“Saya Ditembak!Saya Ditembak!” Serangan Terhadap Wartawan Saat Unjuk Rasa George Floyd Tidak Bisa Dibenarkan

Bogor Now Hukum Internasional

KORANBOGOR.com,NEW YORK-Puluhan wartawan yang meliput unjuk rasa antirasisme melaporkan dugaan bahwa mereka menjadi target petugas keamanan yang menggunakan gas air mata, peluru karet dan semprotan merica.

Di beberapa kasus, wartawan tersebut mengaku tetap menjadi sasaran meski jelas mengenakan identitas pers.

Serangan seperti itu dianggap “upaya mengintimidasi [reporter] yang tidak dapat diterima,” kata Komite untuk Perlindungan Jurnalis atau Committee to Protect Journalists, sebuah kelompok berbasis di New York.

Serangan terhadap jurnalis yang dilakukan oleh pengunjuk rasa juga termasuk kasus yang dilaporkan.

Penangkapan kru CNN yang melakukan siaran langsung pada Jumat di Minneapolis, di mana pria kulit hitam George Floyd meninggal di tangan polisi, membuka mata publik dunia mengenai perlakuan otoritas keamanan terhadap jurnalis yang meliput peristiwa terkait kematian Floyd, termasuk unjuk rasa yang berakhir ricuh.

Tetapi, pada akhir pekan lalu, puluhan kasus penyerangan wartawan di berbagai pelosok negeri ramai diperbincangkan di media sosial.

Sebuah kelompok nirlaba, US Press Freedom Tracker menyebut mereka tengah menyelidiki lebih dari 100 bentuk “pelanggaran terhadap kebebasan pers” selama unjuk rasa tiga hari belakangan ini.

Sekitar 90 kasus melibatkan penyerangan.

Pada Sabtu malam, dua orang kru TV dari Reuters ditembak dengan peluru karet saat polisi hendak membubarkan pengunjuk rasa di Minneapolis yang melanggar jam malam.

“Seorang polisi yang tengah kurekam menodongkan senjata berpeluru karetnya padaku,” kata kameramen Julio-Cesar Chavez.

Reuters mengatakan Kepolisian Minneapolis menolak memberi komentar meski telah diperlihatkan rekaman kejadian tersebut.

Reuters mengatakan polisi mengarahkan senjatanya langsung pada sang kameramen yang tengah merekam aksi polisi

Di Washington DC, dekat Gedung Putih, seorang polisi antihuru-hara diduga menyerang kameramen BBC dengan tameng pelindung pada Minggu petang.

Kameramen tersebut “jelas dapat diidentifikasi sebagai pers”, kata kepala biro BBC Americas Paul Danahar.

“Tim kami sudah mengikuti arahan polisi saat meliput unjuk rasa di Gedung Putih. Serangan tersebut terjadi bahkan sebelum jam malam berlaku dan terjadi tanpa ada provokasi atau peringatan.”

Seorang kameramen BBC diserang dengan tameng pelindung polisi saat unjuk rasa

Di hari yang sama, di Long Beach, California, seorang reporter radio Adolfo Guzman-Lopez mengatakan ia ditembak di leher dengan peluru karet oleh seorang anggota polisi.

Seorang petinggi kepolisian pada Senin menyatakan akan menginvestigasi kejadian tersebut, “Saya tidak ingin siapapun anggota pers terluka.”

Pada Jumat, seorang kru Fox News dikejar dan ditabrak segerombolan pengunjuk rasa yang menggunakan masker di dekat Gedung Putih.

“Ini kejadian paling mengerikan setelah dikejar massa di Tahrir Square [di Kairo, Mesir],” kata koresponden Fox, Leland Vittert.

Pada Sabtu, jurnalis Vice News Anthony Adams melaporkan ia disemprot merica di muka oleh polisi di pom bensin meski ia memegang kartu identitas pers dan berteriak “Pers!”

Pada Jumat malam, Linda Tirado, seorang fotografer lepas dan aktivis, mengalami luka di bagian mata dari peluru karet yang ditembakkan oleh polisi di Minneapolis. Ia mengalami kebutaan permanen di bagian mata tersebut.

Linda Tirado mengatakan bahwa lukanya tidak akan menghentikannya untuk melaporkan peristiwa

Di malam yang sama, seorang reporter dari televisi lokal Wave 3 di Louisville, Kentucky, diserang dengan bola merica oleh polisi yang sengaja mengarahkan serangan padanya di tengah siaran langsung. “Saya ditembak! Saya ditembak!” katanya.

Seorang juru bicara kepolisian Louisville mengatakan pada Sabtu bahwa mereka tengah berupaya mengidentifikasi polisi yang terlibat. “Menyasar media bukanlah niat kami,” kata juru bicara tersebut.

Seorang reporter dari media Jerman Deutsche Welle juga ditembak dengan peluru karet oleh polisi pada akhir pekan lalu saat tengah bersiap siaran langsung.

Ia mengenakan rompi bertuliskan PERS dan mendapat ancaman penangkapan, menurut sebuah rekaman.

“Polisi berada di tengah tekanan besar melakukan tugasnya tapi tentu saja mereka juga seharusnya membiarkan kami melakukan tugas kami juga,” kata reporter tersebut, Stefan Simons.

Pada Minggu, gubernur Minnesota meminta maaf pada mereka yang telah ditangkap di negara bagiannya.

“Sekali lagi, saya ingin menyampaikan maaf yang terdalam kepada jurnalis yang ditangkap di tengah situasi ini – maaf pada mereka pribadi, pada organisasi tempat mereka bernaung dan pada wartawan di manapun,” kata Tim Walz.

Insiden tersebut terjadi sementara pernyataan menyerang media terus dikeluarkan Presiden Donald Trump.

Pada Minggu, ia mencuit: “The Lamestream Media melakukan apa saja dalam kuasanya untuk menyebarkan kebencian dan anarki.” Ia mengatakan wartawan adalah “orang jahat dengan agenda sakit”.

Berbagai organisasi pendukung kebebasan pers tengah mengutuk serangkaian serangan ini.

“Beberapa serangan terarah terhadap wartawan yang meliput unjuk rasa di pelosok negeri oleh petugas keamanan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Amandemen Pertama,” kata the Reporters Committee for Freedom of the Press said..

Courtney Radsch, direktur advokasi di Komite untuk Perlindungan Jurnalis mengatakan pada BBC bahwa kelompok tersebut menyerukan pada otoritas untuk “menginstruksikan polisi untuk menghentikan serangan terarah terhadap wartawan dan menjamin pers untuk dapat menjalankan tugasnya dengan aman tanpa takut terluka.”

(Red/BBC Indonesia)