Mengenalkan Literasi Pada Anak Sekolah Dasar, Mungkin Kah?

Bogor Now Kampus Kita

Oleh: Andini Dwi Kartika,Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sarjanawiyata Tamansiwa)

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Membaca, menulis, dan berhitung dahulu baru mulai diajarkan pada tahun pertama sekolah dasar. Saat itu usia masuk SD yang berlaku secara luas adalah 6,5-7 tahun.

Tetapi sekarang, banyak SD yang mensyaratkan anak sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung untuk dapat diterima di sekolah tersebut.

Usia memulai pendidikan dasar juga telah bergeser; anak yang belum genap berusia 6 tahun sudah dapat diterima di beberapa SD tertentu. Fenomena ini tidak jarang menimbulkan kepanikan orangtua, ditambah lagi dengan menjamurnya kursus- kursus baca-tulis-hitung yang ditujukan untuk anak usia prasekolah.

Lalu apasih yang dimaksud dengan literasi itu? Dilansir dari wikipedia, istilah literasi dalam bahasa Latin disebut sebagai literatus, yang berarti orang yang belajar.

Secara garis besar, literasi sendiri ialah istilah umum yang merujuk pada kemampuan dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, juga memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain,literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan seseorang dalam berbahasa. Sekarang ini, pendidikan literasi gencar dilakukan oleh para praktisi pendidikan untuk mencetak individu yang tidak hanya cerdas dalam bidang akademik, namun juga memiliki pola pikir kritis dan logis. Praktiknya tentu saja tidak harus terpaku pada pembelajaran di sekolah.
Orang tua di rumah pun perlu turut andil dalam menanamkan pendidikan literasi pada anak-anak mereka mulai dari usia prasekolah.

Tujuan utamanya bukan hanya menekankan pada kemampuan anak untuk membaca atau menulis . Kedua jenis kemampuan tersebut sebenarnya hanya menjadi landasan bagi tujuan yang lebih luas, yakni membentuk generasi yang mampu berpikir kritis dalam menyikapi informasi.
Disini terdapat beberapa kiat yang bisa kita lakukan untuk mengoptimalkan kemampuan literasi pada anak sejak dini antara lain :

  1. Melatih kemampuan dan mengenalkan anak membaca, menulis dan berhitung sejak dini Pengenalan literasi untuk anak sejak dini bisa dimulai dengan kebiasaan membacakan buku cerita atau dongeng pada anak secara rutin oleh orangtua di rumah. Meski terkesan seperti kegiatan sederhana, membacakan buku pada anak adalah tahap awal mengenalkan mereka pada dunia literasi. Adanya isu mengenai rendahnya minat baca yang sudah ada sejak dulu. Bahkan hingga
    saat ini pun, angka minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Menurut UNESCO yang menyebutkan Indonesia berada di urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia,
    cuma 1 orang yang rajin membaca. Peningkatan minat baca tentunya tidak akan bertambah begitu saja apabila tidak ada kebiasaan mengenalkan buku sejak dini.
    Beberapa penelitian menyebutkan proses belajar membaca merupakan fase penting anak usia pra sekolah. Dalam sebuah penelitian Kuo, dkk (2004) yang menganalisis data Survey of Early Childhood Health (NSECH) tahun 2000, menyebutkan orang tua di US yang memiliki kebiasaan membacakan buku untuk anak akan mempengaruhi ketertarikan anak terhadap buku. Selain itu, kegiatan ini juga akan menstimulus literacy skill pada anak. Anak-anak yang dibacakan buku oleh orang tuanya sejak dini berpotensi senang membaca dan dapat meningkatkan kemampuan bahasanya dibandingkan anak-anak yang tidak dibacakan
    buku. Keuntungan lainnya adalah adanya hubungan emosional yang kuat (bonding time) antara orang tua dengan anak. Jadi, manfaat yang terasa tidak saja aspek kognitif, tetapi juga aspek emosional..
  2. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis anak
    Tingkat literasi yang tinggi akan berbanding lurus dengan kemampuan seseorang untuk menerima, mengolah, dan menyikapi setiap informasi yang diterimanya. Oleh karena itu, pendidikan literasi yang diterapkan pada anak sejak dini berperan sebagai fondasi bagi mereka untuk bisa memiliki kemampuan berpikir kritis dan logis ketika dihadapkan
    dengan berbagai situasi. Pola pikir kritis diperlukan sebagai investasi yang akan berguna saat anak mulai memasuki dunia masyarakat yang sebenarnya di masa mendatang.
  3. Mempersiapkan anak untuk masuk sekolah.
    Mengenalkan poin-poin utama dalam pendidikan literasi pada anak sejak dini akan membantu mereka mempersiapkan diri saat memasuki dunia sekolah. Perkembangan sosial-emosional, kognitif, bahasa, dan literasi adalah sejumlah aspek penting yang harus dimiliki anak. Aspek-aspek tersebut saling berhubungan satu sama lain dan dapat
    didukung dengan penerapan pendidikan literasi pada anak sejak dini.
    Tahapan literasi awal yang disini meliputi bahasa lisan dan tulisan serta pengetahuan mengenai angka dan huruf menjadi salah satu kunci keberhasilan anak usia dini dalam membaca. Kemampuan ini akan bisa diandalkan ketika mereka mulai mendapatkan pembelajaran di sekolah.
  4. Perkembangan literasi yang baik berpengaruh terhadap perkembangan akademik anak Pendidikan literasi yang telah diterapkan sejak dini akan memberikan dampak positif terhadap prestasi akademik seorang anak. Praktik pengenalan literasi awal dengan membacakan buku pada anak terbukti dapat membuat anak lebih sukses dalam bidang akademik. Hal tersebut dikarenakan anak yang telah terbiasa dikenalkan dengan dunia
    literasi memiliki kemampuan belajar dan berkomunikasi yang lebih baik dari pada anak lainnya yang belum mendapatkan pengenalan mengenai literasi. Kemampuan akademik tersebut juga ditambahkan dengan kemampuan memecahkan masalah logis seperti dalam pengerjaan soal-soal matematika.