BULLYING DI INDONESIA

Kampus Kita Nusantara

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Anak yang memakai seragam pendidikan merupakan sorotan bagi para masyarakat. Kita mengetahui bahwa baik buruknya anak yang berpendidikan akan di nilai oleh masyarakat, karena masyarakat memang mengamati anak yang memakai seragam pendidikan.

Banyak masyarakat yang menaruh hormat kepada anak yang memakai seragam karena di pandang kedudukan mereka di status sosial memang tinggi dengan alasan mereka di didik dan di latih dalam lingkup lembaga pendidikan.

Namun berbeda dengan sekarang ini, perilaku dan sikap anak kalangan remaja yang memakai seragam semakin bruntal karena mengikuti perkembangan zaman yang banyak memperlihatkan aksi anarkis yang ada di penjuru dunia hingga mempengaruhi anak untuk ingin ikut hadir menikmati perkembangan zaman.

Saat ini, banyak berita tentang kekerasan di seluruh media sosial dengan pelakunya sendiri merupakan anak yang memakai seragam dengan status pelajar. Penyelewengan dari sikap anak yang memakai seragam ini bukan hanya terjadi pada anak laki-laki, tetapi juga perempuan. Terduga, semua pelajar juga pasti pernah mengalami kekerasan. Ntah dia sebagai pelaku, maupun saksi atau bahkan korban. Kekerasan tersebut tak lain bernamakan kasus pencurian, seks bebas, tawuran, dan bullying. Bullying ini sendiri hadir sudah sejak tahun 1970 an  dan di hidupkan kembali saat ini oleh anak yang memakai seragam dengan gaya dan cara akibat pengaruh perkembangan zaman saat ini. 

Bullying merupakan  sikap yang di dapat dari orang lain (korban) atau di berikan oleh diri sendiri (tersangka) berupa kekerasan. Kekerasan yang di maksud tidak hanya fisik  tetapi juga verbal. apabila bully yang di lakukan oleh tersangka sangat berlebihan maka akan memberikan dampak yang sangat mengkhawatirkan bagi korban.

Karakteristik sikap bullying merupakan :

  1. Tindakan yang di lakukan secara fisik yaitu : pemukulan, tendangan mencekik, mendorong, menjambak, menampar dan memalak.
  2. Tindakan yang di lakukan secara verbal yaitu : mengejek, mengancam, mengolok-ngolok, mengucilkan, jahil, dan menyebarkan isu buruk.  
  3. Secara sosial : mengabaikan, menguilkan, dan lain-lain. 

Bullying memberikan dampak serius bagi anak yang di bully, tidak hanya luka fisik pada anak tetapi juga menyangkut pada psikologis si korban. Bullying sering kali terjadi sebagai perilaku kekerasan terhadap seseorang atau kelompok yang “pendiam,lemah” oleh sekelompok orang yang “gaul,kuat”. 

Pengaruh bullying terhadap si korban merupakan :

  1. Korban akan stress/depresi karena tekanan batin dari pengaruh bullying.
  2. Minder/tidak percaya diri
  3. Korban akan sering menyendiri
  4. Terisolasi dalam pergaulan.
  5. korban terfikir untuk bunuh diri.

Biasanya, karakteristik pelaku bully merupakan pengalaman dari apa yang pernah ia dapat. Sebut saja balas dendam. Pelaku biasanya juga merupakan korban. Maksudnya adalah Korban bully biasanya memiliki karakteristik yang bukan  tipe kuat, rendah hati, mudah takut, dari situ anak menjadi korban bully yang akhirnya ia balas dendam menjadi pelaku bully.

Bullying di lakukan ketika guru dan orang dewasa lainnya tidak mengawasi kegiatan anak. Bullying umumnya di lakukan di sekitar area parkiran, toilet, belakang kelas, bahkan di jalanan tempat anak menunggu jemputan orang tua.

Untuk itu orang tua juga perlu dalam mengawasi anak, dengan cara mengenali gejala-gejala awal anak mengalami korban bullying yaitu :

  1. terlihat ketakutan untuk berangkat sekolah
  2. tidak ada semangat untuk belajar
  3. barang yang di miliki mulai tak terurus bahkan hilang
  4. sering mengigau ketika tidur
  5. memiliki luka pada fisik anak, berupa goresa, memar,atau luka.

Orang tua yang mengetahui perubahan anak seharusnya melakukan tindakan :

  1. mengetahui  jelas dengan bertanya secara baik-baik kepada anak tentang hal yang di duga merupakan korban bullying
  2. memberitahu kepada orang tua si pelaku bully
  3. selesaikan masalah secara baik-baik atau dengan cara pertemukan (korban dan pelaku) di depan orang tua si pelaku.
  4. Mengingatkan sekolah tentang masalah seperti ini.
  5. Datangi konselor profesional untuk ikut membantu mengatasi masalah yang di hadapi. (Red/Deni Rianuarti096  UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA )