Dampak Kereta Kalijaga Tak Beroperasi,Terjadi Penurunan Pengunjung Obyek Wisata Di Kab Grobogan

Hukum

KORANBOGOR.,com,GROBOGAN-Berhentinya kereta api Kalijaga relasi Stasiun Poncol Semarang- Stasiun Balapan Solo, berdampak besar terhadap sektor wisata di Kabupaten Grobogan. Bahkan, pengurangan pengunjung di sejumlah tempat wisata mencapai 90 persen.

Seperti diketahui, kereta api Kalijaga tersebut berhenti per-1 Desember 2019 lalu. Pemberhentian operasional menyusul dengan pencabutan subsidi oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Meski PT KAI telah mengganti kereta lain, yakni Joglosemarkerto, langkah tersebut tetap tidak menjadi solusi.

Owner Wisata Candi Joglo Purwodadi, Muhadi mengatakan, pihaknya sudah melayangkan surat pada Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Grobogan. Surat yang dikirim 13 Desember lalu berisi keluhan terkait dampak berhentinya KAKalijaga.

”Penurunannya sangat drastis. Dari sekitar 50 ribu-60 ribu orang tiap bulan, menjadi hanya 200 orang sampai 300-an pengunjung per bulan. Ini sangat berdampak besar, bahkan banyak penari kami yang mengundurkan diri dan beralih profesi,” ungkap Muhadi. Menurutnya, rute KA Kalijaga dari Stasiun Poncol Semarang- Stasiun Tanggungharjo Grobogan- Stasiun Gundih Grobogan-Stasiun Balapan Solo, sangat menguntungkan bagi sektor wisata di Grobogan.

Pasalnya, wisatawan datang dari Kota Semarang akan berhenti di Stasiun Gundih Grobogan. Dari sana, wisatawan akan dijemput mobil untuk mampir ke Wisata Kedung Cinta atau Waduk Kedung Ombo di Desa Rambat, Kecamatan Geyer. Kemudian, menuju Wisata Cindelaras Bandungharjo, Kecamatan Toroh. Terakhir berwisata di Candi Joglo Purwodadi.

Tak Punya Kewenangan

Muhadi menjelaskan, dampak besar tidak hanya terjadi pada wisata miliknya. Di Wisata Kedung Cinta, banyak penyewa perahu untuk berkeliling Waduk Kedung Ombo kebingungan. Pasalnya, mereka kini kebingungan untuk mengembalikan modal dan terlilit utang.

”Merek melihat prospek yang bagus, sebelum diberhentikannya KA Kalijaga. Mereka yang semula punya satu perahu, kemudian mengambil kredit untuk membuat sembilan perahu lagi. Setelah KA Kalijaga ini berhenti, otomatis, mereka kelimpungan,” kata Muhadi. Pihaknya berharap pemerintah bisa mencarikan solusi agar geliat wisata di Grobogan kembali bergairah.

Menurutnya, KA Joglosemarkerto yang mengganti KA Kalijaga tidak bisa menjadi solusi. Sebab, pemberangkatan dari Stasiun Poncol Semarang terlampau pagi. Sementara itu, Manager Humas PT KAI Daop IV Krisbiantoro menyatakan, kereta api Kalijaga berhenti beroperasi sejak 1 Desember 2019 lalu.

PT KAI sudah menyediakan kereta lain yakni KA Joglosemarkerto sebagai pengganti KAKalijaga. ”Daop IV tidak punya kewenangan dan peraturan rangkaian terpusat berdasarkan grafik perjalanan KA atau Gapeka yang sekarang. Rangkaian KA Kalijaga ini milik Daop VI Yogyakarta,” papar Krisbiantoro. (Red)