AS Kerahkan Enam Pembom B52 Ke Samudera Hindia

Hukum Internasional Nusantara

KORANBOGOR.com,WASHINGTON-Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan mengatakan sejumlah kecil personil militer Inggris secara permanen berbasis di Diego Garcia untuk menjaga lapangan udara tetap aktif.

Juru bicara itu mengatakan, penggunaan kepulauan Inggris oleh AS untuk operasi ofensif akan tunduk pada persetujuan otoritas Inggris dan setiap tindakan yang diusulkan oleh pesawat AS akan dibahas dengan cara “kolegial” dengan Inggris sebelum serangan terjadi.

Menurut CNN, belum ada perintah untuk menyerang Iran tetapi Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang 52 target Iran termasuk situs warisan budaya jika Teheran menyerang pasukan AS sebagai pembalasan atas kematian Soleimani.

Downing Street mengatakan pihaknya menentang ancaman Trump untuk mengebom situs-situs warisan budaya Iran, tetapi presiden AS tetap mendukung ancaman itu.

“Mereka diizinkan menggunakan bom pinggir jalan dan meledakkan orang-orang kita dan kita tidak diizinkan menyentuh situs budaya mereka? Itu tidak bekerja seperti itu,” kata Trump pada hari Minggu. (Baca: Trump: 52 Target Iran Akan Hancur Jika Mereka Serang Aset AS)

Mark Esper, Menteri Pertahanan AS, tampaknya mengakui bahwa militer AS tidak akan melaksanakan perintah semacam itu, yang bisa dianggap sebagai kejahatan perang.

“Kami akan mengikuti hukum konflik bersenjata,” katanya kepada wartawan di Pentagon, Selasa.

Penempatan B-52 datang saat AS mendukung pasukannya untuk kemungkinan konfrontasi dengan Iran.

Pentagon telah mengirim sekitar 3.500 tentara tambahan ke Timur Tengah sejak milisi yang didukung Iran mengepung kedutaan besar AS di Baghdad pekan lalu.

Total sekitar 14.000 tentara tambahan AS telah dikirim ke kawasan itu sejak ketegangan dengan Iran meningkat pada Mei lalu. AS mengatakan pihaknya memiliki bukti rencana Iran untuk menyerang kapal-kapal Amerika di Teluk.

Inggris memiliki sekitar 400 tentara di Irak dan pemerintah sedang mempertimbangkan apakah mereka perlu ditarik atau dipekerjakan kembali ketika pasukan Barat bersiap untuk pembalasan Iran.
(Red)