Burhanudin :PDI Perjuangan Dinilai Mampu Cetak “Hatrick” Di Pemilu 2024

Hukum

KORANBOGOR.com,JAKARTA=Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) diprediksi bisa mencetak ‘hatrick’ atau menang Pemilu pada 2024 nanti. Syaratnya, Partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu mampu keluar dari tantangan.

Direktur Eksekutif Indikator, Burhanudin Muhtadi mengatakan, dari reset empiris yang terjadi dalam mediokerisasi lama kelamaan tidak ada satu pun partai politik yang dominan.

“PDIP ketika menang 1999 itu mendapat 33,74 persen. Itu prestasi yang sulit diulang oleh semua partai, bahkan oleh PDIP sendiri,” kata Burhanudin dalam diskusi bertajuk ‘Akankah PDIP Menang Lagi di Pemilu 2024? di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Sabtu (3/8/2019).

Kata Burhan, sapaan akrabnya, tidak ada partai yang sangat hegemoni saat ini. Menurutnya, semua partai cenderung menjadi partai menengah, hanya PPP yang perolehannya dianggap tipis.

“Yang lain dari sisi elektoral vote ketika diterjemahkan dalam bentuk kursi, kisarannya 50-82 kursi,” ungkapnya.

Burhan mengatakan, bicara peluang PDIP untuk bisa menang tiga kali berturut-turut akan ditentukan berdasarkan beberapa tantangan antara lain, siapa yang bakal diusung PDIP menjadi Presiden 2024.

Menurut Burhan, status Jokowi yang menang Pilpres dua periode dianggapnya turut menyumbang elektoral kepada partai berlambang Banteng Moncong Putih tersebut. Selain itu, Burhan mengatakan, suara muslim dianggap tantangan yang harus dijawab oleh PDIP berikutnya.

Kata Burhan, suara PDIP dianggap cukup signifikan dalam meraup suara dari kalangan islam sejak 2009. Tantangan berikutnya, PDIP harus selektif dalam menempatkan kader atau bukan kader untuk menjadi calon legislatif. Menurutnya, dalam sejarah, baru pada pemilu 2019, PDIP menempatkan popularitas artis untuk mendulang suara.

“Yang paling krusial menurut saya yang harus disiapkan adalah karena 2024 adalah pileg sekaligus pilpres, dan keduanya tidak bisa dipisahkan sebagai satu sisi mata uang,” ungkapnya.

“Pertanyaannya adalah siapa capres PDIP 2024, karena ujungnya capres itu adalah yang mengigit elektoral dia menjadi sapuan di tingkat nasional, sapuan dapil lokal adalah caleg, yang mengikatnya adalah ideologinya. Memang proses dan dinamika masih panjang,” imbuh Burhan menandaskan.
(red)