Karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan Tetap Bekerja Optimal Selama WFH

Bogor Now Kampus Kita Nusantara

KORANBOGOR.com,BOGOR- Karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan) tetap bekerja optimal selama Work From Home (WFH) pernyataan ini disampaikan oleh Nurhadi Widodo, Human Capital DD Pendidikan, dalam keterangan tertulis yang dikirim kepada redaksi pada Kamis (9/4).

Menurut Dodo, panggilan akrab pria asal Pacitan Jawa Timur ini, kebijakan WFH dilakukan guna mensiasati kondisi darurat kesiapsiagaan Covid-19.

“Ketentuan ini bertujuan  memastikan bahwa pekerjaan tetap dapat berjalan dengan baik. Kebijakan ini sudah berjalan selama tiga pekan di DD Pendidikan. Banyak pelajaran yang bisa diambil ketika WFH,” kata alumni kampus ITS Surabaya ini.

“WFH tidak berlaku untuk semua karyawan. Ada posisi-posisi tertentu yang tetap masuk seperti departemen General Affair, security, pantry, gardener. Selain itu wali asrama SMART juga tetap masuk dibantu guru piket,” tambahnya.

Sementara itu terkait standar serta kualitas kegiatan program selama WFH berlangsung, Eko Sriyanto, Manajer Makmal Pendidikan, menyatakan program masih bisa tetap dijaga kualitasnya.

“Kebijakan WFH tidak berpengaruh banyak pada ritme kerja dari program DD Pendidikan, kecuali pada proses pelayanan langsung.

Selama ini pengelolaan program juga sudah menerapkan metode remote working. Sebaran program yang berada hampir di seluruh wilayah Indonesia membuat kami bekerja secara remote.

Beberapa aktivitas hanya berubah bentuknya dari luring (offline) menjadi daring (online), contohnya seleksi beasiswa dan monitoring-evaluasi (monev) program.

Jika selama ini seleksi dilakukan dengan tatap muka langsung kini dilakukan secara daring. Perubahan ini insyaAllah tidak mengurangi kualitas seleksi,” jelasnya.

Kebijakan WFH sedikit mengubah ritme REMO, Departemen Strategic Partnership yang setiap harinya banyak berinteraksi dengan mitra dan donatur. 

“Beberapa program yang telah disusun sejak awal tahun terpaksa digeser waktu pelaksanaanya. Bahkan beberapa target terpaksa diubah agar tujuan tetap tercapai,” jelas Tri Dimas Arjuna, Supervisor REMO.

“Kegiatan kami yang memang berinteraksi langsung dengan stakeholder sedikit berkurang akibat kebijakan WFH di banyak perusahaan.

Praktis kami banyak berkomunikasi dengan mitra melalui media kirim pesan. Kami berharap dan berdoa agar wabah ini lekas berakhir dan kita semua bisa beraktivitas secara normal kembali,” harap Dimas. 

Menelisik awal mula WFH yang lebih dulu dikenal dengan model kerja remote working sudah ada sejak tahun 1970-an.

Ide remote working dicetuskan oleg Jack Nilles, Direktur Divisi Penelitian Interdisipliner di University of Southern California pada 1973 silam. Awalnya diberi nama telecommuting, kemudian berubah menjadi teleworking yang mengedepankan fleksibilitas kerja.

Sederhananya, karyawan tak perlu pergi ke kantor karena segala hal dapat dilakukan lewat bantuan teknologi contohnya 2000-an karyawan IBM sudah bekerja secara teleworking. 

Secara umum WFH di beberapa perusahaan dan bagian tertentu tidak menjadi halangan dan lebih memudahkan pekerjaan. (AE)