Rais Aam PBNU : Ada Yang Ingin Memecah Belah Indonesia

Hukum Wisata

KORANBOGOR.com,BREBES-Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Achyar mengingatkan bangsa Indonesia khususnya warga NU untuk mewaspadai pihak-pihak yang mencoba memecahbelah dan mengadu domba agar terjadi kekacauan di Tanah Air.

‘’Tujuannya apa? Tentu ingin memecah belah bangsa Indonesia. Tujuan utama yang ingin dicapai sesungguhnya ekonomi. Tetapi caranya macam-macam, lewat politik, agama, isu SARA dan lain. Hati-hati kalau menerim informasi, sebaiknya tabayun dulu. Sebab sekarang ini banyak berita bohong atau hoaks dengan tujuan mengadu domba,’’ tegasnya.

Dia mengatakan hal itu dalam tausiah Haul Ke-8 Almaghfurlah KH Masruri Mughni di depan ribuan umat yang memadati Masjid An-Nur, kompleks Pondok Pesantren Al-Hikmah2, Benda, Sirampog, Kabupaten Brebes, kemarin.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah2 yang diwakili KH Izzuddin AlHafidz menjelaskan, rangkain upacara haul sudah dilkanakan sejak bakda shalat subuh dengan semaan Alquran oleh para santri dan Jamiatul Qura wal Hufadz (JQH). Kemudian pertemuan para alumni di GOR dan berbagai macam lomba.

Tahlil untuk Kiai Masruri dipimpin Habib Abdullah Mohammad Haddun dari Tegal dan pembacaan Yasin dipimpin KH Athoillah Al-Hafidz dari Pruwatan Bumiayu.

KH Abdul Hamid Rusydi dari Ajibarang Banyumas mewakili alumni Al-Hikmah2 menjelaskan, sosok Kiai Masruri sangat mencintai santrinya tanpa membedakan satu dengan lainnya. ‘’Alhamdulillah karena keikhlasan Mbah Masruri para santrinya menjadi orang yang bermanfaat di masyarakat,’’ katanya.

Kiai Masruri mantan Rais Syuriyah PWNU Jateng itu lahir di Benda, Sirampog 23 Juli 1943 dan wafat di Kota Suci Madinah 20 November 2011. ‘’Mereka yang hadir berbondong-bondong dari berbagai penjuru nusantara karena menunjukkan rasa cinta (mahabah) kepada Almaghfurlah KH Masruri Mughni,’’ katanya.

Darurat Aswaja

Menurut Kiai Miftachul Akhyar, Indonesia dalam status Darurat Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja). ‘’Sekarang ini Indonesia darurat Aswaja karena sudah banyak Aswaja tandingan. Jadi penyebutanya harus jelas Ahlussunnah waljamaah An-Nahdliyyah (Aswaja An-Nahdliyyah),’’ tegas Rais Aam PBNU itu.

Wafatnya ulama-ulama NU seperti Kiai Masruri, Kiai Maimoen Zubair, Kiai Sahal dan lain-lain seringkali membuat umat kehilangan pegangan dan panutan.

Karena itu dia mengajak para santri untuk terus memperdalam ilmu agama agar pada saatnya kelak menjadi kiai dan ulama menggantikan yang sudah wafat.

‘’Pesantren sudah terbukti mencetak kader-kader yang pinter sekaligus bener. Yang ada sekarang banyak orang pinter tapi tidak bener bahkan kebelinger. Kita perlu memperbanyak kader-kader pesantren yang mempunyai kecerdasan spiritual,’’ tegasny.

Hadir pada kesempatan itu cucu pendiri NU KH Hasib Wahab Chasbullah, Ketua PWNU Drs H Muzamil dan Sekretris KH Hudallah, Sekretaris Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang KH Muhyiddin, Pengurus Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima Semarang, para habaib dan pengasuh pondok pesantren se-Jateng. . (red)