Eks Bupati Bogor Kembali Dijerat KPK,Atas Kasus Ini

Berita Hukum

KORANBOGOR.com-JAKARTA- Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPU) Febri Diansyah pihaknya akan menyelidiki asal-usul aset-aset milik eks Bupati Bogor Rachmat Yasin yang diduga kuat berasal dari tindak pidana korupsi.

“Apakah kemudian uang-uang yang diterima tersebut, termasuk di perkara pertama itu kemudian dibelikan rumah atau logam mulia atau bentuk lain itu nanti bisa jadi poin yang akan kami kembangkan lebih lanjut,” ungkap Febri saat Temu Media di Komplek KPK, Kuningan, Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Usai menghirup bebas setelah menghuni Lapas Sukamiskin Bandung 8 Mei lalu, setelah divonis bersalah selama 5,5 tahun penjara atas kasus suap terkait perizinan alih fungsi hutan, Rachmat kembali dijerat dua kasus dugaan korupsi, yakni Pertama, Rachmat diduga melakukan pemotongan anggaran SKPD senilai Rp 8,9 miliar.

Kedua, Rachmat diduga menerima gratifikasi 20 hektare tanah dan satu unit Toyota Vellfire.

Pihaknya lanjut Febri kini fokus melakukan asset recovery saat penanganan kasus korupsi. Jika ada aset yang dicurigai berasal dari uang rakyat yang pernah dikorupsi, maka aset itu bakal disita dan dikembalikan ke negara.

“Proses hukum gratifikasi ini yang ditekankan adalah asset recovery. Sehingga nanti kalau ada aset yang kami lihat bisa menjadi uang pengganti untuk mengembalikan uang yang pernah diambil ke rakyat lagi maka tidak tertutup kemungkinan dilakukan penyitaan atau tindakan-tindakan lain,” terang Febri.

Febri menambahkan saat menjadi Bupati Bogor pada periode 2009-2014, Rachmat Yasin, juga diduga menerima gratifikasi berupa tanah dan mobil mewah.

KPK lanjut dia menduga gratifikasi tanah yang diterima Rachmat berkaitan dengan proses perizinan pembangunan pesantren.

Kasus ini berawal, di tahun 2010, seorang pemilik tanah seluas 350 hektare di Desa Singasari dan Desa Cibodas,Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor berencana mendirikan pondok pesantren, dengan menghibahkan tanahnya seluas 100 hektare. Tetapi Rachmat pun ingin pemilik tanah itu menghibahkan tanah untuknya.

“Melalui perwakilannya, RY menyampaikan ketertarikannya terhadap tanah tersebut. RY juga meminta bagian agar tanah tersebut juga dihibahkan untuknya. Pemilik tanah kemudian menghibahkan atau memberikan tanah seluas 20 hektare tersebut sesuai permintaan RY,” urai Febri.

Tak hanya itu, Rachmat juga dicurigai memperoleh gratifikasi berupa mobil Toyota Vellfire seharga Rp 825 juta yang berasal dari seorang pengusaha.

“April 2010, RY diduga meminta bantuan kepada seorang pengusaha untuk membeli sebuah Toyota Vellfire yang uang mukanya berasal dari RY sebesar Rp 250 juta. RY diduga memiliki kedekatan dengan pengusaha tersebut dan pengusaha tersebut memegang beberapa proyek di lingkungan Kabupaten Bogor.

Pengusaha ini juga pernah menjadi salah satu pengurus tim sukses RY untuk menjadi Bupati Bogor periode kedua pada 2013,” papar Febri.

Uniknya kata Febri, gratifikasi yang diberikan pengusaha ke Rachmat itu berupa cicilan mobil sebesar Rp 21 juta per bulan sejak April 2010 hingga Maret 2013.

Tak hanya itu saja, Rachmat juga diduga meminta, menerima, atau memotong pembayaran dari beberapa satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sebesar Rp 8,9 miliar.

Febri mengatakan uang itu diduga dipergunakan untuk biaya operasional Rachmat dan kebutuhan kampanye Pilkada dan Pileg pada 2013 dan 2014. (red/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.