Pemerintah Myanmar Bebaskan 2 Jurnalis Reuters

Internasional

KORANBOGOR.com,YANGOON-Dua jurnalis kantor berita Reuters akhirnya dibebaskan dari penjara di Yangon, Myanmar, Selasa 7 Mei 2019, setelah menghabiskan lebih dari satu tahun di balik jeruji besi. Keduanya dijebloskan ke penjara atas tuduhan membocorkan rahasia negara terkait peliputan mengenai negara bagian Rakhine dan etnis minoritas Rohingya.

Kedua reporter, U Wa Lone dan U Kyaw Soe Oo, ditangkap pada Desember 2017 saat sedang menyelidiki dugaan pembunuhan terhadap 10 pria dan anak-anak dari etnis Muslim Rohingya. Mereka dijatuhi vonis tujuh tahun penjara di bawah aturan era kolonial Myanmar.

April lalu, Wa Lone dan Kyaw Soe beserta beberapa kolega Reuters lainnya menerima penghargaan Pulitzer Prize atas liputan internasional.
“Hari ini adalah hari yang sudah kami nantikan,” ujar Chit Su Win, istri dari Kyaw Soe Oo, dilansir dari laman The New York Times.

“Sekarang, mereka dapat menerima langsung Pulitzer Prize. Saya berterima kasih kepada pemerintah yang membebaskan mereka. Saya tidak dendam kepada pemerintah,” lanjut dia.

Pembebasan Wa Lone dan Kyaw Soe merupakan bagian dari amnesti massal yang diberikan Presiden Myanmar Win Myint.

Pada 23 April, Pengadilan tinggi Myanmar menolak banding Wa Lone dan Kyaw Soe. Pengacara keduanya telah mengajukan banding ke Mahkamah Agung dengan alasan kurangnya bukti yang membuat Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditahan.

Tahun lalu, seorang polisi bersaksi di pengadilan bahwa sejumlah petugas keamanan telah sengaja ‘menaruh’ dokumen rahasia dalam barang bawaan kedua jurnalis untuk alasan penangkapan. Dalam persidangan, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo beberapa kali mengaku merasa dijebak oleh kepolisian Myanmar.

Pengadilan Tinggi Yangon sudah pernah menolak banding kedua jurnalis itu pada Januari lalu.

Vonis terhadap dua jurnalis Reuters dijatuhkan di tengah kritik dunia internasional kepada Myanmar atas permasalahan Rohingya yang tak kunjung rampung serta dugaan pembantaian yang dilakukan militer Myanmar di Rakhine.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menuduh militer Myanmar telah melakukan pembunuhan massal, perkosaan dan pembakaran yang dinilai dapat dikategorikan sebagai “pembersihan etnis.”

((Red/The New York Times)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.