Dampak Negatif Gadget Pada “Kids Jaman Now”

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Tidak dipungkiri lagi bahwa pada zaman modern ini pasti semua mengetahui apa itu Gadget. Tidaklah asing lagi bagi kita untuk mendengarnya. Karena hampir semua kalangan memilikinya. Entah dari yang harganya murah sampai harganya mahal semua hampir memilikinya.

Di zaman modern ini teknologi berkembang kian pesatnya. Teknologi diciptakan untuk mempermudah urusan manusia.

Berbagai macam jenis teknologi yang tidak terhitung jumlahnya dapat di jumpai pada zaman modern ini. Contoh teknologi yang di gunakan adalah televisi, telepon genggam, laptop, komputer, dan lain-lain.

Beberapa tahun yang lalu Gadget hanya di pakai oleh para pembisnis dari kalangan menengah ke atas. Alasan mereka menggunakan Gadget adalah untuk memudahkan bisnis mereka. Namun pada zaman sekarang, Gadget tidak hanya di pakai oleh kalangan pembisnis saja, tetapi banyak remaja bahkan anak-anakpun sudah memilikinya.

Djoyohadikusumo mengemukakan bahwa teknologi “sebagai suatu bidang yang berkaitan erat dengan ilmu sains dan ilmu kerekayasaan atau ilmu engineering. Dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya teknologi bisa disebut memiliki dua dimensi, yaitu dimensi engineering dan juga dimensi science. Kedua dimensi itu akan saling terkait selama perkembangan dan juga penciptaan dari sebuah teknologi, dan tidak bisa terpisahkan”.

“Gadget adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris yang mengartikan sebuah alat elektronik kecil dengan berbagai macam fungsi khusus.” (Osland,2013). “istilah gadget sebagai benda dengan karakteristik unik, memiliki sebuah unit dengan kinerja yang tinggi dan berhubungan dengan ukuran serta biaya” (Rayner, 1956)

Berbagai penelitian dari kedokteran maupun dunia dunia psikolog mengenai dampak Gadget telah dilakukan. Gadget memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia, demikian pula terhadap anak-anak.

Dari segi psikologis, masa kanak-kanak adalah masa keemasan dimana anak-anak belajar mengetahui apa yang belum diketahuinya.

Jika masa kanak-kanak sudah tercandu dan terkena dampak negatif oleh Gadget, maka perkembangan anakpun akan terhambat khususnya pada segi prestasi.

Dalam hal ini peran orang tua sangatlah penting untuk mengawasi anak agar tidak menggunakan gadget terlalu berlebihan. Jika digunakan dengan baik maka gadget akan bermanfaat bagi pembelajaran anak.

Namun jika penggunaannya tidak terkontrol maka pengaruh Gadget sangat berbahaya untuk kesehatan dan tumbuh kembang si kecil.

Dampak negatif dari penggunaan Gadget yang berlebihan bisa menyebabkan kecanduan, hambatan terhadap perkembangan, penyakit mental, gangguan tidur, paparan radiasi ,dll.

Paparan radiasi bisa mengakibatkan gangguan terhadap perkembangan otak dan system imun pada anak-anak. Penyakit mental yang di alami salah satunya adalah depresi, gangguan bipolar dan autis.

Sedangkan hambatan terhadap perkembangan bisa memicu keterlambatan pertumbuhan pada anak akibat anak jarang bergerak sehingga menghambat proses pertumbuhan.

Adapun dampak negatif dari lingkup kebudayaan dari adanya teknologi bisa menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai budaya asli bangsa kita.

Semakin lemahnya kewibawaan tradisi-tradisi yang ada di masyarakat, seperti lunturnya sikap ramah-tamah, gotong royong, dan sopan santun yang dipengaruhi oleh budaya barat, seperti perubahan cara berpakaian, pemakaian yang dicampur-campur Bahasa asing, serta pergaulan bebas.

Pola interaksi antar manusia yang berubah. Dengan adanya teknologi ini, banyak setiap rumah yang menggunakan Gadget tersebut. Sehingga mereka hanya berinteraksi melalui chatting.

Akhir-akhir ini, dunia bagaikan telah terserang fenomena selfie alias self portrait yaitu menangkap gambar diri sendiri atau beramai-ramai dengan teman menggunakan smart phone.

Seharusnya para orang tua lebih mengawasi anak-anaknya untuk menggunakan gadget yang tidak berlebihan. Karena dampak negative dari gadget tersebut sangatlah banyak dan bisa merusak generasi-generasi selanjutnya.

Solusi untuk mengurangi dampak negatif dari pengaruh Gadget yaitu batasi waktu anak usia di bawah 5 tahun, boleh-boleh saja diberi gadget. Tapi harus diperhatikan durasi pemakaiannya.

Misalnya, boleh bermain tapi hanya setengah jam dan hanya pada saat senggang. Contohnya, kenalkan gadget seminggu sekali, misalnya hari Sabtu atau Minggu. Lewat dari itu, ia harus tetap berinteraksi dengan orang lain.

Aplikasi yang boleh dibuka pun sebaiknya aplikasi yang lebih ke fitur pengenalan warna, bentuk, dan suara. Instal aplikasi yang mendidik bagi perkembangan anak, contohnya aplikasi belajar huruf atau aplikasi mengenal hewan-hewan sekitar.

(Red/Penulis:Tyas Intan Nur Aini dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.)

Share this Post :