Pengamat Nilai Muhammadiyah & NU Bukan Kaleng-Kaleng, Tolak Mendikbud Nadiem

Berita Nusantara

KORANBOGOR.com, JAKARTA, — Pemerhati Kebijakan Publik, Rinaldi Rais, mengapresiasi penolakan Ormas Kebangsaan Sekelas Muhammadiyah & Lembaga Pendidikan Ma’arif NU terhadap kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim.

“Muhammadiyah & NU bukan Ormas kaleng-kaleng dalam dunia pendidikan, dan selalu mendukung kebijakan pemerintah. Namun, kalau sampai ada penolakan terhadap sebuah kebijakan kementerian, boleh dipastikan ada yang salah dalam kebijakan tersebut,” ujarnya, yang juga praktisi hukum itu, Minggu (26.7/20).

Pengamat Rinaldi Rais meyakini kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim terkait program organisasi penggerak pendidikan bukan sekadar bantuan sosial melainkan sebuah kebutuhan pembentukan karakter anak bangsa dilandasi ideologi Pancasila dan UUD 1945 asli.

“Jadi, sikap penolakan Muhammadiyah & NU adalah sebuah protes rasa nasionalisme anak bangsa yang peduli nasib bangsa & negara Republik Indonesia. Bukan sekadar membebek karena tergiur insentif sesaat,” ujar Rinaldi.

Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pengurus Pusat Muhammadiyah, dan Lembaga Pendidikan Maarif NU diketuai Arifin Junaidi, menyatakan mundur & minta evaluasi program organisasi penggerak yang diinisiasi Mendikbud Nadiem Makarim.

Disusul hasil seleksi POP itu, yang mengalokasikan 20% dana pendidikan senilai Rp 508 trilyun dari APBN 2020 sebesar 2.231,2 trilyun, di antaranya diberikan ke Yayasan Putera Sampoerna & Yayasan Bhakti Tanoto Foundation masing-masing Rp 20 milyar. Kategori hibah dana Rp 20 milyar sekelas gajah, Rp 5 milyar kategori macan, dan kijang sampai Rp 1 milyar.

Penyaji : Ikhsan