Pesona Batik Patuk

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Digunung kidul terdapat  banyak wisata atau kebudayaan yang dikembangkan oleh masyarakat setempat. Gunung Kidul juga mempunyai sumber daya manusia yang diolah sendiri oleh pemuda setempat, salah satunya yaitu batik. Gunung Kidul mempunyai cirikhas batik walang, tetapi ada juga batik ciri khas dari salah satu kecamatan di Gunung Kidul yaitu batik amarilys puspat.

 Mungkin tidak asing lagi dengan nama amarilys, ya! Amarilys merupakan salah satu bunga tahunan yang tumbuh secara tidak sengaja di kebun milik salah satu warga di desa Duren, Salam, Patuk Gunung Kidul. Bunga ini tumbuh ketika musim hujan dan bunga ini sempat heboh dimedia sosial tahun lalu.

Bunga ini merupakan salah satu bunga icon dari kecamatan Patuk, walaupan bunga ini tumbuh dimana-mana. Bunga ini kemudian diberi nama Puspa Patuk (PusPat) oleh si empunya Haryo Ambar Suwardi.

Kemudian bunga tersebut dikembangkan oleh pemuda asal Trosari, Salam, Patuk, Gunung Kidul yang kemudian dikembangkan dengan cara membuat batik. Pembuat desain motif amarilys puspat, Hanafi Setyo Nugroho mengatakan perjalanan munculnya motif batik tersebut cukup panjang.

Hanafi memang mempunyai hobi mengoleksi kain batik sejak SMK, karena ketertarikannya degan batik ia berusaha mengoleksi kain batik khas dari suatu daerah. Sejak empat tahun yang lalu ia sudah berkeinginan untuk menciptakan batik, tetapi ia belum menemukan ide icon khas daerahnya.

Saat ia libur kerja awal tahun Januari lalu ia mendapatkan ide gagasan dari bunga amarilys yang kerap menjadiwisata tahunan oleh pemuda pemburu foto. Ia lantas menemui bapak camat patuk untuk menyampaikan ide gagasannya tersebut.

Mendapat respon serta dukungan ia pun mulai menggambar desain motif bunga amarilys disela pekerjaannya diperantauan. Desain demi desain mengalami revisi, beberapa kali pernah disampaikan untuk mengaitkan potensi daerah patuk.

Desain demi desain ia buat, setelah itu ia bisa menyelesaikan desain batik tersebut, desain batik tersebut tidak hanya bermotifkan bunga amarilys saja namun ada pelengkap pada bagian tumpal seperti padi, rembung bambu, dan sirih, semua memiliki arti tersendiri. “kata hanafi”.

Hanafi mengatakan filosofi-filosofi yang didesain oehnya seperti : Mengenai makna motif tumpal Bambu, Rebung dan Sirih ia paparkan, Rebung mengandug arti awal pertumbuhan bambu melambangkan proses kehidupan, sebagaimana manusia sebelum tumbuh menjadi besar terlebih dahulu dimulai dari proses awal/ kecil (tunas).

Perlu diingat lanjut Hanafi, saat tumbuh tinggi besar jangan melupakan hal kecil serta dari mana berasal. Percaya adanya roda kehidupan yang selalu berputar, terkadang di atas terkadang juga di bawah.

Motif tiga batang bambu, menurut Hanafi, tiga hal yag akan dihadapi setiap yang hidup yakni awal, tengah dan akhir. Layaknya perjalanan bambu, awal (tunas), tengah (pertumbuhan) dan akhir (mati). Manusia juga demikian, hendaknya selalu ingat bagian akhir supaya termotivasi selalu berbuat baik.

Motif tanaman sirih, tanaman ini membawa pesan kerukunan, meski hidup menempel pada media lain atau tumbuhan lain tetapi tidak menyerap makanan dari media sebagai tempat merambatnya.

Daunnya juga memiliki banyak manfaat terutama sebagai bahan obat tradisional. Dalam budaya jawa, pada pelaksanaan tradisi daun sirih juga menjadi syarat yang harus ada. Manusia semestinya juga demikian, bermanfaat bagi sekitarnya.

Tanaman baik bambu dan sirih banyak ditemui di wilayah Gunungkidul, bagi masyarakat tanaman bambu memiliki banyak manfaat dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya dibuat berbagai kerajinan anyaman, kipas, nampan/ tampah, tenggok, dan caping, dapat juga bermafaat sebagai pilar serta rangka atap rumah (usuk dan reng).

Sedangkan untuk motif Amarylis/ Puspat atau oleh masyarakat Patuk disebut Brambang Procot dibagi menjadi beberapa bagian, ada motif tiga kuntum bunga Amarylis besar yang jika ditarik ujugnya menyerupai garis segitiga sama kaki, bunga di bagian bawah kanan dan kiri bermotif sama diartikan sebagai manusia, sedangkan bunga yang berukuran lebih besar motif berbeda berada di bagian atas sebagai Tuhan Sang Pencipta, sehingga dua bunga yang lebih kecil tadi memiliki kedudukan sama dimata tuhan dilihat dari amal perbuatannya kepada sesama, dan bukan status sosialnya, entah kaya atau miskin.

Untuk motif tiga umbi/ bakal tunas bunga dibagian bawah mengandung maksud bahwa sehebat apapun manusia, layaknya bunga yang sudah mekar jangan lupa dari mana berasal, dari mana asal usulnya.

“Arsiran umbi dibuat menunjukkan simbol tanah (dalam ilmu gambar teknik bangunan). Hal ini dimaknai jika umbi ingin hidup maka membutuhkan media atau unsur tanah, sebagaimana manusia membutuhkan orang dan makhluk lain,” jelas dia.

Sambung Hanafi lagi, motif pelengkap enam akar dalam satu umbi memiliki makna 6 dusun yang berada di Desa Salam, yakni Trosari, Ngasemayu, Baran, Gunungmanuk, Salam dan Waduk. Diharapkan, 6 dusun yang ada saling gotong-royong menjunjung satu umbi tersebut, umbi diposisikan atau mewakili Desa Salam.

Motif pelengkap 11 biji padi dalam satu tangkai, artinya bahwa padi merupakan tanaman utama petani, di sekeliling tanaman Amarylis ini juga banyak terdapat kawasan pertanian masyarakat.

Jumlah bulir padi menunjukkan adanya 11 desa di Kecamatan Patuk, yaitu Semoyo, Pengkok, Beji, Bunder, Nglegi, Putat, Nglanggeran, Salam, Patuk, Ngoro-oro, dan Terbah. Sedangkan satu tangkai tersebut menunjukkan atau diartikan sebagai satu wilayah Kecamatan Patuk.

Kemudian mengenai motif pelengkap proses mekarnya bunga Amarylis yang diawali dari kucup, setengah mekar, mekar lalu layu. Hal ini menggambarkan siklus kehidupan manusia yang secara umum tumbuh dari kecil, dewasa, tua, lalu mati. Kehidupan ini hakekatnya hanya sebentar, sementara, serta tidak abadi. (Kandar)

Setelah desain batik telah disetujui oleh bapak camat patuk, kemudian hanafi menyerahkan desain tersbut kepada masyarakat untuk diproduksi. kemudian batik mulai dipasarkan lewat anggota anggota kelurahan kecamatan patuk.

Dan batik amarilys mulai diresmikan pada tanggal 22 agustus 2016. Sampai sekarang dengan batik yang selalu dikembangkan. Dan selalu memunculkan warna baru untuk batik amarilys tersebut.

(Red/Penulis: Meida Sutiyani,Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa(UST) ,  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) , prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Yogyakarta.

Share this Post :