Dampingi Presiden di Canberra, HIPMI Siap Menggandeng Pengusaha Australia untuk Dorong Perekonomian Indonesia

Hukum Nusantara Wisata

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Kunjungan Indonesia ke Canberra, Australia bertujuan untuk meningkatkan akses pasar Australia, juga membahas peluang investasi Australia di Indonesia yang dilakukan pada tanggal 8-10 Februari 2020.

Ketua Umum BPP HIPMI, Mardani H. Maming yang saat itu ikut mendampingi dan bertemu pengusaha Australia dalam Indonesia-Australia Business Roundtable menegaskan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) siap menggandeng pengusaha Australia untuk memajukan perekonomian kedua negara.

“Anggota HIPMI siap berkolaborasi dengan pengusaha Australia untuk bersama-sama memajukan ekonomi kedua negara,” jelas Mardani dalam Indonesia-Australia Business Roundtable di Canberra, Australia, Senin (10/2).

Menurut CEO PT Batulicin Enam Sembilan Group dan PT Maming Enam Sembilan itu, banyak peluang terbuka bagi pengusaha Australia untuk datang berinvestasi ke Kalimantan, seiring penunjukan daerah itu menjadi ibu kota negara (IKN).

“Ke depan bakal terbuka banyak peluang bagi pengusaha, saya harap pengusaha Australia turut ambil bagian dari pembangunan ibu kota ini dan bisa menjalin lebih dekat kerjasama dengan Indonesia,” jelas eks bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan ini.

Mardani juga menyakinkan di IKN jika dilakukan pembangunan yang terencana dan terstruktur akan bisa sangat berkembang seperti Canberra dan juga akan memberikan keuntungan investasi bagi para pengusaha Australia.

“Kolaborasi HIPMI dengan Pengusaha Australia akan baik sekali di lakukan, yang pasti kolaborasi ini akan memberikan keuntungan untuk kedua negara dan pengusaha Indonesia siap membantu jika pengusaha Australia ingin melakukan investasi,” ujar Mardani.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengunjungi kawasan Mount Ainslie di Canberra, Minggu 9 Februari kemarin. Tujuan dari kunjungan itu, Presiden Jokowi ingin mempelajari bagaimana Australia membangun Canberra sebagai ibu kota.

“Ya saya banyak bertanya tadi pagi ke Gubernur Jenderal, kemudian bertanya juga ke Perdana Menteri Scott Morrison, kemudian sekarang bertanya juga ke Sally Barnes, CEO-nya National Capital Authority di sini,

Kita ingin mendapatkan sebuah bayangan seperti apa sebetulnya Kota Canberra, bagaimana dikelola, kemudian dimulainya seperti apa,” kata Presiden dalam siaran persnya.

Kota Canberra sendiri dibangun pada 1913 dan memiliki penduduk sekitar 400 ribu jiwa. Dari Mount Ainslie yang memiliki ketinggian 843 meter di atas permukaan laut, Presiden melihat tata kota Canberra sangat baik.

“Saya kira kalau kita lihat tadi tata kotanya sangat bagus sekali dan yang baik-baik akan kita ambil untuk pembangunan ibu kota baru. Baik manajemennya, baik tata kotanya.

Saya kira tadi kita lihat gedung-gedung pemerintah tidak ada yang tingginya lebih dari tujuh lantai. Tapi di sisi yang lain, ada juga yang jauh dari area pemerintahan diperbolehkan gedung tinggi-tinggi, di situ sangat bagus,” kata Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden kembali menegaskan keseriusan pemerintah dalam pemindahan ibu kota negara Indonesia ke Kalimantan Timur.

Menurutnya, studi terkait hal tersebut sudah dimulai sejak lima tahun lalu dan lomba desain telah dimulai pada tahun lalu.

“Sudah kita memutuskan, sekarang tinggal menunggu undang-undang di DPR, kalau sudah ada undang-undang tinggal kita lakukan land clearing, lalu kita lakukan pembangunan infrastruktur dasar. Saya kira itu yang akan kita lakukan,” kata Presiden.

Kunjungan ke Mount Ainslie ini dilakukan Presiden di sela-sela agenda kunjungan kenegaraan ke Australia. Presiden menyebut bahwa tujuan lain kedatangannya ke Australia adalah untuk menindaklanjuti selesainya ratifikasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang telah disetujui DPR tiga hari yang lalu.

Caption Foto : Ketua Umum BPP HIPMI Mardani H Maming dalam acara Indonesia-Australia Business Roundtable di Canberra, Australia.

(Red/ Anthony Leong,Ketua Kompartemen Hubungan Media )