Menteri Pertahanan AS Menolak Kerahkan Militer Untuk Redam Demonstrasi Kematian George Floyd

Internasional

KORANBOGOR.com,WASHINGTON-Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, tidak mendukung upaya penggunaan pasukan militer untuk memadamkan aksi protes berskala besar di seluruh wilayah negara itu yang dipicu oleh kematian warga kulit hitam George Floyd di tangan polisi Minneapolis, Negara Bagian Minnesota.

Dia mengatakan, penerjunan pasukan militer hanya boleh digunakan sebagai upaya terakhir. Presiden Donald Trump mengancam akan mengerahkan militer untuk menegakkan ketertiban setelah aksi protes berubah menjadi kerusuhan dan kekerasan di mana-mana.

“Pilihan untuk menggunakan satuan tugas aktif dalam peran penegakan hukum hanya boleh digunakan sebagai pilihan terakhir dan hanya dalam situasi yang paling mendesak dan mengerikan,” kata Esper.

“Kita tidak berada dalam salah satu situasi itu sekarang. Saya tidak mendukung permohonan UU Pemberontakan,” tambahnya saat menyampaikan sikap tersebut di Pentagon, Rabu (3/6) waktu setempat.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan AS menyatakan sekitar 1.600 pasukan militer aktif telah ditempatkan ke Washington DC untuk membantu pihak berwenang sipil mengawasi aksi demonstrasi. Pasukan itu dikerahkan dari markas di Fort Bragg dan Fort Drum pada Senin (1/6) malam waktu setempat.

“Tidak ada pasukan aktif yang dikerahkan di Washington DC sampai saat ini, tetapi pasukan aktif telah ditempatkan di pangkalan militer di National Capitol Region,” ucap juru bicara Pentagon, Jonathan Hoffman. Demonstrasi anti-rasisme itu dipicu oleh kematian George Floyd, warga kulit hitam asal Minneapolis pada 25 Mei lalu.

Dia tewas setelah lehernya ditekan dengan lutut oleh seorang petugas kepolisian Derek Chauvin yang menangkapnya karena diduga menggunakan uang palsu untuk belanja di toko swalayan.

Demonstrasi kali pertama pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS bahkan dunia.

Positif Covid-19

Hasil autopsi terbaru menunjukkan George Floyd positif terinfeksi virus korona. Dia diketahui terpapar Covid- 19 berdasarkan tes swab.

“Dari hasil tes swab post-mortem ditemukan positif untuk 2019-nCoV RNA,” tulis laporan hasil autopsi yang dirilis Kamis (4/6).

Kepala Pemeriksa Medis, Andrew Baker, mengatakan hasil tersebut memperlihatkan bahwa itu merupakan positif yang bertahan lama dari infeksi sebelumnya. Floyd diduga terpapar virus korona tanpa gejala beberapa bulan sebelumnya.

Baker juga menegaskan bahwa virus korona bukanlah penyebab kematian Floyd. Hasil autopsi sebelumnya mengungkap George Floyd tewas karena kardiopulmoner atau henti jantung.

Baker mengatakan leher Floyd tertekan selama lebih dari delapan menit ketika dicekik dengan lutut oleh polisi AS.

Namun, Baker mengatakan kesimpulan tersebut tidak bisa dikatakan sebagai penyebab utama kematiannya. Hasil autopsi menunjukkan sejumlah memar dan luka di kepala, wajah, mulut, bahu, lengan dan kaki.

Tidak ditemukan bukti bahwa luka-luka tersebut secara langsung menjadi penyebab kematiannya. Lebih dari 10.000 orang ditangkap dalam unjuk rasa yang digelar di berbagai wilayah AS.

Jumlah orang yang ditangkap bertambah ratusan orang setiap harinya. Ahli Bedah AS, Jerome Adams, memperingatkan ancaman gelombang dua pandemi Covid-19 akibat unjuk rasa massal yang dipicu kematian George Floyd.

Ribuan orang yang turun ke jalan berpotensi menularkan virus korona. “Demonstrasi merupakan aktivitas warga yang bertentangan dengan imbauan jaga jarak fisik dan berpotensi menjadi sumber baru penularan Covid-19,” paparnya.

Apalagi, AS saat ini masih berjuang keras untuk menekan penyebaran virus korona. AS bahkan menjadi negara dengan kasus dan kematian tertinggi di dunia akibat Covid-19. Hingga Kamis (4/6), AS mencatat 1.881.205 kasus infeksi dan 108.059 kasus kematian.. (Red)