Tujuh Pasien Di Lima Wilayah Jabar Positif Terpapar Virus Corona

Hukum Nusantara

KORANBOGOR.com,BANDUNG-Sebanyak tujuh pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit di wilayah Jabar dinyatakan positif terpapar virus korona. Mereka tersebar di lima wilayah kabupaten dan kota.

Hal tersebut diumumkan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil saat menggelar jumpa pers terkait penanganan pandemi Korona di Bandung.

“Ada enam kasus positif, dua merupakan kasus warga Depok, yang kasus pertama, satu warga Cianjur yang meninggal dunia, dua warga Kabupaten Bekasi adalah istri dan anak pasien Cianjur, satu masing-masing Kota Bandung dan Kota Cirebon,” jelasnya.

Pihaknya, kata Emil, tengah pula melacak terhadap orang-orang yang diduga kontak dengan pasien positif korona. Di antaranya kegiatan seminar di Bogor pada 25-28 Februari 2020 mengingat dua pesertanya, salah satunya meninggal dunia positif terinfeksi Covid-19.

Mereka juga tengah melakukan penelusuran pasca kegiatan tablig akbar di Petaling Jaya, Kuala Lumpur pada 28 Februari-1 Maret 2020. Pasalnya, ada peserta yang berasal dari Jabar mengingat peserta asal Malaysia dan Brunei Darussalam disebutkan positif terpapar virus korona.

Ditambahkan, penanganan terhadap pasien dalam pengawasan di wilayah Jabar sendiri terus dilakukan. Jumlahnya, katanya, sebanyak 82 orang. Mereka terdiri dari 54 pasien yang sudah dikatakan negatif. Pihaknya, kata RK, masih menunggu hasil pemeriksaan terhadap 28 pasien lainnya.

Angka tersebut di luar jumlah orang dalam pemantauan. Pemprov merilis total sudah sebanyak 706 orang yang berada dalam pemantauan. Dari angka itu, 256 orang di antaranya selesai menjalani isolasi diri. Sedangkan 448 lainnya terus dipantau.

Dengan data tersebut, Pemprov Jabar merilis peta sebaran terkait dengan virus yang sudah dideklarasikan sebagai pandemi tersebut di wilayahnya.

Berdasarkan pemetaan tersebut, pola sebaran kasus virus asal Wuhan, Tiongkok di Jabar itu terkonsentrasi di perbatasan dengan ibukota Jakarta seperti Bogor, Depok, dan Bekasi. “Mayoritas di Bodebek, mengikuti pola karena episentrumnya ada di Jakarta,” katanya.

Langkah peta sebaran itu, jelas Ridwan Kamil, merupakan upaya Pemprov untuk transparan dalam menyampaikan informasi mengenai virus korona kepada masyarakat. Basis titiknya adalah kelurahan atau desa.

“Tak ada data pribadi pasien yang diumbar karena itu kepada lurah atau kepala desa yang wilayahnya masuk peta sebaran tersebut untuk segera melakukan tindakan edukasi dan preventif,” jelasnya.

Dalam kaitan itu, Pemprov Jabar pun mulai menggelar deteksi dini. Mereka mengaku sudah mendatangkan ribuan tes kit dari negara Asia yang sudah teruji dalam jumlah ribuan.

Tahap pertama, mereka bakal menyasar tenaga medis yang merawat pasien terkait korona, keluarga pasien, hingga tenaga kerja asing dan mereka yang baru datang dari luar negeri.

“Produknya ini dari luar negeri, sudah teruji. Jadi Pemprov sudah membeli duluan sebelum ramai seperti sekarang, pada saat kita tetapkan siaga satu,” ujar mantan Wali Kota Bandung itu.

Selain Labkesda Dinkes, mereka juga menggandeng Lab Mikrobiologi dan Parisitologi Fakultas Kedokteran Unpad dan Pusat Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi ITB untuk keperluan pengecekan proaktif tersebut..

Untuk memastikan semua proses penanganan tersebut berjalan, Pemprov Jabar sudah menyiapkan total anggaran sebesar Rp 74 miliar. Sebagian besar dibelanjakan untuk pembelian tes kit dalam skala besar.(Red)