Kehadiran Partai Gelora Memberi Warna Baru Yang Mampu Menggerus Suara PKS

Hukum

KORANMBOGOR.com,JAKARTA-Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi menilai, kehadiran Partai Gelombang Rakyat (Gelora) bakal memberi warna baru di Pemilu 2024 mendatang. Para pendiri Partai Gelora diyakini sangat memahami ceruk pemilih yang bisa dimanfaatkan.

“Saya optimistis Gelora bisa mengambil segmen pemilih yang selama ini menjadi captive market PKS. Jika PKS hanya menawarkan politik asal beda selama sepuluh tahun pemerintahan Jokowi, saya rasa ada peluang Gelora menggerus suara PKS,” ujar Ari dalam pesan tertulis, Senin (22/5).

Keyakinan CEO Lembaga Survei Nusakom Pratama ini didasari kenyataan pentolan-pentolan Partai Gelora merupakan politikus kawakan jebolan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kenyang dan tahu betul strategi PKS.

“Meski demikian, di Pemilu 2024 nanti, Gelora bakal menghadapi tantangan berat dari parpol-parpol lain yang sudah mapan seperti PDIP, PKB, Golkar dan Gerindra,” ucapnya.

Apalagi, rencana ambang batas parpol untuk bisa melenggang ke Senayan diwacanakan naik ke 5 hingga 7 persen. Dalam UU Nomor 7/2017 tentang Pemilu, parliamentary threshold ditetapkan sebesar 4 persen dari total suara hasil pemilu.

“Membangun partai baru tidak saja butuh logistik yang kuat, tetapi juga jaringan kepartaian yang harus sampai ke pelosok,” ucapnya.

Pembimbing program doktoral di pasca sarjana Universitas Padjajaran ini lebih lanjut mengatakan, partai butuh kepemimpinan yang teruji dan bisa membuktikan kiprah di masyarakat.

“Untuk sampai ke tahap itu, saya rasa Gelora butuh waktu dan proses, tetapi sebagai alternatif pilihan, Gelora akan menjadi tawaran yang menarik di tengah kejenuhan pemilih PKS yang dikenal dengan loyalitasnya,” ucap Ari.

Ari juga mengatakan, masih ada waktu bagi Partai Gelora untuk membentuk diri sebagai partai pilihan di 2024.

Asal, bisa membidik segmen pemilih yang tepat, tidak sekadar menggembosi suara PKS.

“Gelora harus hadir dan mampu menjadi partai pilihan segmen atas, menengah dan bawah. Jangan menjadi partai puritan.

Gelora harus dikelola dengan manajemen kepartaian yang modern dan berbasis data dan teknologi,” pungkas Ari. (Red)