Sosok Ani Idrus,Wartawati Legendaris yang Diapresiasi Google

Hukum Tokoh

Google menampilkan sosok Ani Idrus sebagai Google doodle, Senin (25/11). Siapakah Ani Idrus yang hari ini berulang tahun ke-101 sehingga mendapat tempat istimewa tersebut?

KORANBOGOR.com-SEPAK terjang dan jasa Ani Idrus bagi kemerdekaan Indonesia lewat dunia pers sangat besar. Wartawati kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat, 25 November 1918 itu terus berkarier dan memajukan Indonesia lewat pers hingga mengembuskan napas terakhir di Medan, Sumatera Utara, 9 Januari 1999 pada usia 80 tahun.

Sosok Ani sebagai calon jurnalis sudah terlihat sejak kecil. Dia memulai pendidikan di kampung halamannya sebelum pada 1928 hijrah ke Medan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah madrasah.

Setelah itu, dia masuk Methodist English School, Meisjeskop School, Schakel School, Mulo (Taman Siswa) dan SMA sederajat. Dia menjadi mahasiswa dari UISU Medan, Fakultas Hukum pada 1962-1965 dan 1975 menjadi mahasiswa Fisipol. Ani sejak belia suka membuat karangan.

Tidak heran, ketika baru menginjak usia 12 tahun, Ani sudah menjadi penulis di majalah Panji Pustaka Jakarta. Enam tahun kemudian atau sejak 1930, Ani mulai menjalani karier sebagai wartawati. Dia pernah menjadi jurnalis di sejumlah media, seperti Sinar Deli hingga Politik Penyedar. Pada 1938, Ani Idrus bersama suaminya, Mohammad Said menerbitkan majalah politik Seruan Kita.

”Jadikanlah hari kebangkitan nasional semacam doktrin ampuh untuk memupuk dan mengembangkan ketahanan nasional dan sari patinya sudah terwujud sejak 20 Mei 1908 dalam menghadapi politik penjajahan dan perbudakan kolonial Belanda,” tandas Ani.

Dia pun dikenal sebagai salah satu jurnalis paling berpengaruh pada era pergerakan nasional hingga kemerdekaan Indonesia. Ani dan Said juga menjadi penggagas media cetak Harian Waspada pada 1947 di Medan. Harian ini masih eksis hingga sekarang Ani kemudian menerbitkan majalah Dunia Wanita pada 1949.

Atas kontribusinya di dunia jurnalistik, Ani Idrus menerima sejumlah penghargaan, antara lain dari Menteri Penerangan RI pada 1990 sebagai wartawan di atas usia 70 tahun yang masih berkontribusi. Pada 1988, Ani menerima Satya Penegak Pers Pancasila dari Menteri Penerangan Harmoko.

Penghargaan itu hanya diberikan pada 12 tokoh pers nasional. Dia juga pernah mendapat penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1959, piagam Pembina Penataran Tingkat Nasional dari BP7 pada 1979. Sosok Ani Idrus diabadikan dalam perangko oleh Pos Indonesia pada 2004.

Dunia Pendidikan

Selain dunia pers, Ani juga berperan di dunia pendidikan lewat sejumlah sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Ani Idrus (YPAI). Tercatat dia mendirikan balai penitipan anak hingga sekolah tinggi ilmu komunikasi.

Dia juga berperan sebagai Ketua Sekolah Sepak Bola Waspada. Atas jasa-jasanya, Senin (25/11/2019), Google merayakan hari ulang tahunnya ke-101. Dalam tampilan Google doodle, kita akan melihat sosok perempuan dengan layar belakang potongan koran. Sosok itulah sang jurnalis Ani Idrus. (Mohamad Annas/SuaraMerdeka)