Kecam Intimidasi Kepada Jurnalis Saat Liputan,Forum Wartawan Cilegon dan IJTI Lakukan Unjuk Rasa

Hukum

KORANBOGOR.com,CILEGON-Puluhan anggota Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kota Cilegon dan Forum Wartawan Cilegon (FWC) melakukan demonstrasi.

Aksi ini sebagai respons simpatik terkait adanya intimidasi yang diterima salah seorang wartawan Kota Serang saat melakukan liputan.

Intimidasi dilakukan oknum di Kota Serang saat seorang wartawan Kabar Banten Mohammad Hashemi Rafsanjani sedang meliput warga yang mengaku tidak makan dua hari dan meninggal dunia.

Ketua IJTI Kota Cilegon, Adim Muchtadim menuturkan a,ksi solidaritas tersebut merupakan kritik atas kesengajaan intimidasi oknum terhadap profesi jurnalistik. Hal ini disebutnya sebagai tindakan melanggar aturan karena aktivitas jurnalistik telah dilindungi Undang-undang.

“Kami IJTI Kota Cilegon dan FWC menggelar aksi solidaritas menyampaikan aspirasi dan kritik pedas sebab ada unsur kesengajaan intimidasi terhadap profesi jurnalistik,” jelas Muchtadim usai aksi yang dilakukan di Landmark Kota Cilegon, Rabu (22/4).

Menurutnya, saat ini, bukan lagi zaman Orde baru dimana kebabasan pers dikebiri oleh penguasa. Kini masa orde baru telah runtuh dan masuk ke masa reformasi yang ditandai dengan lahirnya Undang-undang Nomor 40/1999 tentang Pers untuk menjamin kebebasan pers yang berhak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi

“Namun, miris rasanya jika di Kota Serang Banten masih ada unsur intimidasi oleh sejumlah oknum yang membatasi atau sama halnya menghalangi kinerja jurnalistik melakukan peliputan.

Utamanya, pada peliputan seorang warga yang sebelumnya dikabarkan meninggal akibat kesulitan ekonomi dan ditemukan meninggal dunia,” katanya.

Intimidasi oleh oknum dikisahkan korban, Mohammad Hashemi Rafsanjani (Shemi) yang mengatakan sejumlah warga menghalanginya, mengintimidasi, dan melakukan penghapusan paksa video hasil liputannya.

Peristiwa itu terjadi ketika Shemi bersama beberapa jurnalis lain tengah melakukan peliputan atas meninggalnya seorang warga yang diduga kesulitan ekonomi di masa pandemi COVID-19.

Ketika itu, sia dihampiri oleh seorang warga yang mengaku keluarga korban dan menanyakan alasannya mengambil gambar korban meninggal atas nama Yuli Nur Amelia (42 tahun) yang sebelumnya viral kelaparan dua hari. Namun, oknum tersebut tiba-tiba meminta Shemi menghapus semua gambar dan video yang sudah dia rekam.

“Nggak usah ngeberitain lah, dia bukan orang susah, dia bukan selebritis juga yang bisa diambil gambarnya,” ujar pelaku seperti yang ditirukan Shemi.

Intimidasi juga datang dari seorang warga yang menyebut para wartawan mengambil keuntungan dengan mendapat berita dari peristiwa itu.

“Di situ saya jelaskan bahwa wartawan niatnya membantu,” jelas Shemi.

Korban lain wartawan Pojoksatu.id, Dinar yang mengatakan pengalaman yang sama. “Hari minggu 19 April, saya diminta stand by oleh keluarga, karena mulai ketakutan. Banyak warga yang mengecam karena merasa malu ada warganya yang lapar,” ungkap Dinar.

Dia menyebut, seseorang yang mengaku sebagai istri ketua RT meminta agar peliputan itu dihentikan. Istri ketua RT itu pun mengaku mendapat amanat untuk menutup semua berita karena telah mempermalukan warga. (Red)