Problematika Pendidikan di Sekolah Dasar

Kampus Kita

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Berbagai permasalahan pendidikan di sekolah dasar sepertinya tidak habis dibicarakan.Masalah-masalah yang akhir-akhir ini mencuat yaitu mutu pendidikan, perubahan kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, sistem evaluasi, sertifikasi guru, dan masalah-masalah lain yang menjadi proses belajar mengajar.

Persoalan alam pembelajaran merupakan suatu dinamika kehidupan guru dan murid di sekolah. Masalah itu tidak akan pernah habis untuk dikupas dan tidak pernah tuntas dibahas. Maka dari itu, guru hendaknya dengan seprofesional mungkin, begitu juga dengan murid-murid, setiap tahun berganti murid, masalah yang dihadapi guru akan berbeda pula. 

Salah satu masalah yang juga menarik untuk segera ditangani secara mendalam salah satunya adalah permasalahan pembelajaran di dalam kelas. Masalah-masalah tersebut antara lain :

1.      Guru kurang menguasai materi pembelajaran

Guru yang kurang menguasai materi akan membuat siswa sulit untuk memahami apa yang telah diajarkan karena pemahaman setiap siswa berbeda-beda. Bisa-bisa konsep yang diajarkan akan melenceng dari konsep yang seharusnya.

Solusi :

  1. Guru haruslah sering membaca dan mempelajari dengan detail apa yang akan dia ajarkan kepada siswanya sehingga pada waktu pembelajaran berlangsung semua tersampaikan dengan baik.
  2.   Guru mengajak siswa untuk sama-sama berfikir dan membangun (menkonstruksi) pengetahuannya juga secara bersama-sama.

2.      Guru kurang kreatif dan inovatif dalam mengajar

Guru hanya menggunakan metode ceramah dan siswa hanya sebagai pendengar sehingga pelajaran terasa kurang menarik sehingga siswa menjadi jenuh dan kurang memperhatikan.

Solusi :

  1. Guru harus sering melatih diri untuk lebih banyak berkreasi dalam mengajar, seperti mengikuti seminar-seminar atau workshop yang dapat menambah pengalaman baru.
  2. Sering bertukar pikiran dan pengalaman sesama guru agar lebih banyak ilmu yang didapat.
  3.  Guru harus mampu membuat media-media pembelajaran yang inovatif dan kreatif sehingga menarik siswa untuk lebih memperhatikan proses pembelajaran.

3.      Kurangnya kesiapan guru dalam mengajar

Guru tidak siap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Seperti contohnya saat ini ketika pergantian kurikulum terjadi, dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013, terjadi kebingungan luar biasa dari guru-guru dalam menjalankan metode dan model pembelajaran. Dari pembelajaran yang terpisah-pisah antar bidang studi menjadi pembelajaran terpadu tematik integratif membuat kebingungan guru dalam mengajar.

Sehingga tidak semua guru mampu menerapkan dengan cepat perubahan tersebut. Hal tersebut membuat pembelajaran kurang maksimal karena proses ini memerlukan sosialisasi yang tidak sebentar.

Guru pun juga harus siap mengahdapi perubahan terhadap pergantian siswa setiap tahunnya. Setiap tahun  siswa berganti-ganti, tentunya dengan watak dan karakter yang berbeda pula.

Solusi :

  1. Guru harus bersiap diri atas segala kemungkinan perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan.
  2.  Pergantian terhadap kurikulum harus dikaji secara mendalam sehingga tidak membuat guru dan siswa kebingungan terhadap perubahan.

4.      Kurangnya konsentrasi siswa

Konsentrasi siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain :

a.       Lingkungan

Faktor lingkungan di sini adalah faktor dari sekelilingnya. Misalnya, anak diberi tugas menggambar. Pada saat yang bersamaan, ia mendengar suara ramai dan itu lebih menarik perhatiannya sehingga tugasnya pun diabaikan. Berarti lingkungan mempengaruhi konsentrasinya.

b.      Psikologi

Faktor psikologis anak juga bisa mempengaruhi konsentrasi anak. Anak yang mengalami tekanan, ketika mengerjakan sesuatu ia bisa menjadi tidak konsentrasi sehingga tidak fokus dalam menyelesaikan pekerjaannya. Contoh yang berbeda, misalnya “suasana di sekolah yang berbeda dengan suasana di rumah.

Anak kaget, karena mempunyai teman yang lebih berani, sehingga ketakutan dan kekhawatiran si anak membuatnya sulit untuk konsentrasi. Akibatnya, konsentrasi di kelas untuk menerima pelajaran menjadi berkurang.

Jadi, karena faktor psikologis anak yang disebabkan karena kurangnya kemampuan bersosialisasi bisa membuat anak menjadi kurang berkonsentrasi di sekolah.

c.       Internal

Faktor internal adalah faktor dari dalam diri sendiri. Dapat terjadi karena adanya gangguan perkembangan otak dan hormon yang dihasilkan lebih banyak sehingga anak cenderung menjadi hiperaktif. Jika anak lamban/lambat disebabkan karena hormon yang dihasilkan oleh neurotransmitter-nya kurang sehingga bisa mengakibatkan lambannya konsentrasi.

5.      Kurangnya interaksi antara guru dan siswa

Guru yang cenderung kaku dan kurang bersahabat dengan siswanya akan membuat hubungan terasa ada jarak. Sehingga jika terjadi kebingungan siswa terkadang malu dan takut untuk bertanya sehingga siswa menjadi pasif.

Solusi :

  1. Guru haruslah bersikap hangat terhadap siswanya dan lebih sering berinteraksi sehingga hubungan terasa lebih nyaman dan tidak membuat siswa takut bertanya dan memancing keaktifan siswa.
  2. Menjadikan guru benar-benar sebagai orangtua ke dua di sekolah.
  3. Guru harus mampu mengenali berbagai karakter siswanya sehingga mampu memberikan solusi atas apapun yang dialami oleh siswa. (red/Vivi Febiyanti (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa)