Sudah Tak Ada Lagi Tradisi Buruk Di Akademi Kepolisian

Nusantara

KORANBOGOR.com,SEMARANG-Akademi Kepolisian (Akpol) sudah menghapus tradisitradisi buruk, baik yang menyangkut kekerasan maupun sikap senior dan junior yang tidak baik.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri Komisaris Jenderal Arief Sulistyanto seusai memimpin upacara serah terima jabatan Gubernur Akpol dari Inspektur Jenderal Achmat Juri diserahkan kepada Inspektur Jenderal Fiandar yang sebelumnya menjabat sebagai Karobindiklat Lemdiklat Polri.

“Semua praktik-praktik pembodohan, tindakan yang mengarah kepada kekerasan sudah saya hilangkan. Gubernur Akpol yang baru diharapkan akan terus melanjutkan itu.

Ini tidak hanya di Akpol saja, tapi juga di semua lembaga pendidikan Polri, apakah itu Tamtama, Bintara, Akademi Kepolisian, pendidikan perwira,” ungkap jenderal bintang tiga tersebut.

Para taruna dan taruni Akpol lebih diarahkan kepada kegiatan-kegiatan orentasi yang humanis, yang membangun integritas merek, membangun rasa solidaritas dan soliditas mereka.

“Bukan lagi caranya diguling-guling, tidak lagi caranya diperlakukan yang tidak sesuai dan sebagainya. Itu sudah tidak zamannya lagi,” ujarnya. Kalau nantinya masih ada yang melakukan hal tersebut, lanjut dia, pihaknya tidak segan-segan memberikan sanksi sesuai dengan aturan berlaku.

“Tindakan kekerasan di lembaga pendidikan memang harus dihilangkan. Bukan cara itu (kekerasan) untuk mendidik disiplin, tetapi lebih mengarah bagaimana menyadarkan mereka. Hubungan antara senior dan junior pun terus dalam budaya yang egaliter (sama), tapi tetap memberikan rasa hormat, rasa segan terhadap senior.

Rasa hormat dan segan itu tidak harus dengan kekerasan,” jelasnya. Arief menambahkan, pada intinya Akpol harus mengubah paradigma lama dalam pendidikan dan latihan Polri.

Yakni paradigma formalistik yang hanya mengejar aspek formal administratif, berdasarkan rutinitas atau kebiasaan, hanya mengejar status dan bersifat artifisial yang terbukti telah menyebabkan degradasi nilai dan kualitas profesionalitas Polri.

Perwira Profesional

Proses pendidikan yang buruk telah menumbuhsuburkan tradisi-tradisi perilaku negatif yang mengkooptasi kultur ideal lembaga pendidikan. Hal ini menimbulkan deviasi atau penyimpangan sikap yang cukup jauh dari misi mulianya dalam menghasilkan peserta didik yang unggul dan kompetitif.

“Di dalam lembaga pendidikan, untuk menghasilkan SDM yang unggul maka kita harus menerapkan paradigma yang juga berorientasi pada proses,” ungkapnya.

Konten atau muatan materi dan nilai-nilai profesionalitas dan etika, lanjut dia, harus diinternalisasikan secara efektif dan intensif agar bisa dipahami dan dikuasai untuk dipraktikkan dengan terampil oleh peserta didik, dalam pelaksanaan tugasnya kelak.

“Sistem yang telah ada harus terus disempurnakan untuk mengikuti perkembangan masyarakat dan harus diterapkan secara konsisten karena sebaik apapun sistem itu, kalau pelaksana sistem masih berupaya untuk menyimpang dan mengakalinya, maka sampai kapanpun tidak akan bisa mencapai hasil yang baik,” ungkapnya. Dia berharap Gubernur Akpol yang baru, benar-benar menjalankan amanah dengan baik.

Fiandar dengan latar belakang jabatan sebelumnya sebagai Karobindiklat Lemdiklat Polri, diharapkan mampu memberikan yang terbaik guna mendukung terwujudnya pembentukan calon-calon pemimpin dan perwira Polri masa depan yang unggul, kompetitif, dan berintegritas.

“Didiklah para taruna menjadi perwira yang profesional dan berintegritas yang mampu memilih dan membedakan baik buruk, benar salah, dan haram halal. Mereka harus bisa menjadi pemimpin yang berani memutuskan dengan benar, baik, dan halal.

Jangan biarkan mereka menjadi perwira Polri yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan,” ujarnya.

Adapun, lanjut dia, karakter pemimpin yang amanah serta berani bertanggung jawab harus ditanamkan.

“Inilah tugas kita bersama untuk menjamin tegaknya Tri Brata dan Catur Prasetya di tengah perubahan yang sangat cepat ini,” jelasnya.

Sementara itu Inspektur Jenderal Fiandar mengatakan, dalam kepimpinannnya nanti akan lebih menajamkan vokasi atau kesiapan polisi-polisi muda untuk tangguh saat menjalan tugas.

“Pak Presiden sudah menyampaikan kepada kita bahwa pendidikan di Indonesia ini harus siap kerja, vokasi ya. Jadi menajamkan vokasi, kesiapan polisi-polisi muda ini nanti di lapangan, itu saja,” ungkap Fiandar. (Red)