Pembelajaran Daring pada Siswa Sekolah Dasar (SD), Efektifkah?

Bogor Now Kampus Kita

Oleh : Atikah Trisna Sari

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Pembelajaran daring akibat dari pandemi Covid-19 rupanya masih belum juga berakhir, prediksi puncak di bulan Ramadhan ternyata salah besar. Hingga kini angka pasien dengan positif Covid-19 terus meningkat.

Berbagai upaya telah di lakukan oleh pemerintah, termasuk mengurangi segala aktivitas yang dapat berisiko pada peningkatan jumlah postif Covid-19.

Hal ini sangat berpengaruh pada berbagai sektor di Indonesia, tidak terkecuali di di bidang pendidikan.Sejak awal kemunculan Pandemi Covid-19 di Indonesia, pendidikan di Indonesia termasuk cepat dalam merespon keadaan. 

Pembelajaran daring menjadi satu-satunya solusi dari kementerian pendidikan. Seperti yang kita ketahui bersama, pembelajaran tatap muka ditiadakan dan beralih pada pembelajaran daring (dalam jaringan).

Pembelajaran daring atau yang sering di sebut pembelajaran online ini  berlaku untuk semua jenjang pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Apakah ini adalah keputusan yang terbaik? Mungkin ini memang keputusan yang terbaik untuk menekan angka kejadian Covid-19 di Indonesia.

Namun, bagaimana dengan sistem pendidikannya? Apakah tujuan pendidikan dapat tercapai? Adakah kendala lain yang timbul dari sistem yang baru ini?

Pembelajaran daring hingga kini masih mengalami kendala. Tidak dapat di pungkiri pendidikan tidak dapat berjalan dengan maksimal dan tujuan pendidikan juga tidak dapat tercapai sepenuhnya.

Pendidik tidak dapat menjamin peserta didik telah mengerti berbagai materi yang di sampaikan. Kendala  jelas akan selalu ada dalam penerapan sistem baru, termasuk dalam pembelajaran daring.

Terlebih lagi pada jenjang sekolah dasar, dimana usia anak masih tergolong sangat muda dan penuh dengan dunia bermain. Kemampuan anak dalam mengoperasikan gadget juga belum maksimal. 

Pembelajaran daring menimbulkan berbagai permasalahan terutama di sekolah dasar. Peserta didik di sekolah dasar seharusnya mendapat pendidikan dasar yang bersumber dari gurunya atau dengan kata lain mereka belum mampu untuk memahami suatu materi sendiri.

Namun, dengan pembelajaran daring guru tidak dapat mengawasi peserta didiknya, tidak dapat memastikan apakah peserta didik mengerti atau tidak, sedang penilaiaan atau evaluasi tetap harus dilakukan.

Hal ini menyebabkan orang tua harus turun tangan untuk mengajari anaknya atau membantu anak dalam mengerjakan tugas. 

Pembelajaran daring siswa sekolah dasar bagi beberapa orang tua yang memiliki cukup waktu luang mungkin ini buka suatu kendala yang berarti, namun bagi orang tua yang bekerja dan tidak memiliki cukup waktu luang mungkin ini akan menjadi hal yang menyusahkan.

Selain memikirkan pekerjaan sendiri rupanya harus memiliki pekerjaan tambahan untuk menjadi guru si anak selama di rumah. Hingga muncul pernyataan “bukan anak yang sekolah, tetapi orang tuanya”.

Hal ini di sebabkan sebelum memahamkan ke anak, orang tua harus mempelajari materi anaknya terlebih dahulu. Bukan hal yang mudah bagi orang tua memahamkan anaknya tentang materi pelajaran, apalagi latar belakang orang tua yang juga beragam.

Permalasahan rupanya juga timbul dimana timbul kekerasan karena orang tidak sabar ketika mengajar anaknya.

Hal ini seharusnya kembali menjadi perhatian, agar menemukan solusi untuk pembelajaran yang efektif dalam masa pandemi ini khususnya pada jenjang sekolah dasar, karena ternyata pembelajaran daring untuk jenjang sekolah dasar belum bisa di katakan efektif. 

(Red/Atikah Trisna Sari mahasiswi PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta)