Kejagung Blokir 35 Rekening Milik 5 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Jiwasraya

Hukum Nusantara

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Kejaksaan Agung telah memblokir 35 rekening milik lima tersangka kasus dugaan korupsi Jiwasraya. Rekening-rekening tersebut diduga terkait transaksi dalam kasus tersebut.

”Kedua progres hari ini, kita sudah mintakan untuk blokir rekening sebanyak 35 rekening milik lima tersangka di 11 bank,” kata Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejagung Febrie Adriansyah di Gedung Bundar Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jaksel, Rabu (22/1).

Meski meminta pemblokiran, Febrie menyatakan pihaknya belum mengetahui secara pasti jumlah uang dalam 35 rekening tersebut. Dia mengatakan, setelah diblokir, rekening-rekening tersebut akan disita Kejagung. Febrie memastikan 35 rekening yang diblokir itu merupakan rekening dalam negeri. Pihaknya, akan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk menelusuri segala transaksi dalam kasus korupsi Jiwasraya.

”Dalam negeri semua, dan kita juga masih dengan PPATK masih menelusuri di mana saja rekening rekening yang terkait dengan transaksi Jiwasraya,” ujarnya. Selain itu, Febrie menyebut ada aset yang disembunyikan di luar negeri oleh tersangka kasus korupsi Jiwasraya.

Namun tak disebutkan identitas tersangka yang dimaksud. ”Pasti ada, saya pastikan ada,” ujarnya. Dia juga menyatakan, pihaknya akan mengusut keberadaan aset-aset tersebut hingga ketemu. ”Saya akan kejar terus kemanapun mereka sembunyikan aset,” tandasnya. Kejagung juga menyita aset para tersangka berupa 1.400 sertifikat tanah.

”Banyak sekali. Bayangin saja sertifikat saja ada 1.400. Bayangin saja, sertifikat tanah,” kata Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin. Burhanuddin menyebut akan terus berkomunikasi dengan beberapa pihak terkait. ”Yang pasti begini ini kan baru, baru mulai kemarin komunikasi. Yang pasti kita akan kejar sampai akhir dengan BPN, PPATK, OJK,” katanya.

Sebanyak 1.400 sertifikat tanah itu, jika dalam sidang nanti para tersangka bersalah, akan disita untuk menutup kerugian negara.

Kejagung juga telah menetapkan lima tersangka dalam kasus tersebut. Mereka adalah Komisaris PT Hanson Benny Tjokrosputro, eks Direktur Keuangan PT Jiwasraya Hary Prasetyo, Presiden Komisaris PTTram Heru Hidayat, eks Dirut Jiwasraya Hendrisman Rahim, serta eks Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan Kejagung mengungkap peran lima orang tersebut. Kejagung menyebut pihak Jiwasraya sebagai pembeli saham yang melawan hukum.

”Peran ada. Kan jelas kalau Asuransi Jiwasraya membeli saham dengan cara melawan hukum,” kata Febrie. Mereka investasi ke saham yang tidak liquid sehingga menimbulkan kerugian negara. Dua orang dari pihak swasta yang menjadi tersangka, menurut Kejagung, sebagai penikmat investasi saham yang tidak menguntungkan dan justru merugikan negara. Dalam hal ini pihak swasta yang dimaksud adalah Benny Tjokrosputro dan Heru Hidayat. ”Ini kan prosesnya berkembang sesuai alat bukti,” katanya.

Kejagung juga terus mengembangkan kasus tersebut dengan memanggil 14 saksi. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok, yakni dari saksi internal Jiwasraya, saksi pengelola saham, dan saksi dari lembaga pengelola transaksi investasi dalam hal ini Bursa Efek Jakarta. Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Hari Setiyono mengungkapkan, dari jumlah itu, sembilan di antaranya sudah diperiksa senbelumnya.

Mereka adalah Direktur Maxima Integra Joko Hartono, Direktur Utama PT Ciptadana Securities Ferry Budiman, Direktur Milenium Capital Managemen Fahyudi Djaniatmadja, Direktur Utama PT Jasa Capital Managemen Rudolfus Pribadi Agung Sujagad, Direktur PT GAP Asset Management Muhammad Karim, Direktur PT GAPAsset Management Soehartanto, Koordinator Marketing PTOSO Manajemen Investasi Ita Puspo, mantan Bagian Pengembangan Dana Investasi PTAsuransi Jiwasraya (Persero) Lusiana, dan mantan Kepala Divisi Investasi 2009 PTAsuransi Jiwasraya (Persero) Dony S Karyadi. Lima saksi lain yang semula berhalangan hadir, Rabu (22/1) juga telah hadir dan diperiksa.

Mereka adalah Dirut PT Sinarmas Sekuritas Hermawan Hoesin, eks Kepala Divisi Akuntansi PTAsuransi Jiwasraya Dicky Kurniawan, Kepala Divisi Akuntansi PTAsuransi Jiwasraya Ony Ardianto, serta dua orang dari Bursa Efek, yaitu Vera Florida, dan Endra Febristyawan. Kejagung pun menyatakan, tidak menutup kemungkinan bakal ada penetapan tersangka baru. Terlebih, Kejagung telah menelusuri fee broker fiktif dalam kasus dugaan korupsi Jiwasraya.

Kejagung menggandeng Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menelusuri transaksi yang melanggar hukum. Febrie Adriansyah mengatakan, pihaknya akan mendalami dugaan fee broker fiktif.

Sebab diperkirakan, Rp 54 miliar mengalir ke broker atau pihak lain. Menurutnya, Jiwasraya tak semestinya mengeluarkan fee broker tersebut. (Red)