Nanopartikel Perak dari Ekstrak Daun Bangun-bangun: Solusi Ampuh untuk Mengatasi Infeksi oleh Bakteri

0
390

KORANBOGOR.com,MEDAN-Infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroba patogen, seperti bakteri dan jamur.Infeksi pada luka terjadi karena aktivitas bakteri Staphylococcus aureus yang ditandai dengan timbulnya nanah.

Pengobatan terhadap infeksi Staphylococcus aureus dilakukan dengan memberikan antibiotik secara oral atau intravena.

Beberapa antibiotik yang digunakan secara komersial untuk mengobati infeksi pada luka yaitu penilisin,metisilin, sefalosporin,eritromisin,linkomisin,vankomisin dan rifampisin.

Penggunaan antibiotik komersial dalam jangka panjang untuk mengobati infeksi dapat memicu resistensi pada Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Untuk mengatasi hal tersebut,dilakukan pemberian antibiotik lain seperti vankomisin. Namun, meningkatnya penggunaan antibiotik vankomisin mengakibatkan resistensi dan mengurangi sensitifitas Staphylococcus aureus terhadap vankomisin.

Hal yang sama juga terjadi meskipun digunakan antibiotik komersial jenis lain.Disamping itu,bakteri juga tetap resisten meskipun dosis antibiotik ditingkatkan.

Sejauh ini,mekanisme resistensi bakteri belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, resistensi diduga terjadi karena adanya mutasi pada bakteri sehingga terjadi perubahan dan pengaturan ulang dinding sel.

Dengan adanya mekanisme ini, antibiotik komersial menjadi tidak ampuh lagi untuk mengobati infeksi pada luka.

Oleh karena itu, solusi yang lebih ampuh diperlukan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya yaitu dengan memberikan antibiotik jenis lain yang mempunyai aktivitas antibakteri yang lebih tinggi.

Dewasa ini, sudah banyak penelitian mengenai aplikasi nanopartikel sebagai antibakteri. Nanopartikel yang banyak digunakan adalah nanopartikel perak karena terbukti sebagai antibakteri yang lebih ampuh terhadap MRSA.

Selain itu, nanopartikel perak juga sudah banyak digunakan sebagai bahan pelapis peralatan medis karena dapat menahan kontaminasi bakteri.

Produksi nanopartikel perak melibatkan suatu senyawa yang dapat mereduksi ion perak dalam larutan perak nitrat.

Reaksi reduksi ini akan menghasilkan logam perak yang berukuran nano. Sebelumnya, reduksi ion perak pada produksi nanopartikel perak banyak menggunakan senyawa kimia seperti natrium borohidrida, akan tetapi proses ini menghasilkan produk samping yang berbahaya bagi lingkungan.  

Oleh karena itu, ekstrak tanaman dapat dimanfaatkan sebagai penggantinya karena terbukti mengandung senyawa pereduksi ion perak,seperti asam fenolik dan alkaloid. Selain itu, metode ini lebih sederhana dan aman bagi lingkungan dibandingkan dengan menggunakan senyawa kimia.

Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan pada produksi nanopartikel perak yaitu tanaman bangun-bangun dengan nama ilmiah Plectranthus amboinicus.

Tanaman bangun-bangun dikenal sebagai tanaman aromatik karena daunnya memiliki aroma yang khas.Sebelumnya,daun tanaman ini sudah banyak digunakan untuk mengobati penyakit infeksi oleh bakteri.

Pada tahun 2009, tim peneliti dari Brazil mengemukakan bahwa ekstrak daun bangun-bangun mempunyai aktivitas antibakteri yang baik terhadap MRSA.

Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman bangun-bangun mengandung asam fenolik dan senyawa flavonoid yang mempunyai aktivitas antibakteri terhadap MRSA. Flavonoid dapat merusak membran sitoplasma bakteri sehingga menyebabkan kerusakan pada dinding sel bakteri.

Oleh karena itu,selain mengandung senyawa pereduksi,ekstrak daun bangun-bangun juga mengandung senyawa antibakteri sehingga dapat meningkatkan potensi nanopartikel perak sebagai antibakteri.

Produksi nanopartikel perak menggunakan ekstrak daun bangun-bangun dapat dioptimasi dengan memperhatikan kondisi produksi,antara lain konsentrasi ekstrak daun bangun-bangun, konsentrasi ion perak, suhu, pH, dan waktu reaksi.

Optimasi kondisi ini akan menghasilkan nanopartikel dalam jumlah maksimum dengan sifat yang sesuai dengan keinginan. Sifat nanopartikel perak yang paling mempengaruhi kemampuannya sebagai antibakteri adalah ukurannya.

Semakin kecil ukuran nanopartikel perak,maka semakin besar efek antibakterinya.Dalam hal ini,jika ukuran partikel semakin kecil,maka luas permukaan nanopartikel perak semakin besar sehingga meningkatkan kontak nanopartikel tersebut dengan bakteri dan mampu meningkatkan efektivitas bakterisidal.

Pada saat nanopartikel perak kontak dengan bakteri, nanopartikel perak akan mempengaruhi metabolisme sel dan menghambat pertumbuhan sel.

Sampai saat ini, mekanismenya belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, salah satu kemungkinan yang dikemukakan oleh tim peneliti dari Korea pada tahun 2007 adalah terbentuknya radikal bebas dari permukaan perak.

Dalam hal ini, pembentukan radikal bebas yang tidak terkontrol dapat merusak membran lipid dan merusak fungsi membran sel bakteri.

Oleh karena itu, saat nanopartikel perak masuk ke dalam membran sel, sintesis protein menjadi terhambat dan berujung pada kematian sel. Mekanisme ini membuat bakteri menjadi tidak resisten terhadap nanopartikel perak.

Aktivitas antibakteri nanopartikel perak yang diproduksi menggunakan ekstrak daun bangun-bangun yang lebih tinggi membuat nanopartikel perak dapat diaplikasikan dalam bidang yang lebih luas,diantaranya pada lapisan gigi palsu,kaleng makanan,senjata, dan peralatan lainnya.

Hal ini membuat kebutuhan akan nanopartikel perak menjadi meningkat.Oleh karena itu, produksi nanopartikel perak sebaiknya dilakukan dalam skala yang lebih besar agar dapat memenuhi permintaan pasar.

Akan tetapi, dosis penggunaan nanopartikel perak perlu diperhatikan karena tubuh hanya membutuhkan logam dalam jumlah yang minim.Ketika tubuh dipaparkan logam dalam jumlah berlebih, itu akan menjadi zat toksik yang berbahaya bagi tubuh.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan nanopartikel perak yang diproduksi menggunakan ekstrak daun bangun-bangun dalam dosis yang cukup dapat menjadi solusi ampuh  untuk mengobati infeksi pada luka meskipun bakteri yang menyerang merupakan bakteri yang sudah bersifat resisten terhadap antibiotik komersial

(Red)

Penulis :Putry Yosefa Siboro,Mahasiswa Fakultas Teknik Bioproses,Institut Teknologi Del

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here