Pendidikan Yang Mengutamakan Budi Pekerti

Hukum

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Pendidikan di Indonesia saat ini lebih mengutamakan nilai akademik, ketimbang karakter peserta didik. Terbukti, tolak ukur keberhasilan peserta diidik di bangku sekolah adalah nilai akademik yg tinggi, bukan karakter anak, bukan pula budi pekerti yang luhur.

Nilai akademik tetap nomor satu. Siswa yang budi memiliki budi pekerti baik namun nilai akademiknya rendah kalah dengan anak yang pintar namun tidak sopan, perilakunya dan karakternya buruk.

Siswa yang pandai namun berperangai buruk pasti akan diluluskan. sedangkan siswa yang sopan, berperilaku baik, namun bodoh sudah pasti tidak akan lulus.

Pendidikan saat ini belum berpihak pada karakter anak, meskipun dimana-mana sudah digemborkan tentang pendidikan karakter, namun implementasinya, ending dari suatu pendidikan adalah nilai. Parameter kelulusan adalah nilai yang tinggi.

Lantas bagaimana nasib siswa yang tidak dikaruniai otak yang pintar? Bukankah anak lahir dengan IQ yang berbeda-beda? Masing-masing mempunyai bakat, minat, dan tingkat kepandaian yang tidak sama. Masing-masing tidak bisa dipaksakan melebihi kemampuan mereka.

Pendidikan di Indonesia seharusnya lebih mengedepankan pengembangan bakat atau minat siswa, bukan pemaksaan untuk mendapatkan nilai akademik di atas KKM. Dengan adanya target nilai KKM, siswa justru akan stress dan depresi

Lain halnya jika pendidikan berdasarkan pada pengembanganĀ  minat atau bakat. Minat artinya ketertarikan pada suatu hal, sehingga dengan adanya ketertarikan, siswa tidak merasa dipaksa untuk mendapatkan ataupun mengikuti sesuatu.

Bakat yang dikembangkanĀ  dengan baik dan terarah pasti akan menghasilkan sesuatu yang maksimal sesuai cita-cita pendidikan.

Anak yang pandai secara akademik belum tentu mempunyai skill untuk menghadapi dunia kerjanya kelak. Namun anak yang biasa saja, bahkan bodoh bisa jadi justru memiliki bakat yang terpendam.

Bakat inilah yang seharusnya dikembangkan, bukan dimatikan seperti pendidikan sekarang. Jangan bunuh kreativitas anak. Jangan matikan skill dan karakter mereka.

(Red/Farkhan Hamid,Mahasiswa Jurusan PGSD UST )