Kerja Keras Seorang Ibu

0
266

Untuk mereka yang selalu ada dalam suka maupun duka, mereka yang megajarkan kita apa itu arti kehidupan, mereka yang menuntun kita dari yang belum bisa  menjadi bisa, mereka yang mengajarkan kita mana yang benar mana yang salah.

KORANBOGOR.com-Ibu ialah sosok yang sangat berarti bagi banyak orang, pengorbanan,kasih sayang, semua ia lakukan tanpa meminta suatu balasan sedikutpun,begitupun Ibuku aku terlahir dari seorang Ibu yang hebat,Ibu membantu ayahku untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Saat semua orang masih terlelap dalam tidurnya,Ibuku sudah bangun dan akan memulai aktivitasnya,setiap pukul 03.30 pagi Ibu sudah siap untuk berangkat ke pasar, Ibuku adalah seorang pedangan sayur.Ibu mulai berjualan sejak aku kecil.

Ayahku hanya seorang buruh pabrik, tetapi sejak aku kelas 3 SD, Ayahku sudah tidak lagi bekerja sebagai buruh pabrik, kini Ayahku hanya membantu Ibu berjualan di rumah. Usaha yang Ibu jalani kini sudah ramai, semua kebutuhan keluarga tergantung oleh usaha itu.

Sejak kecil aku dididik menjadi anak yang mandiri,sejak SD aku sudah dibiasakan untuk bangun pagi dan membantu Ibu,sampai aku kuliahpun hal itu masih kulakuan.

Hari libur sekolahpun aku isi dengan membantu Ibuku, tidak seperti anak-anak yang lainnya yang mengisi libur sekolah dengan bermain.

Akupun iri dengan anak-anak diluar sana yang tidak harus merasakan membantu orangtuanya, aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya bangun tidur saat sudah siang. Terkadang aku merasa capek dengan semua keadaan ini.

Tetapi semua yang sudah kulakuan masih salah dimata Ibu, aku masih dianggap anak yang malas, padahal dibandingkan dengan teman-temanku yang lainnya aku merasa aku rajin, tidak ada temanku  yang hari liburnya disibukkan membantu orang tuanya, bahkan tetangga aku sendiri merasa bangga terhadapku, tetapi kenapa Ibuku sendiri tidak merasa bangga.

Saat Ibuku sakit dan harus di opname,aku selalu berada disampingnya, tetapi aku hanya sebatas menemaninya saja.

Aku malah sibuk dengan laptop dan gawaiku, sampai suatu ketika saat aku masuk ruang inapnya aku melihat saudaraku yang sedang membersihkan tubuh Ibuku dengan tisu basah, disitu aku merasa sedih,kecewa,kesal pada diriku sendiri karena aku merasa belum bisa merawat Ibu dengan baik.

Aku merasa  gengsi untuk melakukannya, padahal dahulu saat aku kecil Ibu merawatku dengan begitu sabar, bahkan saat aku sakit Ibuku berkata bahwa agar sakit yang kualami biar saja Ibu yang rasakan.

Sebegitu tidak pedulinya aku terhadapnya,aku tahu mungkin di hatinya terselip kekecawaan terhadap aku,karena aku belum bisa menjadi apa yang ia inginkan.

Ibuku memang tidak memliki pendidikan yang tinggi, tetapi ia mempunyai tekad kuat bahwa anaknya tidak boleh menjadi sepertinya, Ibu ingin anaknya sekolah setinggi mungkin agar bisa menjadi “orang”.

Meski sebagai anak tukang sayur tetapi aku sangat bangga dengan Ibu, Ibu orang yang sangat berjasa di kehidupanku tanpa adaya sosok Ibu aku tidak bisa seperti ini.

Makasih Ibu sudah merawatku sejak kecil, semua perjuanganmu tidak akan bisa tergantikan oleh apapun.

Kasih sayang yang kau berikan tidak bisa digantikan oleh apapun, Ibu tetaplah berda di sampingku, tetap ingatkan aku mana yang salah dan mana yang benar.

Aku tahu di dalam doamu terselip namaku. Ibu terimakasih telah membesarkanku sampai saat ini, maaf hanya kata itu yang bisa kuucapkan,aku tahu semua pengorbananmu tidak bisa kugantikan oleh apapun. Aku selalu menyayangimu Ibu.

 

(Red/Nurdiana Mahasiswi Aktif Di Politenik Negeri Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here