Dirjen Perhubungan Darat Terapkan Jembatan Timbang Online

Nusantara

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan tahun ini akan mengadakan integrasi sistem Jembatan Timbang Online (JTO) dengan sistem Bukti Lulus Uji Elektronik (BLUE).

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi, kepada wartawan memaparkan tahun 2018 pihaknya telah melakukan sistem e-Tilang bagti kendaraan angkutan barang.

“Sekarang ini belum semua Jembatan Timbang (JT) menggunakan e-Tilang tapi secara bertahap akan kami lengkapi semua JT dengan sistem e-Tilang untuk menghilangkan potensi hubungan langsung antara pihak pengemudi dengan para petugas,” kata Dirjen.

Dengan demikian, bila ada pelanggaran yang sudah tercatat di sistem selanjutnya diinformasikan kepada pengemudi berapa kelebihannya, pengemudi akan langsung membayar ke bank atau melalui mesin EDC yang ada di masing-masing Jembatan Timbang.

Jembatan Timbang Online (JTO) ini nantinya akan mengandung beberapa unsur yaitu, Traffic Counting, untuk menghitung jumlah kendaraan keluar dan masuk lalu Sensor Dimensi untuk mengukur dimensi truk, kemudianTruck detector untuk mengetahui isi muatan truk.

“Jadi (dengan traffic counting) kita akan melakukan penghitungan berapa kendaraan masuk dan tidak masuk. Kalau truk tidak masuk dan ada potensi pelanggaran saya sudah koordinasi dengan kepolisian,” cerita Budi.

Menurutnya, menempatkan petugas pada mulut-mulut jalan sebelum JT terutama pada malam hari dirasa berbahaya. Sehingga pihaknya akan menggunakan sensor otomatis mencatat kendaraan yang masuk beserta nomor polisinya dan diserahkan pada polisi.

Selain itu dengan pemasangan alat pencatatan Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) pada akses jalan dari dan menuju Jembatan Timbang di 18 jembatan timbang diharapkan berfungsi untuk pendataan angkutan barang yang masuk dan tidak masuk jembatan timbang melalui pengambilan gambar nomor registrasi kendaraan oleh kamera secara langsung yang kemudian data tersebut akan terintegrasi dengan data-data yang ada di Jembatan Timbang Online (JTO).

Untuk angkutan barang yang tidak melakukan penimbangan (tidak masuk ke dalam UPPKB) integrasi data tersebut akan langsung terkirim kepada Kepolisian terdekat untuk proses penegakan hukum.

Sementara itu dengan sensor dimensi yang ada, menurutnya akan mempermudah petugas di lapangan serta hasilnya lebih akurat.

Sebelumnya kita melakukan pengukuran dimensi dengan manual jadi kalau kasat mata terlihat ada pelanggaran dimensi maka petugas akan mengukur. Kemudian akan kita beri tanda untuk potong dan beri peringatan, barulah setelah diberi batasan waktu 3 bulan harus dipotong.

Tapi, nampaknya punya kelemahan karena ini kerja manual ganti dengan sensor dimensi yang akan mencatat secara otomatis berapa panjang truknya, berapa kelebihan lebarnya, juga tingginya.

“Untuk Truck Detector, jadi nanti dengan bantuan alat tersebut kita akan mendeteksi di dalam kendaraan mengangkut barang-barang apa saja. Saya sudah mencatat selama 13 hari (19-22 Juli) pada 21 JT yang ada pelanggaran yang tercatat di kita 9.225 dari total 11.379 kendaraan yang masuk ke UPPKB atau sebesar 81 persen,” tambah Dirjen Budi.

Pengembangan sistem Jembatan Timbang Online (JTO) yang terintegrasi dengan sistem bukti lulus uji elektronik (BLUE), serta sistem izin operasional angkutan barang nantinya akan diterapkan di 73 Jembatan Timbang yang terdiri dari 22 Jembatan Timbang eksisting dan 51 Jembatan Timbang baru.

Dirjen Budi juga menjelaskan tujuan dan manfaat sistem yang terintegrasi ini yaitu untuk mempercepat proses penimbangan, karena tidak perlu menginput data identitas kendaraan, dengan integrasi sistem JTO dan sistem BLUE, data kendaraan tidak perlu diinput lagi cukup dengan membaca code dari SMART CARD atau QR Code.

Sistem BLUE dengan output SMART CARD, Sertifikat Lulus Uji, dan Sticker Hologram datanya akan dapat terintegrasi dengan sistem JTO sehingga diharapkan dapat membantu dalam pengawasan dan penindakan pelanggaran angkutan barang.9red)