Investor Bodong,Polda Jatim Tetapkan Dua Tersangka Baru

Hukum

KORANBOGOR.com,SURABAYA-Penyidik Ditreskrimsus Polda Jatim yang sedang menangani kasus investor bodong kembali menetapkan ML yang bertindak sebagai motivator dan PH selaku Kepala IT PT Kam & Kam yang membuat aplikasi MeMiles, sebagai tersangka baru. Mereka berdua menyusul status KT (47) selaku Direktur Utama PT Kam & Kam warga Kepala Gading, Jakarta Utara dan FS (52) seorang tangan kanannya warga Tambora, Jakarta Barat sebagai tersangka.

“Dengan demikian, jumlah tersangka kasus investasi ilegal MeMiles ini ada empat orang,” ujar Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan dalam keterangan persnya di Surabaya, Jumat (10/1/2020).

Didampingi Direktur Direskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol G Arif Setiawan dan Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, lebih lanjut diungkapkan, bahwa kedua tersangka baru itu adalah ML alias Martina Lusia yang semula mengaku sebagai dokter. Namun faktanya yang bersangkutan hanya ahli akupuntur yang diminta KT untuk memberikan motivasi kepda member maupun agen MeMiles (PT Kam & Kam) agar perusahaan investasi itu bisa berkembang pesat dan mampu menyasar warga masyarakat untuk berinvestasi.

“Dia (ML) mengaku sama sekali tidak paham dengan operasional PT Kam & Kam yang mampu memikat sekitar 260.000-an member dengan mengumpulkan uang tunai sekitar Rp 760 miliar. Ini angka yang tidak kecil karena hampir satu triliun,” tandas Irjen Pol Luki Hermawan lagi.

Penyidik Ditreskrimsus Polda Jatim selain menetapkan empat orang tersangka, kini juga menyita uang tunai hasil dana investasi member lebih dari Rp 120 miliar dari total omzet investasi ilegal itu sekitar Rp 760 miliar serta 18 unit mobil baru.

Kapolda Jatim menambahkan, bahwa uang hasil sitaan itu merupakan hasil pemblokiran dari rekening utama PT Kam & Kam.

“Kita masih mengejar aliran dana tersebut untuk kemudian akan disita sebagai barang bukti,” tandasnya ketika disinggung adanya sejumlah artis ibu kota yang sudah dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Kepada para saksi dari artis itu, PT Kam & Kam menyatakan sudah memberikan hadiah berupa barang dan bahkan ada yang menerima mobil baru. Keikutsertaan mereka itu diduga sebagai ajang pemikat promosi agar masyarakat mempercayainya dan ikut menanamkan investasinya.

Tersangka AT mengakui keempat artis sebagai endorser bisnis investasi berbasis aplikasi tersebut. Mereka yang terdiri dari artis berinisial JD, EL, SB dan AN. Mereka seharusnya menjalani pemeriksaan seputar keikutsertaan mereka dalam MeMiles, Kamis (9/1/2020) lalu.

Namun karena kesibukannya, mereka minta dijadwal ulang hingga, Rabu (22/1/2020). “Dari keempat artis itu tiga orang sudah menyatakan siap dimintai keterangan dan menyerahkan barang yang mereka terima dari PT Kam & Kam yang semula disebutkan sebagai reward atas keikutsertaannya sebagai member,” tambah Kapolda.

Sementara itu Kombes Pol G Arif Setiawan juga memastikan akan menyita semua mobil dan barang berharga milik member atau leader yang diperoleh dari bisnis investasi ilegal (bodong) PT Kam & Kam atau MeMiles itu. Sebab, barang-barang berharga dan mobil tersebut bukan penghargaan atau reward sebagaimana disebut sebagai bagian dari keuntungan dari investasi yang dijalankan PT Kam & Kam, melainkan kumpulan dana dari para nasabah yang melakukan top up.

“Makanya kami akan melakukan penyitaan. Jika ada member yang sudah menerima mobil atau barang lainnya dari MeMiles untuk segera menyerahkannya ke Ditreskrimsus Polda Jatim sebagai barang bukti,” ujar Arif Setiawan.

Menurut dia langkah tersebut merupakan bagian dari penyelamatan aset yang nantinya pascaputusan persidangan di pengadilan, member yang melapor akan kita cantumkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP), katanya. Ia menyebut mobil yang diterima artis EL yang diakui tersangka KT berasal dari top up investasi MeMiles.

Diduga, masih ada pelaku lainnya dalam kasus investasi bodong tersebut. Karenanya untuk memudahkan pelayanan, Polda Jatim membuka Posko Layanan Pengaduan yang terpusat di Gedung Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jatim di bagian depan Mapolda di Jalan Ahmad Yani, Surabaya.

Di Posko itu masyarakat bisa melaporkan masalah yang dihadapinya terkait investasi bodong tersebut. (Red)