Keluhan Mahasiswa dalam Menghadapi Pembelajaran Secara Daring

Bogor Now Kampus Kita

Oleh :Cristina Simbolon,Mahasiswi PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

KORASNBOGOR.commYOGYAKARTA-Pada awal penerapannya, banyak mahasiswa yang menanggapi kelas daring ini dengan baik, namun setelah berjalannya proses perkuliahan secara daring tersebut, banyak mahasiswa justru mengalami kesulitan dalam belajar.

Keadaan itu justru menurunkan mutu pembelajaran bagi para mahasiswa serta mutu pengajaran oleh para dosen.

Kondisi pandemi saat ini menuntut pendidik dalam hal ini adalah dosen untuk berinovasi mengubah pola pembelajaran tatap muka menjadi pola pembelajaran tanpa tatap muka.

Zhafira, Ertika, dan Chairiyaton (2020), menjelaskan bahwa terdapat model pembelajaran lain yang bisa digunakan oleh tenaga pengajar sebagai media penyampaian ilmu pengetahuan, yaitu pembelajaran daring dan pembelajaran campuran (kombinasi dari dua metode pembelajaran
yaitu tatap muka dan pembelajaran daring).

Hambatan dalam hal ini adalah hambatan yang dialami dosen di tengah kondisi Covid-19 ini pembelajaran dilaksanakan secara daring dan
tidak bisa dilaksanakan secara tatap muka di kelas.

Kondisi tersebut menuntut dosen untuk melakukan inovasi dalam proses pembelajaran khususnya pembelajaran melalui daring (dalam jaringan).

Menurut saya mengenai pembelajaran secara daring ini adalah lebih baik melakukan proses pembelajaran di kampus dari pada belajar daring.

Hal ini dikarenakan banyak sekali kesulitan yang di alami mahasiswa sehingga membuat merasa terbebani dikarenakan tugas yang di berikan terlalu banyak.

Saya juga sempat berpikir bahwa pembelajaran secara daring itu dapat memudahkan mahasiswa dalam melakukan pembelajaran.

Alhasil ternyata membuat para mahasiswa merasa tertekan. Tetapi mau bagaimana lagi, itu sudah merupakan kebijakan untuk belajar secara daring di rumah selama masa pandemi covid – 19 ini.

Menurut Arsyad (2011) media pembelajaran online atau sering disebut dengan e- learning merupakan media penunjang pendidikan dan bukan sebagai media pengganti pendidikan.

Prosesnya e-learning sebagai media distance learning menciptakan paradigma baru, yakni peran dosen yang lebih.

Seperti yang kita ketahui bahwa dosen yang menggunakan pembelajaran dengan model daring, menyatakan bahwa model daring tersebut sangat cocok untuk para mahasiswa. Pada awal pembelajaran daring, materi hanya diberikan

melalui Microsoft Word atau Power Point kemudian mahasiswa membaca, sehingga lama- lama mahasiswa merasa bosan.

Ketika dosen menyuguhkan pembelajaran daring melalui aplikasi zoom, google meeting, mahasiswa sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran dikarenakan bisa melihat wajah teman-teman lainnya di aplikasi belajar tersebut, walaupun hanya sebagian mahasiswa saja.

Apalagi bila mengerjakan latihan soal berupa kuis melalui Google Forms, link kampus, mahasiswa sangat antusias karena mereka bisa melihat langsung jawaban yang benar dan juga mereka juga dapat melihat langsung skor atau hasil dari pekerjaan mereka dari pada
mengerjakan tugas yang begitu banyak sekali sehingga membuat sebagian mahasiswa mengeluh.

Pemanfaatan sistem pembelajaran daring merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan dan memudahkan mahasiswa mengakses materi pembelajaran.

Riyanda, Herlina, dan Wicaksono (2020) menjelaskan bahwa beberapa hal yang dapat dilakukan selama pembelajaran daring (daring) adalah saling berkomunikasi dan berdiskusi secara online.

Mengenai belajar secara online atau kerja kelompok secara daring menurut saya mengalami beberapa kendala diantaranya:

Pertama, mengalami gangguan sinyal sehingga mahasiswa berusaha mencari sinyal ke tempat yang memang jaringan sinyalnya stabil.

Kedua, mencari tempat untuk keterbatasan koneksi internet.

Ketiga, kurangnya pemahaman terhadap materi yang disampaikan.

Keempat, dosen juga mengalami kesulitan dalam mengamati perkembangan mahasiswa. Kelima, kurangnya konsentrasi dalam belajar.

Saya sangat berharap sekali semoga pada masa pandemi ini cepat berakhir sehingga proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara tatap muka di kelas.

Demikian penjelasan mengenai apa saja yang menjadi keluhan mahasiswa dalam menghadapi pembelajaran secara daring.

Referensi:

Arsyad, A. (2011). Media pembelajaran

Riyanda, A. R., Herlina, K., & Wicaksono, B. A. (2020). Evaluasi Implementasi Sistem Pembelajaran Daring Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. Ikra- ITH Humaniora: Jurnal Sosial dan Humaniora, 4(1), 66-71.

Zhafira, N. H., Ertika, Y., & Chairiyaton, C. (2020) . Persepsi Mahasiswa Terhadap Perkuliahan Daring Sebagai Sarana Pembelajaran. Jurnal Bisnis Dan Kajian Strategi Manajemen, 4(1).