Sekjen Suhanto Apresiasi Ekspor Bawang Goreng Atasi Perlambatan Ekonomi

Nusantara

KORANBOGOR.com, JAKARTA, – Sekjen Kementerian Perdagangan, Suhanto, mengapresiasi pelaku usaha bawang merah di Sumatera Utara yang mampu menembus ekspor bawang goreng ke Malaysia di tengah pandemi Covid19.

“Mudah-mudahan ekspor perdana ini bisa dilanjutkan daerah-daerah lain, sekaligus cara terobosan memulihkan perlambatan ekonomi nasional yang terdampak pandemi,” ujar Sekjen Suhanto usai mendampingi Mendag Agus Suparmanto di kantornya, Selasa kemarin (25.8/20).

Sementara Mendag Agus Suparmanto mengisyaratkan ekspor non-migas perdana bawang merah goreng itu sekaligus merupakan wujud konkret pemerintah bersama para pelaku bisnis untuk terus berupaya menjaga neraca perdagangan.

“Pelepasan ekspor bawang merah goreng itu menjadi momentum pelaku bisnis terus berinovasi menciptakan produk-produk bernilai tambah, dan memanfaatkan peluang pasar yang ada, agar bisa bersaing di dalam maupun luar negeri,” ujarnya usai mengunci kontener berisi kemasan 20 ton bawang merah goreng sebagai simbolis ekspor perdana ke Malaysia dari Medan, Sumatera Utara, yang mampu berproduksi 120 ton/hari di Kemendag.

Sejak 2017, Indonesia berswasembada bawang merah dengan tren ekspor meningkat rata-rata 39,38 persen selama periode 2015-2019.

Sentra produksi bawang merah nasional sebagian besar di Pulau Jawa, seperti Jawa Tengah berkontribusi terhadap produksi nasional sebesar 30,49 persen, Jawa Timur (25,81%), Jawa Barat (10,98%); serta Nusa Tenggara Barat (11,91%), Sumatra Barat (7,75%), Sulawesi Selatan (6,44%), dan Sumatra Utara (1,14 persen).

Neraca Defisit
Sementara Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan Tiongkok mengalami defisit sebesar US$ 5,31 miliar atau sekitar Rp 77,767 trilyun dengan kurs Rp 14.760/US$ selama semester I-2020.

Selain dengan Australia sebesar US$ 874 juta atau sekitar Rp 12,800 trilyun, dan Thailand US$ 1,4 miliar atau Rp 20,503 trilyun.

“Sebaliknya, neraca perdagangan non migas Indonesia dengan Amerika Serikat mengalami surplus sebesar US$ 4,76 miliar atau sekitar Rp 69,712 triliun,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto, di Jakarta, Rabu (15/7).

Selain surplus dengan India sebesar US$ 3 miliar (Rp 43,936 triliun), disusul Belanda US$ 1,05 miliar (Rp 15,377 triliun).
Suhariyanto mengatakan, meski neraca perdagangan mengalami defisit, Tiongkok masih menjadi pangsa ekspor non migas terbesar Indonesia, disusul Amerika Serikat (AS).

Hal itu, cukup menggembirakan di tengah pandemi virus corona.

Hari itu juga, Mendag Agus mengapresiasi kinerja Polri Cq Satgas Pangan dengan memberikan piagam penghargaan mulai Kabareskrim Komjen Listyo Sigit mewakili Kapolri Jenderal Idham Aziz, Kasatgas Pangan Irjen Daniel Tahu Monang Silitonga, Dirjen PKTN Kemendag, Veri Anggrijono & Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kasan.

Penyaji : Iksan