau Toba yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan eceng gondok yang tidak ada habisnya.

Dalam mengatasi masalah tersebut sangat diperlukan kesadaran masyarakat untuk tidak langsung mengalirkan limbah domestik mereka ke Danau Toba.

Namun sekarang pertanyaannya, kemana harus dialirkan limbah domestik dari masyarakat pinggiran Danau Toba?  Disini lah peran pemerintah sangat di perlukan dalam membangun instalasi pengolahan limbah domestik di sekitar pinggiran Danau Toba.

Sebenarnya sudah ada 1 tempat instalasi pengolahan limbah domestik di sekitaran pinggiran Danau Toba, namun itu belum cukup karena hanya 4 hotel yang terdaftar pada pengolahan limbah tersebut.

Penulis menyarankan bahwa dibangun instalasi pengolahan limbah domestik lainnya di setiap Desa, dan penulis menyarankan pengolahan limbah dengan  metode lumpur aktif  model SBR (sequencing batch reactor).

Lumpur aktif merupakan kumpulan mikroorganisme konsorsium aerobik yang digunakan untuk mengolah limbah cair yang mengandung konsentrasi bahan organik yang tinggi (Adonadaga, 2014).

Model ini dipilih karena dapat mereduksi protein, karbohidrat, BOD (biological oxygen demand) dan COD (chemical oxygen demand) dan memiliki biaya pembangunan yang murah dan mudah.

Kumpulan mikroorganisme konsorsium yang digunakan pada pengolahan limbah domestik ini termasuk dalam kelompok kemoheterotrop dan menggunakan bahan organik pada air limbah sebagai sumber karbon dan energi.

Microorganisme yang digunakan, Pseudomonas dan Arthrobacter merupakan bakteri pengurai bahan organik berupa karbohidrat kemudian menguraikannya menjadi karbon dioksida dan air.

Bacillus dan Flavobacterium merupakan bakteri pengurai protein menjadi ammonia, karbon dioksida dan air. Cytophaga merupakan bakteri yang berperan dalam pendegradasian polimer, sedangkan Zooglaea merupakan bakteri yang berperan dalam pembentukan flok dalam lumpur aktif.

Sphaerotilus merupakan bakteri yang menyebabkan proses bulking pada lumpur aktif. Nitrosomonas, Nitrobacter, Bacillus dan Pseudomonas berperan dalam proses nitrifikasi dan denitrifikasi, sedangkan Nocardia berperan dalam degradasi hidrokarbon (Shchegolkova, et al., 2016).

Menurut (NEIWPACC, 2005) ada 5 tahapan pengolahan limbah dengan model SBR, yaitu:  (1) pengisian air limbah ke dalam reaktor, (2) terjadinya reaksi di reaktor dengan mikroorganisme yang memiliki peran utama dalam menurunkan kadar bahan organik. (3) tahapan pengendapan, kadar bahan organik dan mikroorganisme diendapkan, (4) Dekantasi, merupakan pengaliran limbah yang telah di olah keluar dari reaktor, dan (5) pembuangan mikroorganisme dan sisa bahan organik yang lebih dikenal dengan lumpur aktif yang tadinya telah mengendap.

Dari penelitian yang dilakukan (Kader, 2009) pada limbah perkotaan diperoleh metode lumpur aktif dengan model SBR dapat mengurangi 97% – 98% BOD dan 96%-99% amonia.

Dari hal-hal kecil seperti ini akan dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat sekitar pinggiran Danau Toba. Dimana dengan kembali bersihnya Danau Toba akan menarik perhatian dari Wisatawan domestik maupun mancanegara dan tentunya akan meningkatkan perekonomian dari masyarakat.

Dengan demikian  diperlukan peranan dari pemerintah daerah untuk membuat sistem pengolahan air limbah domestik dan juga bantuan dari masyarakat sekitar pinggiran Danau Toba, untuk menjaga keindahan dari Danau Toba, karena ini merupakan kesempatan yang mungkin tidak bisa terulang kembali dimana Bapak Presiden Jokowi sangat mendukung segala kegiatan untuk menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata unggulan.

(Red./Penulis: Mario Apulizer Manurung/ Mahasiswa Institut Teknologi DEL )

Referensi : Adonadaga, M. G., 2014. Nutrient Removal Efficiency of Activated Sludge Plants Treating Industrial and Municipal Wastewater in Ghana. Journal of Environment Pollution and Human Health, Volume III, pp. 58-62.

Kader, A. M., 2009. Comparison Study Between Sequencing Batch Reactor and Conventional Activated Sludge by Using Simulation Mathematical Model. Egypt, Hurghada.

NEIWPACC, 2005. Sequencing Batch Reactor Design and Operational Considerations. New England, Manual.

Shchegolkova, N. M., Krasnov, G. S., Belova, A. A. & Dmitriev, A. A., 2016. Microbial Community Structure of Activated Sludge in Treatment Plants with Different Wastewater Compositions. Frontiers in Microbiology, Volume 7, p. 7:90. 

Share this Post :