Kejagung : Berinisial AP ,Karyawan Bank Mandiri Jadi Tersangka Kredit Macet PT CSI

0
335

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Tim penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Agung menetapkan AP, mantan Relationship Manager Bank Mandiri cabang CBC Solo, sebagai tersangka kasus kredit macet Rp557,135 miliar.

Menurut Kapuspenkum Kejagung, Dr Mukri, AP ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan surat penetapan yang ditandatangani Direktur Penyidikan pada Jampidsus, Warih Sadono, pada 4 Desember 2018.

AP, kata Kapuspenkum mengutip keterangan tim penyidik, adalah pengusul kredit kepada PT Central Steel Indonesia (CSI).

“Perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh tersangka adalah membuat Nota Analisa Kredit (NAK) tanpa melakukan verifikasi dan validasi terhadap dokumen laporan keuangan PT CSI yang tidak benar dan tidak akurat,” kata Mukri.

Selain itu, AP juga tidak memonitor kredit yang diberikan kepada CSI, antara lain meliputi rekening dan aktivitas usaha debitur, pemenuhan kewajiban dan persyaratan kredit debitur dan mengambil langkah pencegahan atas penurunan kredit.

Pasal yang disangkakan terhadap AP adalah Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Penetapan AP sebagai tersangka adalah pengembangan dari kasus sebelumnya yang sudah ditangani Kejagung.

Pada 12 April 2018, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat memvonis Mulyadi Supardi alias Hua Ping dan Erika Widiyanti Liong.

Hua Ping divonis 5 tahun 6 bulan dan denda Rp300 juta subsidider 6 bulan. Sementara Erika divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsidier 6 bulan.

Keduanya merupakan direksi dari PT CSI. Perusahaan tersebut mendapatkan kredit dari Bank Mandiri mencapai Rp 557,135 miliar.

Menurut majelis hakim, kucuran kredit dari Bank Mandiri tidak digunakan untuk modal kerja perusahaan, melainkan dibagi-bagikan kepada para pemegang saham.

Begitu juga dengan upaya pengembalian kredit Bank Mandiri, perusahaan juga sudah mengupayakan lewat jalur penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) tapi sayangnya berakhir dengan kepailitan.

Dalam hitungan penyidik, kerugian negara dalam kasus ini adalah Rp201,176 miliar. Rinciannya, kredit, bunga dan denda Rp557,135 miliar dikurangi nilai aset PT CSI Rp355,959 miliar.(Red/JM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here