Tantangan Pendidikan Karakter Siswa SD di Era Industri

Kampus Kita

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Kemajuan teknologi saat ini menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dengan kita. Hal ini dikarenakan teknologi memudahkan kita untuk melakukan sesuatu hal.

Misalnya saja dulu orang berkomunikasi jarak jauh dengan menggunakan surat, kini sudah ada handphone dan berbagai jaringan media sosial.

Dulu orang berbelanja di pasar, tetapi kini sudah bisa belanja secara online. Bahkan untuk membeli makanan pun sudah bisa dipesan melalui aplikasi go food

Pesatnya kemajuan teknologi menjadikan era ini dikenal sebagi era industri 4.0. Kita tahu bahwa kemajuan teknologi saat ini berkembang dengan begitu cepat. Cepatnya teknologi bahkan merambah di dunia pendidikan.

Misalnya dulu pendidikan hanya menggunkan sistem tradisional, kini teknologi pendidikan harus serba siber.Misalnya siswa SD, yang dahulunya belajar hanya lewat penjelasan sekarang sudah menggunakan teknologi LCD dan menanyangkan video untuk pembuktiannya.

Pembelajaran dengan menggunakan LCD akan memudahkan mereka untuk belajar. Walaupun begitu, di era industri 4.0 ini juga memberikan dampak positif dan juga negatif dalam membentuk karakter anak.

Setiap tahunnya para ilmuwan menciptakan teknologi yang semakin canggih dan juga praktis.

Teknologi tersebut diciptakan untuk memudahkan manusia melakukan pembelajaran dengan lebih mudah.

Hampir semua pendidikan sudah berevolusi di dunia digital. Hanya tempat terpencil yang belum sepenuhnya terjangkau dengan teknologi. 

Ada beberapa dampak negatif dari perkembangan teknologi ini. Dampak negatif tersebut diantaranya adalah anak menjadi kehilangan jati diri atau kurang percaya diri.

Pada saat anak tersebut bersosialisasi lewat teknologi secara terus menerus dan membuat anak tersebut menjadi kurang percaya diri saat berhadapan langsung dengan orang lain, dan anak tersebut menjadi susah berbicara ketika berada di tempat umum, 

Sehingga anak tersebut menjadi kurang percaya dengan dirinya sendiri dan suka menyendiri atau lebih suka dengan tempat yang tidak ramai.

Akan tetapi di sisi lain teknologi juga memiliki dampak negatif lainnya yaitu dapat merusak moral anak dalam sikapnya, dikarenakan anak zaman sekarang sudah mengenal media sosial dan membuat anak menjadi kecanduan dalam menggunakan teknologi secara terus menerus karena mereka merasa bahwa teknologi sangat menarik untuk mereka pelajari. 

Anak menjadi kurang percaya diri dalam bersosial di masyarakat karena kuranganya komunikasi dengan orang di sekitarnya, membuat anak tidak bisa bersosial di lingkungannya karena anak setiap harinya hanya memegang handphone didalam rumah dan tidak mau keluar rumah untuk berosial dengan masyarakat, dan membuat sopan santun anak menjadi berkurang dan berani melawan orang tua karena pikiran anak sudah terpengaruh dengan bahasa orang dewasa sehingga anak tersebut menjadi ikut-ikut bergaya seperti orang dewasa, misalnya saja dalam pakaian yang kurang sopan atau kebarat-baratan.

Gaya bicara anak dengan orang yang lebih dewasa menjadi kurang sopan karena pengaruh dari teknologi yang membuat gaya bicara anak zaman sekarang kurang sopan dan kurang tepat, misalnya kamu menjadi elo dan aku menjadi gue.

Pengaruh teknologi yang digunakan tanpa pendamping orang dewasa maka banyak anak-anak yang terjerumus dalam media sosial, dengan begitu banyak anak-anak sekarang yang sudah tidak mengenal pendidikan atau karakter sopan santun dalam etikanya.

Melalui teknologi banyak anak zaman sekarang yang mendapatkan informasi dan berita yang tidak sesuai dengan usia anak-anak.

Banyak anak yang salah saat menggunakan teknologi dalam bermedia sosial karena mereka menggunakan teknologi yang kurang sesuai dengan usianya.

Ternyata teknologi memiliki dampak positif. Dampak positifnya  memudahkan peserta didik untuk mengerjakan tugas dalam pembelajarannya, para siswa hanya tinggal membuka google semua permasalahan dapat di cari lewat google, dengan begitu ilmu mereka dapat bertambah luas  melalui teknologi.

Maka dari itu mereka akan sangat mudah untuk melakukan pembelajaran, misalanya saja sekarang belajar sudah menggunakan LCD didalam kelas dan belajar juga sudah menggunakan handphone. Di sisi lain para peserta didik juga merasa tertantang dengan adanya teknologi yang membuat mereka menjadi lebih semangat untuk mempelajarinya.

Anak menjadi  tertarik untuk mempelajari teknologi, karena pada dasarnya usia anak di bawah 12 tahun  rasa ingin tahu masih tinggi apalagi di era 4.0 ini anak kecil sudah dikenalkan dengan handphone atau computer.  Sehingga anak menjadi tertarik untuk bisa menciptakan teknologi, jika rasa ingin tahunya sudah sudah terpenuhi dengan memakai teknologi secara terus menerus dan anak terbut sudah canggih dalam mengoperasikan teknologi maka anak tersebut rasa ingin mencoba untuk membuat teknologi muncul. 

Maraknya penggunaan teknologi yang semakin pesat dan semakin canggih, anak tersebut menjadi ketagihan dan tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri, akan tetapi hal tersebut dapat di cegahnya dengan cara membatasi anak dalam pemakain teknologi yang secara terus-menerus, dan anak perlu didampingi dengan orang tua atau orang dewasa saat main gadget supaya anak dapat di pantau dan selalu berada di zonanya, jika anak tidak di damping, anak pasti akan keluar dari zonanya karena anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tanpa melihat itu bagus untuk ditonton atau tidak, maka dari itu anak harus didampingi.

Sebaiknya gunakanlah teknologi sebaik mungkin dalam pembelajaran, karena teknologi itu juga penting akan tetapi ada batasannya dalam penggunaan yang tepat.

Jika peserta didik salah dalam menggunakan teknologi maka moral anak akan terancam dan membuat generasi penerus bangsa menjadi rusak karena salah penggunaan teknologi.

(Red/EVA SETYANINGRUMdari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta)