Penilaian Bappenas : Semarang 10 Kota Terbaik

Nusantara

KORANBOGOR.com,SEMARANG–Meski nilai APBD tidak besar, bukan menjadi penghalang bagi kota Semarang untuk gencar melakukan pembangunan infrastruktur.

Contohnya Kota Semarang yang APBD nya tidak sebesar ibu kota provinsi lainnya. Namun, Kota Lunpia ini justru masuk 10 besar Kota Pembangunan Terbaik se Indonesia.

Pembangunan infrastruktur yang dilakukan beberapa tahun terakhir, membawa Kota Semarang masuk 10 besar kota pembangunan terbaik. Ketetapan ini setelah Tim Penilai Pembangunan Daerah (PPD) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) singgah ke Kota Semarang, kemarin.

‘’Kami di Kota Semarang untuk melakukan verifikasi serta kunjungan lapangan. Iini merupakan tahapan penilaian ke – 5, dan Kota Semarang telah berhasil masuk di 10 besar,’’ ungkap perwakilan Bappenas, Agustin Arry Yanna, di Balai Kota Semarang, kemarin.

Hasil penilaian Tim PPD Bappenas, menetapkan Kota Semarang sebagai satu dari 10 Kota dengan pembangunan daerah terbaik di Indonesia. Penailaian meliputi, detail mengamati proses perencanaan pembangunan hingga inovasi yang dilakukan. ‘’Tim penilai ini berasal dari lintas sektoral yang sangat independen. Sehingga kredibilitasnya bisa dipertanggungjawabkan,’’ tambahnya.

Nantinya dari 10 kota yang sudah ditetapkan sebagai daerah dengan pembangunan terbaik di Indonesia, akan diurutkan secara peringkat hingga mendapatkan yang terbaik. Kota Semarang sendiri bersaing dengan kota-kota lainnya di Indonesia, antara lain Kota Makassar, Kota Yogyakarta, dan Kota Denpasar. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi pun bangga, karena Kota Semarang masuk 10 kota dengan pembangunan daerah terbaik di Indonesia.

Pasalnya, Wali Kota Semarang yang juga akrab disapa Hendi tersebut mengakui jika Kota Semarang tak memiliki anggaran pembangunan daerah sebesar kotakota besar lainnya di Indonesia.

“Saya meyakini keberhasilan ini merupakan buah dari konsep pembangunan bergerak bersama. Setiap elemen di Kota Semarang memiliki andil besar dalam pembangunan saat ini,” pungkas Hendi.

Hendi bercerita, guna melalui percepatan pembangunan, pada 2013 dirinya mendorong dan memastikan sistem Smart City berjalan dengan baik. Ini agar pelayanan kepada masyarakat lebih maksimal.

Kemduian proses pembangunan yang lebih cepat, responsif, transparan dan bersih. ‘’Sebagai upaya optimalisasi dan percepatan pembangunan, kami canangkan Smart City pada 2013.

Kami tidak punya anggaran untuk itu, maka kami gandeng sektor privat dalam penyediaan jaringan internet yang merata, sebagai dasarnya,’’paparnya.

Hendi juga menguraikan jika peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Semarang juga merupaka bukti jika konsep pembangunan Bergerak Bersama berjalan dengan baik.

Tercatat pada 2012, PAD Kota Semarang hanya sebesar Rp 779 Miliar, yang kemudian pada tahun 2018 meningkat pesat menjadi Rp 2,1 triliun. Dibandingkan dengan Kota Surabaya pada 2018 memiliki APBD sebesar Rp 9,1 triliun. Atau Kota Makassar sebesar Rp 4,1 triliun, dan Kota Bandung sebesar Rp 6,6 triliun dan Kota Bali sebesar Rp 5,9 triliun. ‘

’Jadi anggaran kami tidak besar, tapi bukan menjadi alasan pembangunan tidak bisa berjalan. Kami ajak seluruh pihak untuk bergerak bersama,’’ tandas Hendi. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.