Besok,BPK Akan Bongkar Borok PT Asuransi Jiwasraya

Nusantara

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan mengumumkan pernyataan resmi terkait kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero) pada Rabu (8/1).

Ketua BPK Agung Firman Sampurna mengisyaratkan ada skandal besar dalam kasus gagal bayar yang melibatkan BUMN asuransi itu. “Semua terlibat, ini kompleks masalahnya.

Tidak seperti yang teman-teman (media) duga. Ini jauh lebih kompleks daripada yang teman-teman bisa bayangkan,” ujarnya, Senin (6/1).

BPK,sambung Agung, telah menggandeng Kejaksaan Agung dalam investigasi keuangan Jiwasraya, termasuk mengenai risk management (manajemen risiko).

“Jadi, Rabu (8/1) akan kami lakukan official announcement (pengumuman resmi), kami sudah berkomunikasi secara intensif dengan Jaksa Agung,” terang dia.

Dalam pengumuman tersebut, Agung menyebut BPK dan Kejagung akan mengungkap poin-poin penting. Namun, ia tidak merinci hal-hal yang akan dibeberkan BPK.

“Kita tunggu tanggal 8 Januari nanti. Kerugian negara kami hitung sebagai bagian dari proses investigasi,” imbuhnya.

Sebelumnya, BPK melalui Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I (IHPS) Tahun 2016 melansir bahwa pengelolaan dana investasi nasabah dan pengelola dana tidak menerapkan prinsip korporasi yang sehat. Praktik itu terjadi pada 2014-2015.

Investasi

Masalah lain yakni terkait pembayaran komisi jasa penutupan kepada pihak terjamin. Menurut BPK, pembayaran tersebut tidak sesuai dengan besaran komisi yang dimuat dalam perjanjian kerja sama.

Kemudian,pencatatan piutang pokok dan bunga gadai polis yang belum sesuai dengan nota dinas direksi Nomor 052.a.ND.K.0220066. Lalu, kekurangan penerimaan atas penetapan nilai premi yang harus dibayarkan oleh PT BSP.

Akibat ‘’dosa-dosa’’ tersebut, Jiwasraya gagal membayarkan klaim nasabahnya sebesar Rp 802 miliar pada Oktober 2018.

Selidik punya selidik, Kementerian BUMN mengungkapkan bahwa Jiwasraya banyak menempatkan dana investasi di saham-saham ‘’gorengan’’.

Kejaksaan Agung menyebut, 95 persen dana investasi asuransi Jiwasraya ditempatkan di saham ‘’sampah’’. Jaksa Agung ST Burhanuddin mengatakan total dana yang diinvestasikan di saham sampah tersebut mencapai Rp 5,7 triliun. Dana tersebut mencapai 22,4 persen dari total investasi Jiwasraya.

Tidak hanya itu, ia melanjutkan, 98 persen dari dana investasi di reksadana atau senilai Rp 14,9 triliun dititipkan pengelolaannya kepada perusahaanperusahaan manajemen investasi dengan kinerja buruk.

“Hanya 2 persen yang dikelola oleh perusahaan manajemen investasi dengan kinerja baik.” Burhanuddin menuturkan, ada potensi kerugian negara Rp 13,7 triliun dari penempatan investasi Jiwasraya.

“Angka ini perkiraan awal. Diduga akan lebih dari itu,” ujarnya. Kejagung telah mencekal 10 orang terkait pengusutan kasus tersebut, termasuk sejumlah pejabat teras Asuransi Jiwasraya. (Red)