38 Hotel Tutup,20 Ribu Pelaku Wisata Terimbas Corona

Hukum Nusantara

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Wabah Covid-19 memaksa 38 hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta tutup sejak awal April 2020. Dinas Pariwisata DIY pun terus mendata pelaku usaha pariwisata yang terdampak Covid-19 untuk dilaporkan ke Kementerian Pariwisata.

Ketua DPD Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) DIY Herryadi Baiin mengatakan kebanyakan hotel yang tutup karena minimnya tamu adalah hotel bintang tiga dan empat.

“Kami perkirakan jika kondisi masih seperti ini, hotel yang tutup dan merumahkan karyawannya akan bertambah. Jumlah hotel di DIY total mencapai 400-an,” ujar Baiin saat dihubungi Gatra.com, Minggu (5/4).

Baiin menyebut manajemen hotel tetap memberi gaji karyawan yang ‘dirumahkan’, tapi nilainya 50 – 75 persen dari gaji bulanan mereka. Sejumlah hotel memang tetap buka dan melakukan banting harga, tapi tingkat keterisian hotel-hotel tersebut hanya tiga – lima kamar.

Melalui IHGMA, Baiin mengatakan, manajemen hotel berharap pemerintah segera merealisasikan bantuan yang dijanjikan.

Selain penundaan dan potongan pajak penghasilan, beberapa iuran wajib yang dinilai membebani perusahaan di saat krisis ini juga diharapkan ditunda.

“Seperti BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan jaminan hari tua, kami minta untuk dibantu oleh pemerintah atau diperkenankan ditunda dahulu sampai kondisi normal. Jika ini terealisasi, maka pengeluaran hotel maupun karyawan akan terbantu,” katanya.

Menurut Baiin, hotel memang diprediksi masih sepi sampai Juni nanti. Namun ia berharap hotel di DIY selama Lebaran bisa mendapat tamu terutama dari kalangan pemudik. Keputusan Pemda DIY untuk tidak melarang pemudik, kata dia, patut diapresiasi.

“Namun semuanya tergantung dari Jakarta, sebab market terbesar DIY berasal dari sana. Tapi kebijakan tidak menutup DIY dari pemudik bisa menjadi satu titik terang bagi kami di perhotelan,” ucapnya.

Menurut dia, sebelum masuk DIY, pemudik tetap harus diperiksa kesehatannya secara ketat untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Jika memungkinkan, setiap pemudik diwajibkan membawa surat pernyataan sehat sehingga tidak membuat khawatir pegawai hotel dan warga DIY.

Pada Sabtu (4/4) pukul 19.00-21.00 WIB, sebanyak 67 hotel menghidupkan lampu beberapa kamar hotel yang membentuk tanda cinta.

Aksi bertajuk “From Jogja With Love” ini sebagai simbol empati, semangat kebersamaan, dan harapan agar pariwisata DIY segera kembali menapaki babak baru dalam menghadapi Covid-19.

“Ini bentuk penyampaian optimisme para pelaku dan pegiat pariwisata, utamanya dari dunia perhotelan dan menggairahkan kembali roda pariwisata DIY,” kata Baiin.

Menanggapi keluhan kalangan perhotelan, Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo berkata pihaknya telah melakukan dua langkah. Pertama, menjembatani pelaku pariwisata terutama perhotelan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan relaksasi kredit.

Kedua, mendorong pemerintah daerah membebaskan atau menunda berbagai pajak seperti pajak hiburan dan restoran, air, limbah, termasuk pajak bumi dan bangunan.

“Kami mendorong Pemkot Yogyakarta dan Pemda Sleman membantu, karena kebanyakan hotel berdomisili di sana,” ucapnya.

Sampai saat ini, Dinas Pariwisata DIY mencatat sekitar 20.000 orang pelaku pariwisata di DIY terkena dampak sepinya wisatawan akibat Covid-19.

Data ini terus diperbarui dan akan disampaikan ke Kemenpar untuk dibantu mendapat bantuan pemerintah.

“Mengenai pemudik, pihak perhotelan wajib melakukan protokol kesehatan, menerapkan social distancing, dan menjaga kebersihan agar tidak ada masalah.

Kami tidak ingin keinginan mengejar ekonomi mengesampingkan kesehatan,” katanya. (Red)