Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar

Featured Kampus Kita

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Bimbingan dan konseling yang dikenal biasanya didapatkan ketika duduk di bangku menengah pertama dan menengah atas. Sebenarnya, bimbingan konseling itu sudah diberikan sejak duduk di bangku seklah dasar.

Bedanya ketika di SMP dan SMA ada guru khusus BK sedangkan di SD bimbingan konseling dilakukan oleh guru wali kelas.

Anak-anak yang duduk di bangku sekolah juga sudah memiliki masalah tetapi anak cenderung takut dan enggan untuk menceritakan masalah kepada gurunya.

Dengan demikian, guru SD dituntut memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perubahan sikap dan perilaku anak. Apalagi generasi milenial yang mengalami krisis moral rentan terhadap konflik baik dengan sekolah atau lingkungan keluarga.

Dengan adanya bimbingan konseling anak difasilitasi pembimbing untuk membantunya dalam menyelesaikan permasalahan.

Agar layanan bimbingan dan konseling di sekolah berjalan dengan efektif dan hasilnya sesuai dengan tujuan perlu adanya kegiatan-kegiatan pendukung BK diantaranya yaitu:

  1. Aplikasi instrumentasi

Salah satu layanan pendukung dalam BK adalah intrumensasi yang digunakan untuk mendapatkan informasi agar diperoleh data tentang kondisi  siswa dengan menggunakan alat ukur atau instrumen tertertentu. Hasil dari aplikasi akan ditafsirkan dan digunakan untuk memberikan bimbingan konseling kepada siswa yang bermasalah. Aplikasi instrumentasi dapat bersifat tes maupun nontes.

  1. Himpunan data

Guru perlu bukti yang kuat untuk menyimpulkan suatu permasalahan bukan hanya dari sekedar menyimpulkan dari apa yang diduga tetapi juga dengan cara menghimpun data yang bisa diperoleh dari observasi, wawancara lalu meninjau dari data sekolah. Guru mengamati secara berkala perubahan perilaku anak sehingga bisa diidentifikasi permasalahanya, bisa jadi tentang kemrosotan prestasi anak, kesulitan bergaul dengan teman sebaya, tidak menaruh minat bersekolah atau masalah lainnya. Selanjutnya guru melakukan wawancara pada orang-orang disekitarnya misal guru yang mengampu pelajaran lain atau teman dekatnya. Dari kegiatan-kegiatan tersebut dapat diperoleh himpunan data.

  1. Konseling

Selain meninjau guru perlu melakukan konseling langsung dengan siswa yang memiliki masalah. Perlu adanya komunikasi antara guru dengan siswa agar dapat ditemukan akar dari permasalahan. Guru hanya perlu mengadakan komunikasi verbal untuk meminimalisir terjadinya kontak fisik atau kesalahpahaman yang menimbulkan konflik baru.  Sebisa mungkin guru jangan bersikap seolah-olah mengintrogasi yang dapat membuat siswa menjadi enggan bicara atau mengutarakan permasalahannya. Buat anak merasa nyaman dalam obrolan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke akar permasalahannya.

  1. Kunjungan rumah

Permasalahan siswa bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang guru tetapi juga perlu adanya dukungan  dari lingkungan keluarganya. Di mana keluarga merupakan salah satu pihak yang mengetahui seluk beluk siswa lebih dalam dibandingkan gurunya.maka dari itu,keluarga memiliki peran penting dalam menyelesaikan permasalahan siswa. Guru perlu melakukan kunjungan rumah dengan menjadikan peran fasilitator antara orang tua dan anaknya.orang tua perlu bertukar pikiran atau saling memberi solusi dalam membantu anak memecahkan kesulitan yang dialaminya. Orang dewasa dianggap memiliki pemikiran yang lebih logis dan tentunya memiliki pengalaman hidup yang jauh lebih banyak dibandingkan sang anak sehingga guru dan orang tua yang harus membantu permasalahan anak.

  1. Konverensi kasus

Setelah semua data lengkap dan guru yakin tentang masalah siswa dan penyelesaian dari masalah tersebut, pihak sekolah juga turut andil memberi masukan atau membantu penyelesaian masalah melalui konverensi kasus dalam bentuk rapat pertemuan seluruh pihak sekolah.

  1. Alih tangan kasus

Jika masalah yang dihadapu anak benar-benar serius dan pihak keluarga serta pihak sekolah sudah berusaha semaksimal mungkin perlu diadakannya alih tangan kasus kepada ahlinya. Perlu adanya kerja sama antara orang tua, guru dengan para ahli yang memang memiliki keahlian sesuai dengan profesinya semisal psikiater, dokter, konselor, psikolog dan yang lainnya agar anak bisa mendapatkan pelayanan yang lebih optimal ketika menyelesaikan masalahnya.

Biodata Penulis

Penulis bernama lengkap Alifah Susilowati,biasa dipanggil Alifah merupakan seorang mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Gadis berusia 19 tahun asal Kebumen, Jawa Tengah, hobi menulis dan ingin mengembangkan kemampuannya dalam menulis serta memiliki impian agar hasil karya dapat diterima dan dikenal oleh publik. Baca karya lain dari penulis dapat ditemukan di IG: alifah99_ dan Wattpad: alifah99. (Red)