Kondisi Pendidikan di Indonesia Saat ini

Kampus Kita

Salam dan Bahagia untuk Kita semua.
KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Pertama-tama kita panjatkan puji sukur kehadirat allah yang maha esa yang telah memberikan rahmat dan hidahyahnya sehingga saya dapat menyelesaikan artikel ini dengan baik, sebelum masuk ke inti pembahasan saya meminta maaf jika dalam pembahasan nanti banyak kekurangan dan menyinggung pihak-pihak tertentu karan artikel saya ini bener-benar apa berdasarkan fakta pendidikan di Indonesia pada saat ini.
Kita tentunya tau apa itu pendidikan, pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan pendidik melalui bimbingan, pengajarn dan pelatihan adar peserta didik mengalami proses diri kearah tercapai dengan demikian, pendidik di harapkan dapat membimbing pendidik menjadi pendidik yang berbudi luhur, santun dan tentunya siap untuk bersaing di era Globalisasi ini. Berbakti kepada orang tua, guru maupun mengabdikan diri untuk masyarakat. Pendidikan berasal dari kata dasar didik yang artinya memelihara dan member latihan, ajaran,bimbingan mengenai ahlak dan kecerdasan.
Jangan sampai baik buruknya prestasi siswa hanya di bebenkan di guru. tidak seperti itu seharusnya setiap prestasi siswa menurun selalu guru yang menjadi kiblat permasalahannya, padahal banyak factor yang mempengaruhi prestasi siswa menurun tidak semuanya karna guru seperti faktor orang tua, lingkungan,dan dirinya sendiri. Terutama adalah peran orang tua sendiri anak usia SD, SMP, maupun SMA harus di pantau dan di awasi setelah pulang dari sekolah dan berada di rumah, entah itu porsi belajarnya entah bermainnya. Hal ini mengantisipasi anak salah bergaul dan terjerumus dalam pergaulan yang bebas. Karna faktor lingkungan adalah faktor yang sangat berpengaruh untuk menunjang terbentuknya pribadi siswa tersebut.

Realitas saat ini sangat miris. Apalagi di Indonesia banyak siswa yang belum memiliki pribadi yang berbudi luhur banyak siswa/I di Indonesia yang belom terbentuk karakternya dan pribadinya apalagi di era globalisasi saat ini semakin runyam kepribadian siswa/I di Indonesia ini. Kasus demi kasus semakin menjadi kasus siswa berani kepada guru, guru menjadi bulian para siswa peristiwa-peristiwa tersebut harusnya tidak terjadi, inilah permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan sungguh ironi yang perlu di tuntaskan sampai ke akar-akarnya peran orang tua juga harus ikut andil untuk menuntaskan permasalahan tersebut, di rumah siswa harus di ajari tatakrama, di ajari tutur kata lemah lembut dan yang paling utama adalah AGAMA seorang siswa akan baik dan mempunyai ahlak ketika seorang siswa patuh dan menaati semua peraturan agama, semua agama mengajarkan kebaikan semua agama mengajarkan cinta dan kasih sayang.

Semua aspek-aspek tersebut harus berkolaborasi menjadi kuda-kuda yang kokoh untuk membangun pendidikan mencetak benih-benih yang unggul untuk masa depan Indonesia yang akan datang.
Dari tahun ketahun, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dan maju. Negara-negara Berkembang dan Negara-Negara Maju bersaing dalam bidang teknologi Indonesia harus mampu bersaing dengan Negara-Negara yang lain.

Perlu kita ketahui sebuah Negara di katakana maju bila pendidikan di Negara tersebut juga maju. Bagai mana dengan Indonesia? Siswa/I Indonesia saat ini, kesadaran siswa/I dalam kewajiban belajarnya sudah hilang. Mereka hanya ingin yang instan tanpa berusaha dengan gigih mereka sekarang lebih mengandalkan internet mereka tergantung dengan internet alhasil ketika ujian atau semesteran nilai mereka sangat tidak memuaskan dan harus mengikuti remedy untuk memperbaiki nilai.

Sungguh PR besar yang harus di perbaiki oleh orang tua, guru dan pemerintah jika ingin Negara Indonesia tidak ingin tertinggal dengan Negara-Negara yang lainnya.

Beberepa faktor yang mengakibatkan mutu pendidikan sulit untuk di tingkatkan antara lain:
Kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional mengunakan pendekatan educational production function yang tidak konsekuen.

Penyelenggaraan pendidikan secara Sentrallistik dan jawa sentris. Keputusan brokrasi dalam hal ini hampir menyentuh semua aspek sekolah, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi sekolah tersebut akibatnya sekolah kehilangan kemandirian, motivasi, dan inisiatif untuk mengembangkan lembanganya

Peran serta masyarakat dalam pengelolaan pendidikan masih kurang. Partisipasi masyarakat dalam pendidikan hanya bersifat dukungan dana. Padahal yang lebih penting adalah partisipasinya dalam proses pendidikan yang meliputi: pengambil keputusan, monitoring, evaluasi dan akuntabilitas.

Usaha yang di lakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan yaitu :

1-Meningkatkan anggaran pendidikan pemerintah bertanggung jawab untuk menangguang biaya pendidikan bagi warganya baik Negeri maupun Swasta karena pendidikan adalah tolak ukur kemajuan bangsa.

2-Manajemen pengelolaan pendidikan yang baik harus memperhatikan profesionalisme dan kreativitas lembaga penyelenggaraan pendidikan

3-Bebaskan sekolah dari suasana bisnis sekarang banyak sekolah yang berkedok sekolah padahal aslinya hanya berbisnis yang memperkaya oknum-oknum tertentu. Sehingga melenceng dari tujuan pendidikan

4-Perbaiki Kurikulum penyusunan kurikulum yang hendaknya mempertimbanngkan potensi alam,sumber daya manusia maupun sarana prasarana yang ada. Pendidikan demokratis harus membekali warga Negara dengan dasar yang teguh dalam sosio-ekonomis, mendorong tanggung jawab dan tindakan yang berani di segala bidang, memerangi penyalahgunaan propaganda.

5-Pendidikan Agama pendidikan agama bukan salah satu penyampaiyan dogma atau salah satu penyampaian dogma atau pengetahuan salah satu agama pada siswa tetapi sebagai penginternasionalisasi nilai-nilai kebaikan, kerendahan hati, cinta kasih.

6-Pendidikan yang melatih kecerdasan kritis sikap yang kritis dan toleran, akan merangsang tumbuhnya kepekaan sosial dan rasa keadilan. Oleh karna itu di harapkan bisa mengatasi kemelut sosial,budaya, politik dan ekonomi bangsa ini.

7-Pemberdayaan Guru Guru hendaknya lebih kreatif, inovatif, trampil, berani berinisiatif serta memiliki sikap politik yang jelas.

8-Memperbaiki Kesejahteraan Guru. Guru merupakan factor dominan dalam penyelenggaraan pendidikan. Oleh karna itu upaya perbaikan kesejahteraan guru perlu di tingkatkan.Dengan demikian, guru tidak hanya di tuntut untuk meningkatkan wawasan maupun mutu pengajarannya serta menghasilkan output yang baik. *

(Red/ Abdul Malik Ilham Pradana,Mahasiswa dari Universitas Sarjanawiata Tamansiswa )