Dongeng Sebagai Instrumen Pembentuk Karakter Anak

Kampus Kita

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Masa anak-anak merupakan fase pertumbuhan yang cukup vital bagi kehidupan seseorang. Pada masa ini,segala yang didapatkannya baik dari lingkungan sekolah, keluarga maupun lingkungan pertemanan menjadi pondasi awal yang membentuk keperibadian seseorang.

Selain itu, daya imajinasi yang dimiliki oleh anak-anak sangat tinggi karena ia belum memahami batasan-batasan dalam realita kehidupan.

Dengan demikian, hal-hal positif dan pendidikan karakter sejak dini sangat dibutuhkan oleh anak-anak sehingga dapat menjadi individu yang terarah dan berkualitas dimasa yang akan datang. 

Ada berbagai macam hal yang dapat dilakukan untuk dapat membentuk karakter pada seorang anak. Satu diantara banyak cara ialah dengan melalui dongeng.

Dongeng merupakan sebuah cerita yang memiliki nilai-nilai moral dan berisi ajaran budi pekerti yang dapat membentuk karakter pada anak.

Dongeng memiliki tokoh dan alur cerita yang menarik sehingga mampu mengemas nilai moral yang dikandung dan menarik perhatian anak. 

Proses penyampaian nilai moral pada anak melalui dongeng ini tidak terlepas dari kondisi anak-anak yang masih memiliki daya imajinasi serta rasa ingin tahu yang tinggi.

Dengan dukungan kemasan cerita dalam dongeng yang menarik serta imajinasi anak yang tinggi maka nilai moral dapat meresap pada ingatan sehingga dapat mempengaruhi kepribadian dan watak anak kedepannya. 

Sebagai orang tua kedua bagi murid di sekolah, guru tentunya mempunyai peranan penting dalam membekali ilmu termasuk penanaman karakter pada anak.

Terlebih lagi, guru dinilai sebagai sosok yang berpendidikan yang diharapkan mampu menjadi panutan untuk peserta didiknya.

Guru juga harus bisa menanamkan nilai-nilai positif pada murid, karena guru adalah role model bagi peserta didik.Maka,dari itulah guru memiliki peran yang penting dalam pembentukan karakter.

Dengan demikian, dongeng menjadi salah satu cara yang efektif guru untuk membentuk karakter pada anak. Dalam hal ini utamanya adalah pada guru usia anak-anak atau Sekolah Dasar. 

Namun, dalam proses mendongeng diperlukan adanya komunikasi yang aktif antara guru dan murid, dimana guru harus selalu membatasi imajinasi anak dan mengarahkannya pada nilai moral yang sesungguhnya ingin disampaikan.

Hal ini dimaksudkan agar anak tidak salah dalam memahami cerita yang disampaikan dan dapat menimbulkan persepsi yang mungkin negatif pada anak.

Umumnya, dalam dongeng muncul tokoh protagonis yang memerankan kebenaran dan kebaikan untuk menciptakan situasi yang damai, aman, dan sejahtera dan hal ini yang kerap ditekankan pada anak-anak.

Sehingga, tokoh protagonis ini akan menjadi tokoh yang di gemari anak dan dapat memberi implikasi positif bagi anak-anak. 

Kegiatan mendongeng ini bertujuan untuk membangun dan membentuk karakter anak agar menjadi pribadi yang baik.

Mendongeng tidak hanya dilakukan di sekolah saja tetapi bisa juga dilakukan di lingkungan keluarga.

Strategi pembentukan karakter melalui dongeng dapat dilakukan dengan pembiasaan membaca dongeng dan pembiasaan mendengarkan dongeng.

Dengan kebiasaan ini, dapat meningkatkan pembentukan karakter pada anak karena dalam dongeng mengajarkan pesan moral dan mengandung nilai-nilai positif.

Kegiatan mendongeng ini akan menciptakan pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan.

(Red/Fatma Puji UtamiNim : 2078075003Asal : YogyakartaStatus : Mahasiswa PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta