Pasar Imlek Semawis2020 ,Sarana Berkumpul Tanpa Sekat

Nusantara Wisata

KORANBOGOR.com,SEMARANG-Pasar Imlek Semawis (PIS) 2020 resmi dibuka dengan Wayang Potehi sebagai tema acara. Pertunjukan wayang potehi oleh dalang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, digelar setiap hari selama acara berlangsung, Jumat-Minggu (17-19/1).

Kegiatan untuk menyambut Tahun Baru Imlek ini diadakan di sepanjang ruas Jalan Gang Pinggir sampai Jalan Wotgandul Timur, Pecinan, Semarang. Sejak 2005, kali pertama digelar, PIS dikonsep supaya mudah dikunjungi masyarakat dari berbagai kalangan, daerah, dan etnis.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, PIS adalah acara yang selalu ditanyakan dan ditunggu. Dihadiri banyak orang dari luar Semarang.

”Orang berburu makanan enak di sini (PIS). Kami dorong dan terus tata daerah ini. Agar menjadi acara yang ditunggu di seluruh Indonesia, bahkan dunia,” kata Ganjar.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu mengapresiasi Wayang Potehi sebagai tema acara. Warisan budaya tersebut, menurutnya, perlu dilestarikan.

Hevearita menjelaskan, ada empat kawasan yang disebut Semarang Lama. Terdiri atas, Kota Lama, Melayu, Kauman, dan Pecinan. “Kota Lama sudah direvitalisasi. Saat ini Pemerintah Kota Semarang menggarap tiga kawasan lainnya. Akan direvitalisasi juga. Empat kawasan yang harus dipertahankan,” ucapnya.

Ketua Komunitas Pecinan Semarang Untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Harjanto Halim atau Liem Tun Hian mengatakan, PIS kali ini merupakan pergelaran ke-17. PIS menjadi sarana untuk berkumpul warga tanpa sekat, dari berbagai etnis, agama, suku, golongan.

”Wayang Potehi adalah kearifan lokal yang terselip. Harus dijaga dan dirawat. Berisi wejangan baik. Wujud keberagaman. Perbedaan adalah kembang persatuan,” tutur Harjanto.

Saat ini, kata dia, pementasan Wayang Potehi tidak hanya berbahasa Hokkian. Melainkan berbahasa Jawa dan Indonesia. Kini dalangnya banyak dari etnis Jawa. Kopi Semawis sebagai penggelar acara, menggelar bazar yang diikuti oleh Usaha Mikro Kecil Menengah, talkshow, workshop, atraksi kebudayaan.

Diskusi

Wayang Potehi yang saat ini nasibnya tidak menentu, dibahas dalam diskusi. Didatangkan enam narasumber dari dalang wayang potehi, akademisi, dan budayawan.

Diangkat sebagai tema, untuk memantik pemerhati serta pelaku seni dan budaya membantu mengembangkan seni wayang khas itu. Salah satunya inisiatif dari pengelola rumah ibadah untuk menanggap Wayang Potehi saat ada acara.

Ketua Harian Perserikatan Organisasi Tionghoa, Setiawan Santoso menerangkan, Imlek adalah perayaan menyambut musim semi. Imlek diyakini membawa banyak keberuntungan, rezeki, dan harapan.

”Dirayakan sejak ribuan tahun lalu. Sekarang dirayakan di mancanegara. Kita merayakan agar dapat melestarikan budaya dan mewarisi adat nenek moyang,” bebernya.

Imlek, ujar Setiawan, memberi pesan bahwa manusia harus menjadi seorang yang jujur, bijak, arif, mengabdi kepada orang tua, dan loyal terhadap keluarga.(Red)