Kontras Desak Polres Aceh Barat Cabut Status Tersangka Wartawan LKBN Antara

Nusantara

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Penetapan tersangka terhadap jurnalis LKBN Antara di Aceh Barat, Teuku Dedi Iskandar oleh Polres Aceh Barat mendapat sorotan. Amnesty International Indonesia, dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) sangat menyesalkan tindakan kepolisian Aceh Barat itu.

Dedi merupakan korban pengeroyokan yang dilakukan lebih dari dua orang hingga harus mendapat perawatan beberapa hari di rumah sakit. Namun, polisi malah menetapkan Dedi sebagai tersangka penganiayaan terhadap orang yang mengeroyoknya.

“Langkah kepolisian yang menetapkan Dedi sebagai tersangka sangat kami sayangkan,” kata Direktur Eksekutif Amnesty International, Usman Hamid, di Jakarta Minggu (23/2/2020).

Ditegaskan Usman Hamid, kekerasan terhadap jurnalis yang sedang bertugas tidak bisa dibenarkan. Kerja para jurnalis dilindungi oleh hukum internasional HAM termasuk hukum nasional seperti UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, baik dalam mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan informasi.

Bahkan siapa saja menghambat tugas jurnalistik bisa terancam pidana. “Jadi, penetapan tersangka terhadap Dedi menunjukkan minimnya jaminan kebebasan berekspresi dan kemerdekaan pers,” tegas Usman.

Sementara itu, Koordinator Kontras Yati Andriyani meminta polisi bisa lebih jeli dalam menilai mana yang pelaku penganiayaan dan mana yang merupakan membela diri.

Apalagi pelaku pengeroyokan terhadap Dedi diketahui sebelumnya pernah terlibat kasus pengancaman seorang jurnalis lainnya terkait kasus di mana Dedi ikut memberitakan.

Pihaknya mendesak kepolisian mencabut status tersangka terhadap Dedi dan menyelidiki kasus ini secara tuntas dan seadil-adilnya.

“Jangan sampai ada dugaan penetapan tersangka dan pengeroyokan terhadap Dedi karena sikap anti kritik terhadap pemberitaan yang dilakukannya,” kata Yati.

Sebagaimana diberitakan, Polres Aceh Barat pekan lalu menetapkan Teuku Dedi Iskandar sebagai tersangka kasus penganiayaan di Meulaboh. Dia dituduh melanggar Pasal 351 Jo 352 KUHP tentang penganiayaan.

Polisi menetapkan Dedi sebagai tersangka berdasarkan laporan seorang pelaku pengeroyok yang menganiaya Dedi.

Saat kejadian, Senin, 20 Januari 2020, Dedi sedang nongkrong di sebuah warung kopi di Meulaboh bersama Kabag Humas Polres Aceh Barat untuk meminta klarifikasi terkait kasus kekerasan terhadap jurnalis lainnya.

Tiba-tiba Dedi yang juga Ketua PWI Aceh Barat itu didatangi seorang rekannya yang membawa sekitar lima orang. Rekan Dedi tersebut memanggil Dedi ke belakang warung dan menyuruh Dedi menandatangani kuitansi utang.

Merasa tidak memiliki utang, Dedi pun menolak sehingga terjadi keributan dan Dedi dikeroyok sekitar lima orang.

Akibat pengeroyokan itu, Dedi mengalami sesak napas akibat benturan di bagian dada, dan luka di tangan, serta harus diopname beberapa hari di RSUD Cut Nyak Dhien, Meulaboh.

Anehnya, pada 20 Februari 2020, pihak Polres Aceh Barat memanggil Dedi untuk didengarkan keterangannya sebagai tersangka kasus penganiayaan itu. (Red)