PENDIDIKAN DASAR DAN PREMANISME

Bogor Now Kampus Kita

Oleh : Diah Ayu Saputri Mahasiswi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Di Negara Indonesia ini masih banyak sekali anak-anak yang tidak mendapat pendidikan yang layak atau bahkan mereka tidak mengenyam pendidikan dasar sama sekali.

Kebanyakan dari anak-anak tersebut tidak mengenyam pendidikan dasar atau tidak mendapatkan pendidikan yang layak diakibatkan karena faktor ekonomi orang tua yang rendah sehingga tidak memungkinkan mereka untuk masuk atau duduk di bangku sekolah.

Karena banyaknya anak yang tidak mengenyam pendidikan, kebanyakan dari mereka malah menjadi anak jalanan dan akhirnya menjadi salah pergaulan.

Banyaknya anak jalanan yang berprofesi sebagai preman atau alat preman untuk mendapatkan uang di masyarakat tampaknya dianggap biasa.

Keberadaan anak jalanan, sesungguhnya mengindikasikan gagalnya pendidikan dasar di Indonesia yang memunculkan fenomena premanisme, tawuran pelajar, dan kenakalan remaja.

Seharusnya anak-anak tersebut berada di sekolah, duduk dan belajar di dalam kelas sebagai proses perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak memiliki pengetahuan jadi berpengetahuan banyak.

Namun dikarenakan faktor ekonomi yang tidak memungkinkan akhirnya anak-anak tersebut menjadi anak jalanan yang salah bergaul dan tidak berpendidikan dan tidak sering pula mereka terlibat dalam kejahatan.

Kejahatan yang terjadi di masyarakat disebabkan karena tersedianya sarana dan prasarana yang sudah melembaga.

Sarana dan prasarana tersebut melembaga sebagai konsekuensi dari keinginan masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Masyarakat berasumsi bahwa dengan pendidikan yang tinggi, akan mempermudah mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan hidup yang layak.

Oleh karena itu, orang tua berupaya menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah dasar dan menengah favorit.

Namun, sayangnya tidak semua orang tua atau bahkan kebanyakan besar masyarakat Indonesia tidak mampu untuk memenuhi/mewujudkan keinginan tersebut.

Premanisme muncul karena adanya kesenjangan pemenuhan keinginan di masyarakat untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang baik.

Dengan kata lain, pendidikan yang salah akan mempengaruhi guru dan anak didik untuk berperilaku preman. Artinya, masyarakat yang tidak mampu sekolah cenderung memilih “sekolah” di jalanan.

Peluang bagi mereka yang dijalanan untuk menjadi preman semakin terbuka. Menjadi preman bukan turunan dari orang tua, melainkan melalui proses pergaulan.

Bagi anak jalanan, mencuri, mencopet, menjambret, dan memeras bukan perbuatan yang salah. Mereka tidak mengenal nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan tenggang rasa.

Bagi mereka, hidup adalah makan dan minum. Namun mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut, dan berbuat jahat menjadi alternatif untuk mereka memenuhi kebutuhan dan bertahan hidup.

Indikasi keberhasilan pendidikan dapat ditangani dengan semakin mengecilnya tindak kejahatan di masyarakat.

Oleh karena itu, pendidikan seharusnya berorientasi mendidik moral bangsa agar menjadi bangsa yang berkarakter baik.

Pendidikan di Indonesia harus diperuntukan untuk seluruh rakyat Indonesia. Yang berarti termasuk juga untuk mereka yang berada/tinggal di jalanan, miskin, tertindas, terampas haknya, dan terkucilkan di masyarakat, agar mereka bisa hidup sejahtera lahir dan batin.

Permasalahan yang dihadapi pemerintah dan masyarakat sekarang ialah, bagaimana memperoleh pendidikan yang berkualitas dengan memperhatikan  nilai-nilai kemanusiaan dan mampu memandirikan anak didik.

Selain premanisme dalam anak jalanan, Indonesesia juga dihadapkan dengan premanisme di tataran/kalangan elit pendidikan.

Hal ini tampak dengan adanya kolusi, korupsi, dan nepotisme. Masalahnya, mana dulu yang harus direkonstruksi agar pendidikan di Indonesia ini maju.

Apakah membenahi korupsi, kolusi, dan nepotisme di tataran/kalangan elit terlebih dahulu, ataukah mewujudkan keinginan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

Inilah pekerjaan rumah untuk para pendidik dan para calon pendidik yang memerlukan jawaban segera, agar anak didik kita dapat berkualitas (kompeten) dan mandiri dalam memasuki persaingan global di masa mendatang.