Meningkatkan Prestasi Belajar Dengan Gerakan Literasi di Sekolah Dasar

Hukum

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki  kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri,kepribadian, kecerdasan,akhlak mulia,serta keterampilan,yang diperlukan dirinya, masyarakat, dan Negara.

Dengan adanya pendidikan sejak dini kelak para siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah dasar ini akan menjadi orang-orang yang mampu bersaing dikancah nasional maupun internasional.

Prestasi merupakan hasil yang telah dicapai dari suatu usaha yang telah dikerjakan dan diciptakan baik secara invividual atau kelompok berupa pengetahuan maupun keterampilan. Prestasi juga ditunjang oleh motivasi dan dukungan dari orangtua maupun guru disekolah.

Literasi adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara. Dalam pendidikan sekolah dasar tentu mengajarkan hal edukasi agar para siswanya memiliki ketrampilan yang mempuni.

Namun dalam meraih prestasi tidaklah mudah, oleh karena itu para guru yang berkompeten mengajarkan pada siswanya untuk membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara. pembelajaran tersebut tentu akan meningkatkan prestasi belajar para peserta didik, dengan demikian semakin sering siswa sekolah dasar melakukan kegiatan literasi di sekolah maka prestasi belajarnya akan terus meningkat, karena kegiatan literasi disekolah itu merupakan kegiatan yang positif dan berdampak baik bagi prestasi peserta didik.

Selain mengenyam pendidikan formal disekolah, tentu para orangtua juga memberikan  pengajaran pada anak-anaknya dirumah.

Seperti yang kita ketahui bersama konsep pengajaran yang digunakan dalam pendidikan di Indonesia oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu Tri N ( Ngerti, Ngroso, Ngalakoni ).

Maksud dari ketiga konsep tersebut adalah Ngerti berarti mengerti, Ngrasa berarti Merasakan, dan Nglakoni berarti Melakukan. 

Jadi, siswa jangan hanya cukup dengan mengerti, tetapi jangan juga hanya cukup merasakan, namun harus melakukan apa yang sudah diajarkan oleh guru maupun orangtuanya dan bisa diterima dengan akal budi yang baik. 

Agar lebih mudah, dimengerti dulu, baru dirasakan, setelah itu dijalankan. Jangan sampai menjalankan segala sesuatu itu tanpa dipahami lebih dahulu nilai positif dan negatif yang dirasakan.

(red/Agus Hadi Pratama,Mahasiswa PGSD di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta )