KPK : Masih Ada Tersangka Lain Di Kasus Suap Perizinan Meikarta

Hukum

KORANBOGOR.com,JAKARTa-KPK menduga masih ada aliran duit suap lain ke berbagai pihak di luar para tersangka dalam kasus perizinan Meikarta. Dengan demikian, masih besar kemungkinan ada lagi tersangka selain dua tersangka baru yang ditetapkan KPK.

“Meski telah ada sebelas tersangka yang telah diproses, KPK menduga masih ada aliran duit suap lain ke berbagai pihak di luar para tersangka yang sudah ada sejauh ini. KPK sedang terus menelusuri aliran dana selain yang mengalir pada para tersangka yang sudah diproses saat ini,” kata Jubir KPK Febri Diansyah di Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Penyidik KPK kini sedang mencermati peranan berbagai pihak dalam kasus dugaan suap perizinan Meikarta. Ada beberapa cabang aliran dana untuk memuluskan perizinan Meikarta. “Penyidik KPK masih terus mencermati peran pihak-pihak lain dalam kasus ini. Karena jika kita membaca tentang arus uang di kasus ini, diduga ada beberapa cabang atau kepentingan yang diurus untuk memuluskan pembangunan Meikarta,” tuturnya.

Febri Diansyah enggan membeberkan berapa lagi dugaan duit suap yang masih belum terungkap. “Masih bergantung pada kecukupan bukti yang terus akan kami lihat dalam proses berjalan,” tuturnya.

Dua tersangka baru terkait kasus dugaan suap perizinan Meikarta itu adalah eks Presiden Direktur Lippo Cikarang Bartholomeus Toto dan Sekda Jawa Barat Iwa Karniwa. Keduanya dijerat dalam dua perkara berbeda.

Toto dijerat KPK sebagai tersangka karena diduga memberi suap kepada eks Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin. KPK menduga Toto merestui pemberian duit Rp 10,5 miliar kepada Neneng untuk memuluskan perizinan Meikarta. Sementara itu, Iwa ditetapkan sebagai tersangka karena diduga menerima suap Rp 900 juta. Duit itu diduga terkait pengurusan Peraturan Daerah tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Bekasi.

Penetapan dua orang ini merupakan pengembangan dari kasus suap Meikarta yang telah diproses sebelumnya. Sebelumnya, sudah ada sembilan orang yang ditetapkan sebagai tersangka, termasuk Neneng Hasan yang kini sudah divonis bersalah semuanya.

Febri menyebut Iwa diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sedangkan tersangka BTO (Bortholomeus) melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2-001 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP dan pasal 55 ayat (`1) ke-1 KUHP .(red)