Penyidik Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya Tangkap Pelaku Pornografi Anak

Hukum

-Penyidik Subdit IV Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, menangkap seorang pemuda berinisial AAP alias PD alias Pras (27), terkait kasus dugaan tindak pidana pengancaman dan atau pornografi anak melalui media elektronik.

Seperti dikutip beritasatu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Iwan Kurniawan mengatakan, pengungkapan kasus ini bermula adanya laporan dengan nomor LP/3884/VI/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus, tanggal 27 Juni 2019, yang dibuat DP orang tua dari salah satu korban berinisial RAP.

“Kami mendapat laporan orang tua bahwa anaknya mendapat suatu persoalan yaitu, berupa ancaman dari seseorang menggunakan video porno,” ujar Iwan, di Mapolda Metro Jaya, Senin (29/7/2019).

Dikatakan Iwan, setelah mendapatkan laporan penyidik langsung melakukan penyelidikan, mengumpulkan bukti-bukti dan memeriksa saksi-saksi. “Akhirnya kami berhasil menangkap pelaku atas nama AP, di Kota Bekasi,” ungkap Iwan.

Iwan menyampaikan, modus operandi tersangka awalnya membuka akun aplikasi permainan online. Aplikasi game itu, mewajibkan para pemain untuk memberikan identitas seperti nama, nomor telepon hingga foto.

“Pada saat membuka aplikasi game, pelaku ini mencari target yaitu, anak-anak di bawah umur terutama anak-anak perempuan,” kata Iwan.

Sejurus kemudian, pelaku berkenalan dengan korban, dan obrolan berlanjut di aplikasi perbincangan Whats App.

“Setelah pelaku melakukan pendekatan-pendekatan dengan para korban, yang bersangkutan mengajak menggunakan aplikasi video call. Pada saat menggunakan video call ini, pelaku mengajak kepada korban untuk melakukan perbuatan asusila.

Pelaku mengajak korban untuk melakukan seks menggunakan video call. Dia sempat mengajak korban sampai kepada membuka pakaian, menunjukan kemaluan hingga masturbasi,” jelasnya.

Pada saat melakukan video call seks (VCS) itu, tanpa disadari pelaku merekamnya. Iwan menuturkan, rekaman video itu pun dipakai untuk mengancam korban agar mau melakukan VCS kembali, kalau tidak videonya akan disebar.

“Hasil penyelidikan, ternyata yang sudah menjadi korban kurang lebih 10 orang. Saat ini, kami masih mencoba untuk mengembangkan dari barang bukti yang ada, mencari yang mungkin juga menjadi korban daripada perbuatan pelaku.

Kami berharap terutama untuk para orang tua apabila mungkin mengetahui ada anaknya yang menjadi korban dari kasus yang serupa, bisa melaporkan kepada kami untuk kami melakukan proses penegakkan hukum,” katanya.

Tersangka dikenakan Pasal 27 ayat (1) Jo Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 52 ayat (1) dan atau Pasal 29 Jo Pasal 45B Undang-Undang No.19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 76E Jo pasal 82 Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5 miliar.

“Saat ini pelaku kami lakukan penahan dan masih dalam proses penyidikan,” tandasnya. (red)